Kisah Sukolilo, ”Supermarket” Jati Lawasan di Sudut Pati
Sukolilo merupakan salah satu sentra perdagangan jati lawasan. Di sana terdapat puluhan pengepul jati lawasan.
Oleh
MOHAMAD FINAL DAENG
·3 menit baca
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Dinding papan kayu dan pintu yang dijual salah satu pengepul rumah bekas joglo dan limasan di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Kamis (13/6/2024).
Nama Kecamatan Sukolilo di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, ramai jadi perbincangan publik menyusul tragedi pengeroyokan beberapa waktu lalu. Namun, sebelum mencuat karena kasus memilukan itu, daerah ini sesungguhnya sudah lebih lama dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan jati lawasan.
Jati lawasan merujuk pada material yang diambil dari bongkaran rumah joglo atau limasan ataupun rumah-rumah tua (lawas) lainnya yang terbuat dari kayu jati. Wujudnya bisa berupa daun pintu, jendela, kusen, mebel, lubang angin, panel dinding, hingga tiang-tiang penyangga rumah.
Material tersebut menjadi buruan para penggemar lawasan ataupun kalangan umum yang ingin menciptakan nuansa tradisional atau klasik pada rumahnya. Semakin tua dan unik bentuk materialnya, apalagi memiliki kisah sejarah tersendiri, semakin tinggi nilainya. Tren arsitektur lawasan pun kini merambah ke restoran, kafe, hingga resor-resor wisata.
Sukolilo menjadi sentra perdagangan jati lawasan dengan keberadaan puluhan pengepul di kecamatan tersebut, khususnya di Desa Baleadi dan Desa Wegil. Daerah lain yang juga terkenal sebagai sentra jati lawasan, antara lain, Grobogan, Rembang, dan Blora di Jateng serta Bojonegoro di Jawa Timur.
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Warga melintasi deretan sentra pedagang kayu bekas rumah di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Kamis (13/6/2024).
Pengepul jati lawasan di Sukolilo tersebar di sejumlah tempat di sepanjang Jalan Sukolilo-Babalan. Barang-barang seperti pintu, jendela, dan panel dinding atau gebyok dipajang di tepi jalan untuk menarik minat calon pembeli. Adapun bagian-bagian yang lebih besar, seperti tiang, rangka atap, dan papan, biasanya ditumpuk di dalam gudang terbuka.
Oleh para pengepul, barang-barang itu dibiarkan sesuai bentuk aslinya dari rumah yang dibongkar, termasuk catnya, meski sekusam dan seluntur apa pun. Bahkan, tak jarang masih tersisa pula jejak penghuni sebelumnya, seperti stiker sensus penduduk atau kartu pendataan pemilu, yang tertempel di pintu.
”Saya biasanya mencari barang sampai ke daerah Tuban, Bojonegoro, dan Blora. Kalau pembelinya, kebanyakan dari Jakarta, Bali, dan Yogyakarta,” ujar Sutiah (60), pengepul jati lawasan di Sukolilo, saat ditemui, Kamis (13/6/2024).
Perempuan yang telah berbisnis jati lawasan selama 15 tahun ini mengatakan, sekarang makin sulit mencari rumah tua berbahan kayu jati. Kebanyakan rumah warga di Jateng dan Jatim, khususnya di daerah perkotaan, sudah berstruktur tembok dan beton.
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Balok kayu bekas tiang bangunan rumah joglo dan limasan yang dijual pengepul di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Kamis (13/6/2024).
Karena itu, Sutiah pun kerap memakai jasa orang lain untuk mencari jati lawasan di pelosok-pelosok perdesaan. Peluang menemukan rumah joglo atau limasan tua di wilayah perdesaan masih besar. ”Setiap bulan biasanya masih bisa dapat satu rumah yang dijual,” ucapnya.
Tokoh masyarakat Sukolilo, Darmo Kusumo (64), mengungkapkan, Sukolilo berkembang sebagai sentra pengepul jati lawasan mulai sekitar awal dekade 2000-an. Bermula dari satu pengepul, usaha tersebut makin menjamur karena peminatnya tinggi, terutama pembeli dari luar daerah.
Darmo mengatakan, Sukolilo juga menjadi salah satu daerah perkebunan jati pada zaman kolonial Belanda sekitar abad ke-18. Meski begitu, rumah-rumah warga tak otomatis berbahan jati karena pada masa itu pun kayu tersebut merupakan bahan bangunan yang berharga tinggi.
”Jadi, hanya kalangan masyarakat yang tingkat sosial ekonominya tinggi yang bisa membangun rumah dengan konstruksi jati. Adapun warga biasa rumahnya memakai bilik bambu,” ucapnya.
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Peti kuno atau grobog menjadi salah satu barang yang dijual pedagang kayu di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Kamis (13/6/2024).
Darmo menambahkan, saat ini di Sukolilo juga masih banyak rumah joglo atau limasan jati yang dipertahankan pemiliknya. Rumah-rumah itu merupakan warisan turun-temurun yang di antaranya ada yang telah berusia 200 tahun.
Irfan Yusuf, pehobi jati lawasan di Yogyakarta, mengatakan, Sukolilo bak ”supermarket” bagi penggemar rumah lawasan. Pasalnya, di satu kawasan yang relatif kecil itu, ada banyak penjual yang menyediakan beragam pilihan barang dari berbagai model dan usia kayu.
”Selain itu, karena pengepulnya banyak, harganya jadi bisa bersaing juga,” ujar pemilik usaha homestay ini.
Di mata penggemar, kata Irfan, jati lawasan yang paling diminati adalah yang berasal dari bongkaran rumah atau bangunan kolonial Belanda. Hal ini karena orang Belanda dulu selalu menggunakan bahan bangunan yang terbaik, termasuk kayu jatinya.
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Harno berada di lapak dagangannya yang menjual bahan kayu lama untuk rumah joglo dan limasan di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Kamis (13/6/2024).
Setelah itu, incaran bernilai tinggi lainnya adalah rumah bekas saudagar Jawa atau Tionghoa di sepanjang wilayah pantai utara (pantura) Jawa. Selain kualitas jatinya yang juga pilihan, ornamen bangunan rumah saudagar biasanya unik.
”Gaya bangunannya kaya karena menyerap banyak unsur kebudayaan di sepanjang pantura,” tutur Irfan.
Para penggemar jati lawasan pun selalu berupaya menggali sejarah di balik setiap barang yang mereka beli. Ini melengkapi kepuasan dan nilai dalam mengoleksi ataupun menggunakan barang-barang tersebut sebagai bahan rumah mereka sendiri.