Selain meningkatkan promosi, pemerintah dinilai perlu fokus dalam mengembangkan destinasi wisata. Pemerintah berupaya memperbaiki kinerja sektor pariwisata melalui berbagai strategi.
Oleh
M CLARA WRESTI / MEDIANA
·4 menit baca
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Wisatawan menikmati riak jeram saat mengikuti wisata arung jeram di Sungai Maiting, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Minggu (21/7/2019). Selain mengarungi puluhan jeram, di sepanjang jalur wisata arung jeram wisatawan juga dimanjakan dengan puluhan air terjun dan keindahan pemandangan.
JAKARTA, KOMPAS — Upaya promosi untuk menarik wisatawan mancanegara dinilai kurang. Pengembangan destinasi juga dianggap kurang fokus. Kondisi itu dianggap berdampak pada tidak optimalnya pencapaian sektor pariwisata.
Sektor pariwisata ditargetkan menyumbang devisa 17,6 miliar dollar AS dengan 18 juta kunjungan wisatawan mancanegara tahun ini. Namun, sepanjang Januari-Juli 2019, menurut data Badan Pusat Statistik, realisasinya baru 9,31 juta kunjungan wisatawan mancanegara.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani, di Jakarta, Kamis (5/9/2019), berpendapat, selain promosi yang kurang, pembangunan destinasi wisata kurang fokus. ”Memang ada persoalan daya beli, bencana alam, dan faktor lain. Namun, jika promosi terus gencar, siapa pun akan terdorong untuk datang ke Indonesia,” ujarnya.
Pemerintah dinilai fokus pada branding, tetapi mengabaikan promosi. ”Badan Promosi Pariwisata Indonesia bahkan tidak diberdayakan oleh pemerintah,” kata Hariyadi.
Indonesia sebenarnya punya keunggulan, antara lain harga yang kompetitif. Namun, anggaran promosi kurang. Akibatnya, harga yang kompetitif dan paket-paket yang menarik tidak terkomunikasikan ke wisatawan mancanegara. ”Mereka (wisatawan mancanegara) tahu pesona Indonesia, tetapi tidak terdorong untuk datang karena tak ada promosi. Branding itu mengenalkan, sementara promosi itu jualan,” ujarnya.
Seratus kegiatan yang tercantum dalam kalender kegiatan, misalnya, sudah dikurasi dengan baik. Namun, promosinya ke luar negeri kurang intensif sehingga tidak optimal mendatangkan turis.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Rudiana menyampaikan pendapat yang senada. Menurut dia, biro-biro perjalanan telah membuat banyak paket, tetapi tidak tersampaikan secara luas ke luar negeri. Kondisi itu berdampak ke jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.
Menurut Rudiana, pemerintah perlu fokus dalam membangun destinasi wisata. Dari segi infrastruktur, misalnya, idealnya fokus menyelesaikan pembangunan bandara dan pelabuhan di 10 destinasi wisata prioritas. Pada praktiknya, pembangunan tersebar, sementara pembangunan di destinasi prioritas belum tuntas.
KOMPAS/YOLA SASTRA
Atraksi sembur api membuka pertunjukan silek lacah dalam Festival Seni dan Budaya Pasa Harau di Lembah Harau, Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Minggu (18/8/2019). Festival yang menyajikan pertunjukan musik, seni, budaya, dan permainan tradisi, serta acara kuliner itu merupakan satu dari tiga atraksi wisata di Sumbar yang masuk dalam 100 Calender of Event Kementerian Pariwisata.
Akses ke destinasi wisata juga terkendala harga tiket domestik yang lebih mahal dari pada tiket internasional. ”Hal ini yang membuat wisatawan berpikir ulang untuk mengunjungi daerah-daerah lain yang harus dicapai dengan pesawat terbang. Oleh karena tidak ke mana-mana, lama tinggal di Indonesia pun tak optimal,” ujarnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, rata-rata lama menginap tamu asing dan domestik pada hotel klasifikasi bintang mencapai 1,8 hari selama Juli 2019, naik dibandingkan rata-rata lama menginap pada Juli 2018 yang 1,73 hari. Sementara tingkat penghunian kamar hotel bintang pada Juli 2019 rata-rata 56,73 persen atau turun dibandingkan rata-rata Juli 2018 yang mencapai 59,30 persen.
Perbaiki kinerja
Menurut Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata Guntur Sakti, pemerintah terus berupaya memperbaiki kinerja sektor pariwisata dengan berbagai strategi. Salah satunya adalah dengan mengembangkan destinasi wisata dari segi atraksi, aksesibilitas, dan amenitas.
Kementerian Pariwisata juga menyiapkan strategi untuk mencapai target, antara lain melalui program hot deals, tourism hub, hingga border tourism.
”Pariwisata merupakan salah satu sektor yang diharapkan jadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada 2018, sektor pariwisata menyumbang devisa 19,2 miliar dolar AS, 40 persen di antaranya merupakan kontribusi Bali,” kata Guntur.
Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Ricky Joseph Pesik menyatakan, sektor ekonomi kreatif bisa membantu meningkatkan daya saing pariwisata nasional. Pada 2020, pemerintah berencana mengucurkan anggaran khusus untuk mengembangkan produk ekonomi kreatif di lima destinasi pariwisata nasional, seperti Labuan Bajo, Mandalika, dan Borobudur.
Kompas/Priyombodo
Wisatawan berswafoto dengan latar belakang Danau Kelimutu di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Jumat (9/8/2019). Keunikan danau tiga warna Kelimutu menjadi ikon pariwisata di Kabupaten Ende yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara dan domestik.
Pengembangan produk ekonomi kreatif akan menyesuaikan potensi lokal. Bekraf kini tengah mempersiapkan peta. Menurut Ricky, pihaknya juga mendampingi daerah dalam pengembangan kabupaten/kota kreatif. Tujuan utamanya melahirkan produk ekonomi kreatif berdaya saing nasional dan internasional.
Sejauh ini sudah ada 10 kabupaten/kota kreatif tercipta. Komunitas masyarakat, akademisi, pelaku industri, dan pemerintah daerah sedang mengidentifikasi potensi subsektor ekonomi kreatif sebelum menetapkan prioritas.
Inovasi
Sejumlah pelaku industri berinovasi untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Senior Vice President Traveloka, penyedia layanan pencarian dan pemesanan tiket dan hotel daring, Alvin Kumarga menyatakan, setiap produk Traveloka mengikuti kebutuhan wisatawan. Layanan PayLater, misalnya, lahir dari masukan pelanggan yang menginginkan fitur pembayaran yang lebih fleksibel.
Country Marketing Director Reddoorz Indonesia Sandy Maulana berinovasi untuk menyasar generasi milenial dan Z yang menjadikan bepergian sebagai bagian gaya hidup. Generasi ini punya karakter yang berbeda saat bepergian. ”Mereka ingin harga sewa penginapan terjangkau, tetapi kualitasnya tetap mendukung kenyamanan,” ujarnya.
Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) memperkirakan akan ada 300 juta perjalanan turis generasi muda tahun 2020. (MED/ARN/ERK)