logo Kompas.id
Artikel OpiniKatarsis Narasi Ramadhan

Katarsis Narasi Ramadhan

Cerpen karya Umar Kayam, Hamsad Rangkuti, dan Raudal Tanjung Banua yang mengangkat tema Ramadhan memberi arah akan pencapaian katarsis. Mereka mengangkat realitas ekonomi, sosial, dan agama.

Oleh
S PRASETYO UTOMO
· 1 menit baca
Ilustrasi
SUPRIYANTO

Ilustrasi

Sebagian cerpen Indonesia mutakhir dicipta sastrawan dengan latar Ramadhan. Krisis ekonomi, konflik sosial, bahkan konflik religiositas bisa disajikan dengan latar Ramadhan. Tak banyak cerpen berlatar Ramadhan terdokumentasikan dalam buku-buku antologi sastra. Setidaknya kita dapat menemukan tiga cerpen yang ditulis sastrawan Indonesia mutakhir berlatar Ramadhan, seperti karya Umar Kayam, Hamsad Rangkuti, dan Raudal Tanjung Banua. Mereka mengambil latar Ramadhan untuk mengemas berbagai persoalan: krisis ekonomi, konflik sosial, dan otoritas beragama.

Dengan latar Ramadhan, Umar Kayam menulis cerpen ”Menjelang Lebaran”, termuat dalam Derabat: Cerpen Pilihan Kompas 1999. Hamsad Rangkuti mencipta cerpen ”Santan Durian”, termuat dalam Dua Tengkorak Kepala: Cerpen Pilihan Kompas 2000. Raudal Tanjung Banua menyingkap latar Ramadhan dengan cerpen ”Aroma Doa Bilal Jawad”, termuat dalam Doa yang Terapung: Cerpen Pilihan Kompas 2018.

Editor:
YOVITA ARIKA
Bagikan