logo Kompas.id
NusantaraPolisi Bantah Tembak Tokoh...

Polisi Bantah Tembak Tokoh Agama di Pegunungan Bintang

Polres Pegunungan Bintang membantah isu hilangnya seorang tokoh agama karena ditangkap dan ditembak oleh aparat. Oknum tersebut melarikan diri saat ketahuan membawa lima butir amunisi.

Oleh
FABIO MARIA LOPES COSTA
· 2 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/o76Eo_KSptf9csEPEm4CsjcARxU=/1024x1005/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F05%2F20210529FLOB_1622272237.jpeg
KOMPAS/FABIO MARIA LOPES COSTA

Kapolres Pegunungan Bintang Ajun Komisaris Besar Cahyo Sukarnito.

JAYAPURA, KOMPAS — Pihak kepolisian membantah telah menangkap dan menembak seorang tokoh agama di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, bernama Elias Kalakmabin pada 12 Januari 2022. Sebenarnya, Elias melarikan diri saat diperiksa anggota Brimob karena membawa amunisi.

Kapolres Pegunungan Bintang Ajun Komisaris Besar Cahyo Sukarnito, saat dihubungi dari Jayapura, Minggu (16/1/2022), mengatakan, anggota Brimob memeriksa Elias saat melaksanakan razia di Pos Kampung Seramkatop.

Cahyo menuturkan, tim Brimob kala itu memeriksa sebuah kendaraan roda empat yang turut ditumpangi Elias sekitar pukul 10.00 WIT. Saat memeriksa tas Elias, lanjut Cahyo, aparat menemukan lima butir amunisi untuk senjata jenis revolver.

Elias pun secara mendadak melarikan diri ke arah semak-semak dan kemudian bersembunyi di sekitar Kampung Seramkatop. Aparat menyisir sekitar area kampung, tetapi tidak menemukan Elias.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/vY6Dcreh8qpLGXJbGfkRUIQD194=/1024x768/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2022%2F01%2FSAVE_20220116_210515_1642335293.jpg
KOMPAS/POLRES PEGUNUNGAN BINTANG

Temuan lima butir amunisi dan uang Rp 2 juta rupiah dari tas Elias Kalakmabin saat pemeriksaan di Pos Polisi Seramkatop, Kabupaten Pegunungan Bintang, pada 12 Januari 2022.

”Dari hasil pemeriksaan tas, aparat tidak hanya menemukan amunisi untuk senjata jenis revolver. Mereka juga menemukan uang senilai Rp 2 juta,” papar Cahyo.

Baca juga: Ratusan Anggota KKB Lamek di Pegunungan Bintang Jadi Target Satgas Nemangkawi

Ia menuturkan, pelaksanaan razia untuk mencegah adanya oknum warga yang membawa senjata api dan menyebabkan gangguan keamanan. Kondisi ini dapat membahayakan warga dan juga aparat keamanan.

Diketahui terdapat kelompok kriminal bersenjata pimpinan Lamek Taplo di Pegunungan Bintang. Kelompok inilah yang sering menyerang aparat keamanan dan warga sejak 2020.

Kelompok Lamek Taplo memulai aksinya dengan membakar fasilitas umum di Kiwirok pada 13 September 2021. Dalam aksi tersebut, seorang tenaga kesehatan di Puskesmas Kiwirok bernama Gabriella Meilani gugur dalam tugas dan enam rekannya serta seorang anggota TNI AD mengalami luka-luka.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/nP5LwxqYIRpPlL0X7NUu2gKstjo=/1024x571/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2FIMG_20211207_110945_1638842461.jpg
DOKUMENTASI SMA NEGERI 1 OKSIBIL

Para pelajar saat melihat puing-puing bangunan ruang kelas SMA Negeri 1 Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Selasa (7/12/2021). Kelompok kriminal bersenjata pimpinan Lamek Taplo membakar tiga ruang kelas dan satu ruang guru pada Minggu (5/12/2021).

Sebanyak 10 sekolah dan tiga puskesmas yang telah dibakar kelompok Lamek Taplo sepanjang 2021 tersebar di lima distrik meliputi Oklip, Kiwirok, Kiwirok Timur, Okhika, dan Serambakon. Sebanyak 10 sekolah ini terdiri dari 5 bangunan SMP, 3 bangunan SD, dan 2 bangunan SMA.

”Saat ini situasi di Pegunungan Bintang masih kondusif. Kasus Elias terkait kepemilikan amunisi telah ditindaklanjuti oleh kami,” tambah Cahyo.

Rawan terjadi penyeludupan senjata api dan amunisi di Pegunungan Bintang karena minim pengawasan. (Melchior Weruin)

Subkoordinator Bagian Pelayanan Pengaduan Kantor Perwakilan Komnas HAM Provinsi Papua Melchior Weruin mengatakan, pihaknya akan menghubungi sejumlah tokoh gereja di Pegunungan Bintang untuk menelusuri informasi terkait penangkapan Elias.

Ia mengakui, rawan terjadi penyeludupan senjata api dan amunisi di Pegunungan Bintang karena minim pengawasan. Misalnya, hanya empat dari 34 distrik (kecamatan) yang memiliki pos polisi.

”Kami belum mendapatkan laporan terkait hilangnya tokoh agama bernama Elias karena ditangkap aparat keamanan. Kami akan berupaya mengumpulkan informasi terkait masalah ini,” tutur Melchior.

Baca juga: SMA Negeri 1 Oksibil Dibakar KKB, 235 Anak Tidak Sekolah

Editor:
Gregorius Magnus Finesso
Bagikan