Joey lantas menyapu pandangannya ke sekitar studio. Musisi jazz itu rupanya terkenang saat semua cerita bermula di sana.
Oleh
DWI BAYU RADIUS
·4 menit baca
Pianis muda dunia asal Indonesia, Joey Alexander, sudah hampir sebulan menikmati Jakarta. Nomine Grammy Awards tahun 2016 dan 2017 yang bermukim di New York, Amerika Serikat, sejak satu dekade silam itu tengah bersantai sejenak seraya menyiapkan konser selanjutnya pada akhir September 2024.
Bukan lumrahnya konser bagi Joey. Ia bakal tampil di tanah kelahirannya, Bali. Pertunjukan di Padma Resort Legian itu turut dimeriahkan penyanyi papan atas Tanah Air, Andien. Joey meluangkan waktu untuk wawancara eksklusif dengan harian Kompas di iCanStudioLive, Jakarta, Rabu (28/8/2024).
Hai Joey, bagaimana kabarnya?
Baik, lagi santai dulu sambil persiapan, ha-ha-ha. Sudah sepuluh tahun saya bermusik, khususnya di Amerika. Main di mana-mana. Di Eropa juga. Jadi, rileks sebentar dengan kumpul bersama keluarga dan teman-teman.
Perbedaannya selama di Indonesia?
Di Amerika, saya jarang makan masakan Indonesia. Enggak pernah makan bubur ayam buat sarapan, ha-ha-ha. Makanan Indonesia favorit saya, nasi goreng. Lainnya seperti sate.
Persiapan konser sudah sejauh apa?
Saya akan main di Padma tanggal 21 September nanti. Mereka punya program Padma Musical Series dan saya sudah main di sana, tahun lalu. Saya musisi jazz satu-satunya yang pernah tampil karena biasanya yang dipentaskan musik klasik. Pertunjukan terakhir saya, responsnya bagus dan Padma puas. Jadi, saya diundang lagi. Ternyata, jazz juga bisa menarik banyak penonton untuk datang meski musiknya tersegmentasi. Saya akan membawakan lagu-lagu sendiri selain Andien sebagai bintang tamu spesial.
Semacam pulang kampung?
Ya, begitulah, ha-ha-ha. Walau sudah berkarier sampai luar negeri, senang banget. Saya, kan, asalnya Bali. Andien juga sudah saya kontak sebelum ke Jakarta dan ngobrol. Perlu buat menjalin chemistry (kedekatan) karena sudah lama enggak ketemu.
Siapa saja musisi-musisi lain yang tampil?
Drumer Elfa Zulham dan basis Kevin Yosua. Formatnya seperti konser yang dulu atau trio akustik dari Jakarta. Saya sudah berteman lama. Jam terbang mereka tinggi. Pengalamannya sudah banyak. Senang banget bisa tampil di Padma lagi. Tentu, bareng Andien yang akan membawakan pop dengan sentuhan jazz. Lagu-lagu dari album pertama sampai terakhir, Continuance, juga akan saya bawakan, termasuk yang tembus nominasi Grammy.
Jazz yang akan dimainkan sepertinya ringan supaya bisa dinikmati keluarga?
Pertanyaan bagus. Saya berharap, keluarga bisa menikmati konsernya. Utamanya, enggak bermaksud mempromosikan jazz, tetapi saya pengin memberikan inspirasi terutama kepada generasi muda. Buat saya, pertunjukan kali ini menjadi kolaborasi yang istimewa bareng Andien. Durasinya belum bisa dikasih tahu, tapi terakhir saya main sekitar dua jam. Ada semacam istirahat, nanti juga begitu.
Jazz adalah musik improvisasi, tetapi saya akan tetap memainkan nomor populer klasik lain yang penonton kebanyakan tahu juga dan pastinya, lagu-lagu Andien. Tentu, saya enggak mau bocorin semua supaya jadi surprise (kejutan).
Kenalnya sudah lama. Waktu Andien masih sering main di Kemang (Jakarta), tempat ketemuan musisi-musisi yang sudah dikenal, saya sudah tahu. Pertunjukan kecil-kecilan begitu yang jadi host (pemandu acara) Indra Lesmana. Itu pertama kali saya dan Andien tampil main jazz. Tahunnya kapan, sudah lama banget. Persepsi saya jadi terbuka juga soal musik Indonesia.
Pengetahuan jazz Andien bagus dan pengalamannya sudah banyak. Saya senang karena Andien dicintai publik. Andien sudah lama bermusik dan punya nama di Indonesia. Saya tampil bareng Andien terakhir sudah lama banget, tahun 2014. Andien menyanyi ”Kasih Putih” dari Glenn Fredly. Saya senang main bareng Andien.
Kepribadian Andien yang bisa membawakan diri dengan baik juga bikin saya tertarik. Cara berinteraksi dengan penonton termasuk yang paling penting. Bersahaja dan ada tranquility (ketenangan). Bukan hanya sebagai partner, tetapi Andien juga nyaman dan menyenangkan untuk diajak kerja sama. Tugas saya dan Andien untuk menciptakan dan berbagi energi yang baik supaya penonton menikmatinya.
Saya belum ketemu Andien lagi tapi rencananya, minggu pertama September nanti mau latihan. Bukan di iCanStudioLive supaya suasananya beda. Kayaknya saya juga mau bikin konten buat media sosial supaya publik bisa mengintip latihan sedikit. Semacam mengajak masyarakat juga untuk menonton konsernya.
KOMPAS/DWI BAYU RADIUS
Joey Alexander
Ada harapan apa terhadap konsermu nanti?
Semoga yang pernah nonton balik lagi. Konsernya pasti berbeda. Siapa tahu pencinta jazz yang sedang tugas atau liburan di Bali bisa datang.
Maknanya sejauh ini setelah kamu sekian lama bermusik?
Saya enggak banyak memikirkannya. Kadang, muncul pikiran kalau saya terlalu cepat melangkah dan perlu agak pelan-pelan. Saya memulai karier sejak sangat dini. Saya tetap bersyukur dengan selalu berkarya sebaik mungkin.
Joey lantas menyapu pandangannya ke sekitar studio. Ia rupanya terkenang saat semua cerita bermula di sana. iCanStudioLive ternyata jadi tempat yang sangat bersejarah karena musisi yang sudah merilis tujuh album itu mengunggah video yang memikat Wynton Marsalis.
Komposer global itu takjub mengamati betapa belianya Joey, tetapi sangat mahir memainkan musik yang tergolong niche market atau punya pasar khusus. Lebih-lebih, sewaktu Joey membawakan ”’Round Midnight” gubahan Thelonious Monk. Tak hanya jazz, lagu itu sudah dinyanyikan dengan berbagai genre.
Punya proyek yang sedang digarap?
Enggak ada, tetapi saya pengin ngobrol di ruangan ini karena menjadi awal untuk go international. Tempat ini bersejarah karena membukakan saya pintu ke Amerika. Enggak semua orang bisa mengalaminya. Pergulatan di Amerika mengajarkan saya enggak cepat puas. Selalu ada ruang untuk membenahi kemampuan dan selalu semangat berkarya.
Di Amerika, sangat intens. Artinya, enggak mudah karena saya masih muda dan jadi ajang pembuktian untuk selalu memukau audiens. Orang Amerika enggak gampang kagum. Waktu di Grammy, saya jadi orang Indonesia pertama yang tampil. Musisi jazz banyak yang main, tetapi sejauh yang saya tahu, begitulah informasinya. Enggak semua bisa dapat spot di Grammy, belum lagi untuk musisi jazz.