Survei Litbang ”Kompas”, Edy-Hasan Atasi Ketertinggalan di Toba, Nias, dan Pantai Timur
Ketertinggalan cukup jauh di kawasan Danau Toba dan Nias di luar harapan Edy-Hasan. Manfaatkan sisa masa kampanye.
Oleh
NIKSON SINAGA
·3 menit baca
MEDAN, KOMPAS — Hasil survei Litbang Harian Kompas pada Pemilihan Gubernur Sumatera Utara menunjukkan elektabilitas Edy Rahmayadi-Hasan Basri Sagala sebesar 28 persen, terpaut cukup jauh dibandingkan rivalnya, Bobby Nasution-Surya, yang mendapat 44,9 persen. Edy menyebut akan mengatasi ketertinggalan, khususnya di kawasan Danau Toba, Kepulauan Nias, dan pantai timur Sumut.
”Kami apresiasi Litbang Kompas yang melakukan survei elektabilitas pada Pilgub Sumut melalui produk ilmiah yang independen. Hasil ini membuat kami semakin solid meningkatkan elektabilitas. Kami pastikan, akan ada peningkatan signifikan dalam beberapa hari ke depan,” kata juru bicara pasangan Edy-Hasan, Sutrisno Pangaribuan, Rabu (6/11/2024).
Baca Berita Seputar Pilkada 2024
Pahami informasi seputar Pilkada 2024 dari berbagai sajian berita seperti video, opini, Survei Litbang Kompas, dan konten lainnya.
Sutrisno menyebut, hasil survei elektabilitas itu juga menunjukkan ada 27,1 persen responden yang menyebut tidak tahu atau tidak menjawab. Angka itu, menurut dia, cukup besar dan menjadi ruang gerak untuk memperluas dukungan untuk Edy-Hasan.
Menurut Sutrisno, kelompok yang tidak menjawab itu juga patut disebut sebagai orang yang tidak berani mengungkapkan pilihan politiknya. ”Mereka memilih diam agar tidak terdeteksi pilihan politiknya. Ada operasi yang membuat masyarakat takut mengungkapkan pilihannya terhadap pasangan calon tertentu,” kata Sutrisno.
Komisi Pemilihan Umum Provinsi Sumatera Utara melakukan sosialisasi Pemilihan Gubernur Sumatera Utara dengan memasang baliho pasangan calon gubernur di Jalan Willem Iskandar, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Rabu (6/11/2024).
Dalam survei melalui wawancara tatap muka pada 22-28 Oktober 2024 dengan 800 responden itu juga terlihat keunggulan Bobby-Surya terjadi di hampir setiap latar belakang identitas sosial berbasis suku bangsa dan agama dalam kesatuan geopolitik Sumut.
Elektabilitas Bobby unggul signifikan di kalangan suku Batak Toba, Karo, Mandailing, dan Nias. Bobby juga unggul tipis di kelompok Jawa. Sementara, Edy-Hasan hanya unggul di masyarakat Minang dan Melayu, tetapi tidak signifikan.
Edy-Hasan tertinggal jauh di kalangan non-Islam, yakni hanya 13,9 persen dibandingkan Bobby-Surya yang bisa mendapat 63,6 persen. Di kelompok pemilih Islam, Bobby tetap unggul dengan perolehan 39,8 persen berbanding 31,9 persen.
Pengaruh PDI-P sebagai partai pengusung tidak memberi pengaruh signifikan terhadap elektabilitas Edy-Hasan di kalangan non-Islam yang merupakan basis partai tersebut. Demikian juga di kalangan suku Batak dan Nias yang juga merupakan kandang ”Banteng” di Sumut.
Terkait tingkat keterpilihan berdasarkan identitas itu, Sutrisno menyebut, elektabilitas Edy-Hasan tergerus karena ada kampanye negatif. Menurut dia, kampanye cukup masif dilakukan untuk membuat Edy seolah tidak nasionalis.
”Di lapangan, kami menemukan pihak sebelah cukup masif mengampanyekan Edy bukan orang yang nasionalis. Padahal, saya tahu persis beliau sangat nasionalis. Beliau 35 tahun sebagai prajurit TNI,” kata Sutrisno.
Sutrisno menyebut, tim Edy-Hasan dalam waktu yang tersisa akan menyisir kawasan Danau Toba dan Kepulauan Nias untuk mengatasi ketertinggalan di daerah tersebut. Selain itu, mereka juga akan fokus di daerah aglomerasi Medan, Binjai, Deli Serdang, yang merupakan lumbung suara terbesar di Sumut.
”Kami pastikan per hari ini akan ada peningkatan elektabilitas sangat signifikan. Target kami, elektabilitas Edy-Hasan akan terus naik hingga di atas 50 persen,” kata Sutrisno.
Pengajar Program Studi Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, Warjio, menyebutkan, keunggulan Bobby-Surya ditopang pemilih muda, efek Joko Widodo yang masih cukup tinggi hingga akhir masa pemerintahannya, dan jaringan birokrasi yang cukup kuat di Sumut. Dukungan pemilih muda ini juga tergambar dalam hasil survei Litbang Kompas.
Warjio menyebut, elektabilitasnya di basis non-Islam juga diluar perkiraan Edy-Hasan. Tingkat keterpilihan Edy tidak mendapat efek dari partai pengusung PDI-P yang mempunyai basis suara cukup besar di kelompok non-Islam.
Menurut Warjio, Bobby mendapat dukungan di basis non-Islam di daerah kawasan Danau Toba dan Kepulauan Nias karena efek Jokowi. ”Sebelum masa pemerintahan Jokowi, pembangunan di daerah itu kurang diperhatikan. Masyarakat di kawasan Danau Toba dan Nias mendapat perhatian cukup besar di masa pemerintah Jokowi,” kata Warjio.
Hal itu memberikan dampak positif kepada Bobby yang merupakan menantu Jokowi. Menurut Warjio, Edy akan sulit mengatasi ketertinggalan jika tidak ada peristiwa politik atau gerakan politik besar selama sisa masa kampanye.