110 Persen Usaha Timo Tjahjanto
Menjadi ”filmmaker” butuh komitmen dan kerja keras. Usaha 110 persen dibutuhkan seperti nasihat sang ayah.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F10%2F03%2F3e7811d2-aa56-4688-bbff-42f59e70a9a0_jpg.jpg)
Timo Tjahjanto
Sejak mulai beranjak remaja, dunia film sudah sangat menggoda Timo Tjahjanto (44). Sebuah film drama laga kriminal karya sutradara, penulis naskah, sekaligus aktor berbakat Jepang era 1990-an, Takeshi Kitano, menginspirasi dan memesonanya untuk terjun menjadi seorang filmmaker.
Film berjudul Fireworks atau Hana Bi (1997) itu memenangi penghargaan internasional Golden Lion di Venice Film Festival tahun 1997. Alur cerita menarik dan sarat makna, disertai teknik pengambilan gambar yang sederhana, tetapi memperkuat alur cerita, membuat Timo tak bisa lupa. Dia pun yakin film adalah masa depannya.
Sayangnya, saat Timo mengutarakan niatnya ”nyemplung” ke dunia film, kedua orangtua tak merestui. Sang ayah lebih menginginkan Timo mengikuti jejaknya menjadi seorang dokter spesialis. Apalagi, Timo adalah anak laki-laki satu-satunya dari tiga bersaudara.
Kisah itu menjadi awal perbincangan dengan Timo saat ditemui, Kamis (3/10/2024), di salah satu studio di kawasan Bangka, Jakarta Selatan. Hari itu, Timo dijadwalkan mengikuti proses pengambilan gambar video promosi film terbarunya, Shadow Stray (2024), yang akan tayang 17 Oktober 2024 di layanan streaming film berbayar Netflix.
Baca juga: Resonansi Rasa Pat Boonnitipat
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F10%2F03%2F1934ef97-095b-4a7b-bfd6-823d70db88c7_jpg.jpg)
Timo Tjahjanto
Profesi dokter diyakini ayah Timo jauh lebih menjanjikan ketimbang menjadi seorang pekerja seni. Namun, kalaupun berminat, Timo mengaku sadar jika kemampuan akademiknya pas-pasan dan tak mendukung dirinya kuliah di kedokteran.
Timo menyebut dirinya bodoh, terutama di pelajaran Matematika, Fisika, Biologi, dan Kimia. ”Selain itu, saya juga enggak tertarik (jadi dokter) karena tahu jadi dokter itu susah. Nyawa orang lain seolah ada di tangan lho,” ujar Timo.
Ketertarikan Timo terhadap dunia seni sebenarnya sudah muncul sejak usianya 8 tahun. Saat itu, dia menyatakan ingin jadi pelukis. Namun, keinginan itu juga ditentang lantaran sama-sama dinilai tak bisa menjadi profesi menjanjikan. ”Memangnya kamu mau jadi tukang lukis di Ancol?” begitu Timo mengenang alasan kedua orangtuanya.
Profesi di dunia seni, termasuk dunia film, di masa itu masih dipandang sebelah mata. Selain itu juga terbilang kurang menjanjikan secara finansial. Terlebih, pada era 1980-an hingga 1990-an, perfilman Tanah Air disebut-sebut juga tengah mati suri. Dari sisi itu, penolakan orangtuanya, terutama ayah Timo, menjadi sangat kuat dan relevan.
Tarik ulur dengan sang ayah berkali-kali terjadi dan dialami Timo sepanjang masa studinya di Australia, terutama pada awal-awal Timo mengambil jurusan psikologi yang hanya betah diikutinya selama setahun. Sang ayah lantas memintanya tetap lanjut kuliah, tetapi pindah jurusan desain, yang dinilai menjanjikan secara profesi dan finansial. Lagi-lagi Timo tak kerasan dan mundur.
Memangnya kamu mau jadi tukang lukis di Ancol?
Timo kembali mengutarakan keinginan kuliah di jurusan perfilman. Akhirnya, dia direstui dan mulai mendalami passion-nya di School of Visual Arts, Australia. Hal itu bersamaan dengan membaiknya kondisi perfilman Tanah Air. Sejumlah pembuat film muda berbakat muncul menghasilkan karya-karya segar dan cerdas.
Timo menyebut nama Rudy Soedjarwo dan Riri Riza, dengan film garapan mereka yang sangat fenomenal, Ada Apa dengan Cinta (2002). Dukungan sang ayah juga disampaikan dalam bentuk pemberian kamera (video). Kamera itulah yang kemudian mempertemukan nasibnya dengan Kimo Stamboel, rekannya sesama pembuat film berbakat dan penggemar genre horor, laga, slasher, dan gore.
110 persen
Pertemuan kedua pendiri The Mo Brothers itu berawal dari rencana Kimo membuat film pendek horor untuk ditayangkan di acara kampusnya. Dia lantas membuka lowongan, mencari kamerawan yang sekaligus memiliki kamera.
Gayung Kimo pun bersambut dengan Timo. Film pendek berjudul Bunian (2003) sukses digarap. Keduanya pun bersahabat lantaran merasa punya passion yang sama, ingin menjadi pembuat film serius.
Saat kembali ke Tanah Air, The Mo Brothers pun berdiri. Rumah produksi itu banyak menghasilkan film bergenre horor, gore, dan slasher, yang saat itu belum terlalu banyak dilirik. Semua itu sekaligus menjadi semacam merek dagang (trademark) film-film The Mo Brothers.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F10%2F03%2F0ca34fd6-0879-46ab-b6ba-876fbd060102_jpg.jpg)
Timo Tjahjanto
Diawali film pendek Dara (2007), nama The Mo Brothers mulai bergaung. Film pendek itu mendapat penghargaan Pilihan Penonton di Festival Film Horor New York City di tahun yang sama. Kerja keras mereka membuahkan hasil.
Timo pun produktif berkarya. Beberapa filmnya yang bergenre laga slasher banyak menarik perhatian serta mengundang decak kagum. Namun, menurut Timo, semua pencapaian itu diraihnya dari bawah dan melewati jalan terjal berbagai kegagalan.
Sebelum bergabung membuat The Mo Brothers, Timo sempat bekerja ”serabutan” di industri film. Dia memulai dari bawah sebagai kru film behind the scene (belakang layar), semisal pencatat storyboard. Proyek film yang dikerjakannya pun sebatas klip video lagu, beberapa dari grup band papan atas ketika itu seperti Peterpan dan Ungu.
Soal kegagalan, Timo sempat mengalami fase di mana dia merasa gagal dan berada di titik nadir kariernya sebagai pembuat film. Penyebabnya, beberapa filmnya, seperti Killers (2014) dan The Night Comes For Us, dinilai gagal, yang akhirnya sukses digarap bersama Netflix dua tahun setelahnya.
Walau saat itu ( Killers) diterima di Sundance Film Festival, secara box office gagal total.
Killers digarap bekerja sama dengan penulis naskah asal Jepang, Takuji Ushiyama, mengambil lokasi shooting di Indonesia dan Jepang. ”Walau saat itu (Killers) diterima di Sundance Film Festival, secara box office gagal total,” ujar Timo yang gemar memasak untuk keluarganya itu.
Sementara itu, The Night Comes For Us sempat gagal dikerjakan lantaran dua pekan menjelang jadwal shooting pihak rumah produksi dan penyandang dana mundur. Dalam setiap kejadian itu, Timo merasa dirinya gagal dan sudah berada di titik nadir kariernya.
Dia bahkan sempat berpikir untuk ”lempar handuk”, tetapi urung mengingat perjuangannya dulu meyakinkan orangtuanya jika membuat film adalah jalan hidupnya. Terbukti, seusai diproduksi bersama Netflix dua tahun berselang, film itu meraih sukses dan tanggapan positif dari penonton.
Semua berkat kerja keras dan komitmen Timo pada karier dan pekerjaannya, seperti yang selalu diwanti-wanti sang ayah sejak kecil kepadanya. Oleh sang ayah, Timo dinasihati tentang pentingnya komitmen, kerja keras, dan usaha 110 persen. Angka 110 persen menggambarkan seberapa serius upaya yang harus dilakukan.
Ada orang bilang nonton film gue seru, tapi bikin capek. Ya, tugas gue bukan membuat penonton bersantai-santai, lalu bosan. Gue ingin penonton bisa ikut merasakan perjuangan dan terlibat secara emosional dengan karakter-karakter utamanya.
Bahasa universal
Nama Timo semakin berkibar dan mendunia setelah dia diminta menggarap dua produksi film di ”Negeri Paman Sam”, yakni Amerika Serikat (AS). Pada pertemuan awal Oktober lalu, Timo bahkan baru sekitar dua pekan selesai menyutradarai film laga Nobody 2, yang melibatkan aktris senior Hollywood, Sharon Stone. Film itu juga digarap penulis naskah kaliber dunia, Derek Kolstad, yang juga kreator sekuel laga waralaba fenomenal, John Wick.
Sebelum Nobody 2, Timo juga diminta menyutradarai The Last Train To New York yang bergenre horor mayat hidup (zombie). Timo ditunjuk untuk menyutradarai film remake versi ”Negeri Ginseng”, Korea Selatan, Train To Busan (2016), yang sebelumnya mendapat sambutan besar secara global.
Untuk kesuksesannya itu, Timo mengaku tak punya resep khusus. Dia hanya merasa harus berkomitmen dan bekerja keras dalam menggarap film-filmnya. Selain itu, dia juga mengaku tak pernah merasa ingin karyanya diakui secara internasional.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F10%2F12%2F599cc4f0-ed18-490f-b5bd-29267fb909c2_jpg.jpg)
Timo Tjahjanto
Saat menggarap filmnya, Timo hanya merasa harus bisa membuat karya yang bisa dipahami siapa pun penonton dan latar belakang negara atau bahasanya. Film, menurut dia, adalah bahasa universal yang harus bisa dipahami dan dinikmati siapa saja. Dia mencontohkan film-film di berbagai festival film internasional yang bisa dinikmati oleh orang dari berbagai latar budaya, bangsa, dan bahasa.
Intinya, tambah Timo, pembuat film jangan berpikir kalau membuat film cuma untuk ditonton orang di Indonesia. Film memiliki bahasa universal di mana penonton, siapa pun dan apa pun latar belakangnya, harus bisa merasakan ketakutan dan keseruan dari cerita film yang digarap. Karena itu, Timo mengingatkan agar tidak membatasi diri.
”Ada orang bilang nonton film gue seru, tapi bikin capek. Ya, tugas gue bukan membuat penonton bersantai-santai, lalu bosan. Gue ingin penonton bisa ikut merasakan perjuangan dan terlibat secara emosional dengan karakter-karakter utamanya,” ujar pengagum sutradara AS, Martin Scorsese, dan Jepang, Akira Kurosawa.
Baca juga: Motivasi Literasi Henry Manampiring
Dari situ pula, Timo mengaku sangat mengagumi filmmaker sejawatnya, Joko Anwar, yang menurut dia berani mengambil risiko melakukan apa yang belum pernah dilakukan di Indonesia lewat karya-karyanya. Timo menambahkan, saat perfilman Indonesia tengah diramaikan film-film horor sejenis, seperti Kereta Setan Manggarai (2008), Joko mengeluarkan film seperti Kala (2007) dan Pintu Terlarang (2009).
”Dia (Joko) selalu mencoba membuat sesuatu yang segar di Indonesia. Dia salah satu penjaga gerbang supaya perfilman Indonesia enggak stagnan atau monoton. Enggak gampang untuk bisa seperti itu karena pertaruhannya besar. Dia pun pernah beberapa kali gagal, tetapi sekarang lihat, dia jadi filmmaker yang dipuji di dunia internasional,” puji Timo.
Itulah Timo. Pekerja keras dan tak ragu belajar dari orang lain. Saat tak sedang sibuk membuat film, Timo memilih tidur atau memasak menu andalannya, meatballs alias bakso daging.
Menurut Timo, untuk orang seusianya, tidur adalah hal penting yang kerap diremehkan. Gaya hidup serba hustle atau tergesa-gesa dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain baginya hanya akan memperpendek usia.
Timothy Tjahjanto
Lahir: Wilhelmshaven, Jerman, 9 Mei 1980.
Pendidikan: School of Visual Arts, Australia
Prestasi:
- Pemenang Maya Awards 2019 kategori Sutradara Terbaik untuk film May the Devil Take You (2018)
- Pemenang Audience Award 2021 Bloody Madness kategori Sutradara Terbaik untuk film V/H/S/94 (2013)
- Pemenang Honorable Mention Best Bloodbath, Fantaspoa International Fantastic Film Festival 2015 (bersama Kimo Stamboel) untuk film Killers (2014)
- Pemenang Midnight X-Treme Sitges, Catalonian International Film Festival 2018 kategori Film Terbaik untuk film May the Devil Take You (2018)