Kritik dan Pujian untuk Bobby Nasution Saat Debat Pilkada Medan
Ridha menyerang kinerja Bobby sebagai Wali Kota Medan. Hidayatullah dan Rico tampak bimbang dalam memuji Bobby.

Tiga pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Medan, yakni Rico Waas-Zakiyuddin Harahap, Ridha Dharmajaya-Abdul Rani, dan Hidayatullah-Yasyir Ridho, mengikut debat publik pertama, di Medan, Sumatera Utara, Jumat (8/11/2024).
Pemilihan kepala daerah di Kota Medan, Sumatera Utara, tak bisa lepas dari pertarungan politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dengan kekuatan politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Dalam debat pertama pasangan calon wali kota dan wali kota Medan, nama Bobby Nasution yang merupakan menantu Jokowi pun ikut disebut-sebut.
Seperti diketahui, Bobby merupakan Wali Kota Medan yang menjabat sejak tahun 2021. Suami dari Kahiyang Ayu yang merupakan putri Jokowi itu kini maju sebagai calon gubernur Sumut sehingga harus cuti dari jabatannya sebagai wali kota.

Baca Berita Seputar Pilkada 2024
Dalam debat Pilkada Medan, Jumat (8/11/2024), pasangan calon (paslon) yang diusung PDI-P, Ridha Dharmajaya-Abdul Rani, mengkritik kinerja Bobby Nasution sebagai Wali Kota Medan.
Sebaliknya, dua paslon lain, yakni Rico Waas-Zakiyuddin Harahap dan Hidayatullah-Yasyir Ridho, memuji kepemimpinan Bobby yang dinilai sukses di Medan. Keduanya juga mengatakan akan melanjutkan program kerja Bobby.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F11%2F01%2F8e0b82b2-3c95-433a-8efc-ee55842d523b_jpg.jpg)
Lanskap jantung Kota Medan di sekitar Jalan Balai Kota, Jumat (1/11/2024). Ekonomi Medan terus bertumbuh sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia.
Pada segmen penyampaian visi-misi, Ridha menyatakan, warga Medan menderita karena banjir yang semakin parah. Setiap kali hujan, ibu kota Sumut itu langsung dilanda banjir. Kemacetan lalu lintas juga semakin parah. Ridha pun menyindir Bobby yang ingin maju dalam Pilkada Sumut.
”Lalu Medan ditinggal pemimpinnya yang ingin mencari kekuasaan yang lebih besar,” kata Ridha yang merupakan Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara itu.
Sementara itu, Hidayatullah yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tampak berhati-hati saat mengangkat isu kemiskinan dalam penyampaian visi-misinya. Dia lebih dulu mengatakan Medan adalah kota yang kaya.
Dia pun memuji kepemimpinan Wali Kota Medan sebelumnya karena mampu membawa Medan mencapai produk domestik regional bruto (PDRB) hingga Rp 303 triliun per tahun.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F10%2F06%2Fcb688559-790f-41d3-8174-43e8c85b124e_jpg.jpg)
Air mengalir di Sungai Selayang yang kerap meluap dan menyebabkan banjir saat hujan turun di Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat (6/10/2023). Pemerintah Kota Medan membangun kolam retensi untuk menampung sebagian debit sungai itu dan mengurangi banjir di tujuh titik.
”Rata-rata pendapatan orang Medan Rp 120 juta per tahun atau Rp 10 juta per bulan. Kita layak berterima kasih kepada pemimpin kota terdahulu dan warga Kota Medan yang telah bekerja keras,” kata Hidayatullah yang merupakan mantan anggota DPR RI itu.
Namun, Hidayatullah juga menyebut tidak ada sesuatu yang sempurna. Di tengah sejumlah kelebihan, Medan masih memiliki masalah terkait kemiskinan karena 187.000 warganya tergolong miskin. Menurut dia, tidak mungkin Medan bisa maju dan sejahtera jika jumlah penduduk miskinnya sangat besar.
Baca juga: Survei Litbang ”Kompas” Pilkada Sumut: Penyebab Rendahnya Loyalitas Pemilih PDI-P
Sementara itu, Rico yang diusung oleh Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa, Gerindra, Golkar, Partai Amanat Nasional, Partai Demokrat, Partai Solidaritas Indonesia, dan Perindo menyatakan bakal melanjutkan program kerja Bobby di Medan. Dia menyebut akan menjaga kerukunan yang telah hidup di tengah warga Medan yang sangat beragam.
Rico juga berjanji akan berfokus pada layanan pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kesejahteraan warga Medan. Dia pun menilai, Medan harus menjadi kota yang ramah investasi serta memiliki usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bisa memanfaatkan teknologi digital. Infrastruktur yang baik juga jadi perhatian.
”Kami akan melanjutkan pembangunan yang baik agar menjadi sustainable development, melanjutkan pembangunan di seluruh bagian Kota Medan dengan tidak terkecuali,” kata Rico yang merupakan keponakan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh itu.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F08%2F29%2F2a78c7e6-1cf4-4523-87d7-005674a02adf_jpg.jpg)
Ridha Dharmajaya-Abdul Rani mendaftar sebagai bakal calon wali kota dan wakil wali kota Medan di KPU Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (29/8/2024).
Kemacetan di Medan
Pada sesi tanya jawab, kritikan Ridha terhadap kinerja Bobby menjadi kian tajam. Paslon Ridha-Rani yang mendapat kesempatan bertanya kepada dua paslon lain mengangkat isu kemacetan lalu lintas. Menurut Ridha, selama lima tahun terakhir, tidak ada solusi untuk mengurai kemacetan di Medan.
”Wali Kota Medan Bobby Nasution tidak kompeten dalam mengelola sistem transportasi Kota Medan. Wali Kota tidak peduli atas penderitaan warganya pada kemacetan di atas roda transportasi di tengah terik matahari,” kata Ridha.
Baca juga: Persaingan Bobby Nasution dan Edy Rahmayadi, Debat Panas di Panggung, Saling Lempar di Luar Panggung
Ridha menyebut, setiap hari warga Medan mengalami dan merasakan kelumpuhan transportasi. Macet terjadi dimana-mana.
”Sudahlah. Kayaknya sudah cukup kita berkelit, menutup mata pada realitas yang terjadi. Masyarakat Medan sudah pintar. Jangan pula karena ingin dianggap sebagai paslon yang akan melanjutkan wali kota sebelumnya, kita menutup mata dengan kesulitan warga,” ungkap Ridha.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F08%2F29%2Fcb659204-b8e6-48eb-879a-05fa8de09244_jpg.jpg)
Bakal calon wali kota dan wakil wali kota Medan, Rico Waas-Zakiyuddin, mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (29/8/2024).
Menjawab pertanyaan itu, Hidayatullah mengatakan, apa yang telah dilakukan Wali Kota Medan saat ini telah memberikan harapan besar, antara lain dengan pengoperasian bus listrik.
”Angkutan massal tentu sasaran akhirnya adalah untuk mengurai kemacetan itu sendiri. Bagi kami, ini adalah awal yang baik walaupun belum bisa dinilai. Awal yang baik adalah harapan untuk Medan menjadi lebih baik,” tutur Hidayatullah.
Meski demikian, Hidayatullah mengakui masalah kemacetan di Medan memang mulai terasa akut. ”Masalah mengurai kemacetan, masalah gagal atau tidak gagal, itu berpulang ke masyarakat,” ujarnya.
Baca juga: Aturan ”Manasuka” Berlalu Lintas di Kota Medan
Sementara itu, Rico menyebut, pembangunan transportasi publik di Medan terus bertumbuh dan berevolusi dari tahun ke tahun. Dia juga mengatakan, pembangunan moda transportasi membutuhkan proses.
”Kita menjalani proses dari waktu ke waktu, zaman ke zaman. Kita juga melihat memang ada evolusi. Masyarakat bertumbuh, moda transportasi berubah, dan kendaraan pribadi juga bertambah,” ujar Rico.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F09%2F11%2F601c1e87-3f1f-46f9-83af-dc9fafda671f_jpg.jpg)
Bus listrik (kanan) menembus kemacetan lalu lintas di Jalan Balai Kota sebelum tiba di halte sementara bus rapid transit (BRT) Lapangan Merdeka, Medan, Sumatera Utara, Selasa (10/9/2024).
Normatif
Saat mengulas beberapa isu lain yang diajukan panelis, tiga paslon menjawab dengan lebih normatif. Terkait masalah infrastruktur, misalnya, Rico menyebut, pembangunan infrastruktur jalan sangat krusial dan harus diselesaikan. Dia juga berjanji membangun transportasi massal yang lebih baik agar publik bisa beralih dari kendaraan pribadi.
Adapun Ridha menyatakan bakal membangun badan usaha milik daerah (BUMD) yang lebih baik. Sebab, BUMD milik Pemkot Medan saat ini kondisinya terpuruk. BUMD tidak memberikan penghasilan, tetapi malah menjadi beban anggaran karena pemerintah harus menutupi kerugian setiap tahun.
Sementara itu, Hidayatullah menyebut akan membangun sumber daya manusia yang unggul. Menurut dia, kemiskinan dan kebodohan menciptakan lingkaran setan. ”Kemiskinan menghasilkan kebodohan, lalu kebodohan menghasilkan kemiskinan. Kami akan buat program satu keluarga satu sarjana,” tuturnya.
Dalam proses debat, performa untuk menunjukkan ide yang lebih segar adalah dengan nada kritik. Kalau nada melanjutkan tentu tidak segar karena tidak ada ide baru.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F11%2F19%2F34cb7506-0e45-4707-8698-8414981a23dd_jpg.jpg)
Pengendara dan pejalan kaki coba menerobos banjir di Jalan Dr Mansyur, Kota Medan, Sumatera Utara, Sabtu (19/11/2022).
Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Sumut, Faisal Riza, menyebut, posisi Ridha-Rani yang mengasosiasikan diri dengan perubahan lebih diuntungkan dalam debat. ”Dalam proses debat, performa untuk menunjukkan ide yang lebih segar adalah dengan nada kritik. Kalau nada melanjutkan tentu tidak segar karena tidak ada ide baru,” ujarnya.
Dalam posisi itu, Hidayatullah dan Rico dinilai tampak ragu-ragu dalam mengungkapkan ide dan pikiran mereka. Untuk mengangkat isu tertentu, keduanya harus lebih dulu memuji kinerja Bobby. ”Ini membuat dua paslon yang mengasosiasikan diri pada Bobby terlihat bimbang, tidak punya kreativitas, dan kikuk,” kata Faisal.
Di sisi lain, Faisal juga menilai, tiga paslon itu belum mengulas problem di Medan secara lebih tajam. Dalam menangani persoalan banjir, misalnya, ketiga paslon harusnya bisa mengupas program pembangunan drainase yang belum bisa mengatasi banjir di pusat kota. Namun, di daerah pinggiran, drainase bisa mengurangi titik banjir cukup signifikan.
Menurut Faisal, masalah lain dari ketiga paslon adalah popularitasnya yang rendah. Pilkada Medan pun akhirnya kalah pamor dibandingkan Pilgub Sumut yang diikuti paslon yang sangat populer dan merupakan tokoh politik nasional, yakni Bobby Nasution dan Edy Rahmayadi. Dengan kondisi itu, partisipasi politik pada Pilkada Medan berpotensi menurun.