Tadashi Yanai, Kebahagiaan dan Kebangkitan Jepang
Yanai menggarisbawahi, bekerja tak selamanya tentang uang. Bekerja juga untuk membahagiakan orang lain.

Tadashi Yanai, Chairman, President, dan CEO Fast Retailing Co. Ltd.
Pada usianya yang ke-75, Tadashi Yanai masih tetap aktif. Ia adalah Chairman, President & CEO Fast Retailing Co. Ltd, perusahan ritel global pemegang merek Uniqlo. Kesuksesan Uniqlo sebagai produk global yang kini mengoperasikan 3.600 toko di seluruh dunia menjadikan Yanai orang terkaya di Jepang. Namun, dengan merendah, ia mengatakan, kesuksesannya itu hanya keberuntungan semata. Tentu saja dia ”hanya bercanda”.
Yanai ditemui bersama sejumlah wartawan pada Senin (30/9/2024) di kota mode Paris, Perancis. Yanai terbang dari Jepang ke Paris karena Uniqlo tengah menggelar pameran Art & Science: What Makes Life Better di Palace Vendome, Paris, Perancis, 1-5 Oktober 2024. Pameran digelar untuk merayakan ulang tahun ke-40 Uniqlo.
Meski sesi wawancara berlangsung maraton, Yanai selalu menyambut dengan ramah dan antusias. Genggaman tangannya kuat saat bersalaman. Senyum pun terus mengembang di wajahnya. Ia mengenakan setelan licin pas di badan. Stylist, merefleksikan sosok petinggi perusahaan ritel pakaian sukses.
Sepanjang wawancara, Yanai kerap tergelak karena pertanyaan yang, menurut dia, lucu atau karena hal-hal lain tak terduga. Seperti ketika penerjemah kerepotan mendapatkan pertanyaan yang bertubi-tubi. Sesi wawancara yang singkat dengan aneka rupa pertanyaan pun berjalan lebih cair dari yang dibayangkan.
Di balik sikapnya yang tampak santai, Yanai sejatinya adalah seorang pemikir dan pekerja keras. Uniqlo, tak bisa dimungkiri, adalah refleksi pemikiran dan kerja kerasnya yang tanpa henti selama empat dekade. Nilai-nilai Jepang dia praktikkan di dalamnya.
Yanai membangun Uniqlo dari toko pakaian laki-laki milik ayahnya yang berdiri sejak tahun 1949 bernama Ogori Shoji. Alih-alih meneruskan toko sang ayah, Yanai merintis model bisnis baru. Idenya adalah menyediakan pakaian untuk konsumen dengan cepat dan harga terjangkau, seperti halnya konsep makanan cepat saji atau kebutuhan harian lainnya.
Toko baru Yanai yang mengusung nama Unique Clothing Warehouse berdiri tahun 1984. Toko itu menyediakan semua jenis pakaian dengan harga terjangkau, menjadi cikal bakal Uniqlo.
Jika kita bicara soal nilai-nilai Jepang, adalah kebersihan dan kerja keras. Untuk setiap hal, kamu harus betul-betul bersih, kamu harus betul-betul bekerja keras. Artinya, kamu harus berpikir, berpikir, berpikir, dan berpikir tanpa henti.
Seiring waktu, Uniqlo terus mencuri perhatian. Berkaca dari kesuksesan produk awal Uniqlo berupa jaket fleece yang meroketkan nama juga pundi-pundi uang toko ritel itu, Yanai meyakini, pakaian harian berfungsi tinggi dengan harga terjangkau adalah kunci sukses Uniqlo.
Yanai kemudian juga sampai pada satu kesimpulan bahwa untuk menyediakan pakaian dengan harga terjangkau, Uniqlo harus mengupayakan material sendiri. Bersama Toray Industries, perusahaan yang digandeng untuk menyediakan material Uniqlo, Yanai percaya diri menavigasi perjalanan Uniqlo. Tak hanya di Jepang, tetapi juga pasar global.
Perjalanannya tak selalu mulus. Sebagai pendatang baru dari Asia, ia harus menghadapi kegagalan di pasar Amerika dan Eropa. Ia tak menyerah. Dari kegagalan, Yanai belajar banyak sekaligus menyadari bahwa untuk sukses, mereka harus menampilkan diri mereka apa adanya.
”The pure Uniqlo datang dari Jepang, itu yang aku pelajari selama tahun-tahun pertama kami. Dan, karena itu pula, kami (akhirnya) sukses untuk yang kedua kali (di pasar Eropa),” ungkap Yanai.
Di sinilah nilai-nilai Jepang dia terapkan. Etos kerja keras menjadi nakhodanya. ”Pertama-tama, jika kita bicara soal nilai-nilai Jepang, adalah kebersihan dan kerja keras. Untuk setiap hal, kamu harus betul-betul bersih, kamu harus betul-betul bekerja keras. Artinya, kamu harus berpikir, berpikir, berpikir, dan berpikir tanpa henti,” tutur Yanai.
Ia mengarisbawahi soal urusan berpikir yang ia sebutkan itu. Menurut dia, belakangan ini, banyak orang Jepang yang sebenarnya berpikir, tetapi tidak mengambil action (tindakan). ”Mereka berpikir, tapi tidak mengimplementasikan pemikiran mereka,” ujarnya.
Itulah mengapa, menurut dia, saat ini Jepang seolah ”tenggelam”, hilang dari percaturan dunia. Sangat berbeda dengan negara lain di Asia Tenggara, seperti salah satunya Indonesia yang, menurut dia, tumbuh sangat signifikan. Jepang, ujarnya, selama 30 tahun terakhir ini seperti ”terlena”. Jepang tidur panjang.
”Tapi aku percaya, Jepang akan membuat come back. Jepang akan bangkit kembali,” ucap Yanai. Ia ingin melihat Jepang bangkit kembali.
Ini tak semata-mata jika ekonomi Jepang ambruk akan berdampak buruk bagi bisnisnya. Ini soal cinta Tanah Air. Yanai tak ingin melihat Jepang terus terlena, lalu hilang dari percaturan panggung global.

Tadashi Yanai
Meretas jalan
Uniqlo, diakui atau tidak, adalah upaya untuk meretas jalan untuk mengembalikan pamor Jepang. Ia menyebutnya the rise of Japan, kebangkitan Jepang.
Yanai kini menggenggam estafet kebangkitan itu di tangannya. Setelah 40 tahun menavigasi Uniqlo dengan perjalanan jatuh bangunnya, Uniqlo akhirnya berhasil menancapkan kukunya di panggung global, tak semata jago kandang.
Hingga 2024, Uniqlo telah memiliki setidaknya 3.600 toko yang tersebar di seluruh dunia. Tidak hanya pasar Asia yang menerima Uniqlo dengan tangan terbuka, kini juga pasar Amerika dan Eropa. Di Perancis, toko Uniqlo yang berlokasi di kawasan Opera, Paris, misalnya, tercatat sebagai toko dengan penjualan tertinggi di Eropa. Dengan perayaan ulang tahun ke-40 Uniqlo yang dipusatkan di kota mode dunia, ini adalah pertanda bahwa Uniqlo telah siap menguasai dunia.
”Ah, kami hanya beruntung. Tapi, ya, kami memang melakukan upaya sangat keras untuk itu,” ujarnya merendah. ”Kami hanya menawarkan ide baru tentang pakaian ke pasar, kepada konsumen. Ini adalah perspektif baru, pendekatan baru melalui pakaian,” lanjutnya.
Yanai lalu berbicara dengan serius. Dibandingkan dengan negara lain di Asia, tuturnya, Jepang adalah negara pertama yang berhasil menjadi negara maju dan ini sudah dimulai sejak ratusan tahun lalu. Jepang punya hubungan dengan banyak negara di dunia dan sudah belajar banyak hal dari sana.
Baca juga: 110 Persen Usaha Timo Tjahjanto
”Sebelum dan sesudah Perang Dunia Kedua, industri terbesar yang kami miliki adalah tekstil. Kami punya pengetahuan yang lengkap. Tetapi, kemudian banyak yang berpindah menjadi perusahaan kimia seperti Toray, seperti yang kita lihat sekarang,” papar Yanai.
Toray yang disebut Yanai adalah Toray Industries, perusahaan yang menjadi mitra Uniqlo selama ini. Toray berada di balik teknologi canggih yang diaplikasikan Uniqlo pada produk-produk yang mengusung filosofi LifeWear, pakaian yang menjadikan hidup pemakainya lebih baik, lebih berkualitas.
Inilah perpekstif baru yang ditawarkan Uniqlo. Pakaian sehari-hari, dengan harga terjangkau yang memberikan pengalaman berpakaian terbaik melalui pengaplikasian teknologi, adalah kunci untuk menjadikan hidup pemakainya lebih baik.
Bersama Toray, Yanai memastikan mereka akan terus mengembangkan sayap ke seluruh penjuru dunia. Ia optimistis karena saat ini, berkat koneksi internet, dunia telah sangat terhubung. Selera dan kebutuhan pada pakaian pun menjadi lebih global.
”Untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, semua orang bisa mengakses informasi secara bebas. Lihat bagaimana cara orang mengenakan pakaian mereka. Namun, orang lain hanya melihat bagaimana cara kamu berpakaian, tidak lagi mengatakan dari mana kamu berasal. Ini karena kita memiliki akses informasi yang sama,” kata Yanai.
Di masa lalu, pakaian orang merefleksikan negara asal mereka. Sekarang tidak lagi. Ini, ucap Yanai, adalah era yang baru. ”Saat seluruh dunia terkoneksi, demand baru bermunculan. Yang perlu mendapat perhatian adalah demand yang tersembunyi, potensi demand dari konsumen. Kita perlu benar-benar menangkap itu dan merealisasikan apa yang diminta konsumen. Jadi kami harus melakukan pekerjaan dengan lebih baik lagi setiap saat,” tutur Yanai.
Di situlah etos kerja keras dan berpikir keras serta fokus pada apa yang tengah dikerjakan terus-menerus dipraktikkan. Terlebih kompetisi semakin ketat. Perusahaan-perusahaan penyedia platform pun kini mulai masuk ke industri pakaian. Medan pertempuran tak pernah sepi dan Yanai sadar sepenuhnya akan hal itu.

Tadashi Yanai
Bahagia
Namun, Yanai menggarisbawahi, bekerja tak selamanya tentang uang. Bisnis yang dia geluti dan jalankan adalah juga upaya untuk membuat orang lain bahagia.
”Pada kenyataannya, menjalankan bisnis hanya untuk menghasilkan uang adalah hal yang salah. Semakin kamu ingin menghasilkan uang, uang akan makin menjauh darimu. Itu adalah misteri. Sebaliknya, apabila kamu bekerja keras untuk membuat setiap orang bahagia, uang akan datang kepadamu,” ujar Yanai.
Klise, karena ini diungkapkan setelah dia sukses. Namun, pengalaman adalah guru terbaik. ”Itu kenyataan,” ujarnya.
Baginya, kebahagiaan terletak pada kehidupan yang kita jalani setiap hari. ”Jika orang-orang di sekitarmu bahagia, kamu juga bisa bahagia,” katanya.
Fakta itu, ujar Yanai, kerap kali dilewatkan orang. Setiap individu, banyak yang hanya ingin bahagia untuk dirinya sendiri, tidak mau membuat orang lain bahagia. ”Maka, mereka sesungguhnya adalah orang yang sangat tidak bahagia as a matter a fact. Ini memang paradoks, tapi kenyataannya seperti itu,” papar Yanai.
Karena kebahagiaannya juga berarti kebahagiaan orang lain, dalam bekerja Yanai selalu berusaha meletakkan kebahagiaan orang lain di atas segalanya. Yanai bekerja untuk membuat orang lain bahagia. Selain karyawan yang membangun perusahaan bersamanya, tentu juga konsumen.
”Itulah mengapa slogan kami adalah Make for all. Jadi, semua orang akan menjadi orang terpenting. Aku ingin membahagiakan orang-orang yang paling tahu tentang pilihan pakaian mereka, orang-orang yang punya cara pandang berbeda, orang-orang yang cerdas, orang-orang yang punya standar tinggi dalam berpakaian. Aku ingin memastikan orang-orang ini bahagia,” kata Yanai.
Lewat pakaian sehari-hari berteknologi tinggi, Yanai memastikan semua orang berbahagia.
Baca juga: Kitaro, Si Jago Tua yang Bersahaja
Tadashi Yanai
Jabatan: Chairman, President & CEO Fast Retailing Co. Ltd
Lahir: Prefektur Yamaguchi, 7 Februari 1949
Pendidikan: Sarjana Ilmu Politik dan Ekonomi pada Universitas Waseda, Maret 1971
Anak: 2 orang