logo Kompas.id
Artikel Opini"Stablecoin", Era Paradigma...

"Stablecoin", Era Paradigma Baru "Digital Central Bank Money"

Stablecoin menjadi tantangan tersendiri dalam arsitektur moneter suatu negara. Penyelenggaraan stablecoin di Indonesia saat ini terutama dimanfaatkan untuk mempermudah dalam pembelian aset kripto seperti bitcoin.

Oleh
MIRZA MARA
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/uTUGDIijCGKtjimz8aAIkvtylmA=/1024x576/https%3A%2F%2Finr-production-content-bucket.s3.ap-southeast-1.amazonaws.com%2FINR_PRODUCTION%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F02%2F13%2F05819600-1d7c-436a-be2b-870d66298773_jpg.jpg

Para penikmat karya fiksi ilmiah pasti semakin sering terkaget-kaget dengan istilah dan hal dalam film atau novel yang semakin banyak terwujud di dunia nyata semisal kripto dan metaverse. Istilah kripto pernah hadir di suatu novel The Great Simolean dari Neal Stephenson yang terbit di 1995, sedangkan Metaverse mulai muncul pada novel Stephenson, Snow Crash, pada 1992 yang pasti menggunakan cryptocurrency (mata uang kripto) dalam transaksinya.

Nilai pasar cryptoasset (aset kripto) seperti bitcoin terus meningkat secara global hingga mencapai tiga kali lipat sejak 2017, yaitu dari 763 miliar dollar AS menjadi 2.234 miliar dollar AS sejalan kebutuhan masyarakat untuk memperoleh yield (imbal hasil) tinggi dalam rezim penurunan suku bunga kebijakan di berbagai negara. Fenomena volatilitas harga bitcoin sudah terlihat yang memang hanya berdasarkan asas supply demand tanpa dilandasi aspek fundamental menyebabkan sejak akhir 2017 harga bitcoin pun melonjak hingga 20.000 dollar AS namun kemudian nilainya merosot tajam menjadi 3.236,76 dollar AS di 2018.

Editor:
YOVITA ARIKA
Bagikan