Di Balik Bayang-bayang Anggun
Penyanyi Anggun mengulas lebih dalam tentang hidupnya menjelang konser #EnchantingANGGUN pada 28 Juli 2024.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F07%2F22%2Fed0f1f85-4ac5-4533-8995-f0b801e345b7_jpg.jpg)
Anggun C Sasmi dalam sesi pemotretan setelah jumpa pers persiapan konsernya di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta, Senin (22/7/2024). Anggun akan menggelar konser tunggal bertajuk #enchantingANGGUN di Jakarta Convention Center Plenary Hall, Jakarta, 28 Juli 2024.
Seorang diva sebentar lagi akan muncul di atas panggung. Dia adalah Anggun, penyanyi kelahiran Indonesia dengan karier internasional gemilang selama empat dekade. Anggun segera menyapa penggemar Indonesia dalam konser solo bertema #EnchantingANGGUN di Jakarta Convention Center, Jakarta, 28 Juli 2024.
Lahir pada 1974, Anggun memulai karier sebagai bintang cilik yang kemudian memutuskan berkarier di kancah internasional. Anggun pindah ke Perancis untuk mengejar debut musik di Eropa pada usia 20 tahun.
Pada akhir 1990-an, lagu ”Snow On The Sahara” mengalami terobosan besar di industri musik Perancis. Nama Anggun melambung secara global. Ia merilis album debut internasional di 33 negara yang terjual lebih dari dua juta unit. Anggun juga menulis dan menyanyikan lagu tema utama film The Transporter 2 (2005) yang merajai box office Amerika Serikat.
Karier Anggun telah mendapat pengakuan di Indonesia, Italia, Perancis, Malaysia, Swiss, Filipina, Amerika Serikat, Singapura, dan masih banyak lagi. Selain bermusik, ia juga menjadi juri di sejumlah kompetisi mencari bakat, termasuk Asia’s Got Talent.
Pada 2014, perempuan bernama lengkap Anggun Cipta Sasmi ini menerima Penghargaan Musik Dunia yang legendaris di Monaco sebagai Artis Asia Terlaris. Anggun pernah tampil di hadapan pemimpin dunia, antara lain Barack Obama, Bill Clinton, dan tiga Paus.
Kompas sekali lagi mendapat kesempatan untuk bercakap-cakap dengan penyanyi berprestasi ini. Anggun sebelumnya sudah berbagi tentang rencana konser bersama promotor Flashback Motion, perjalanan karier, pengalaman hidup, dan mimpi pada Mei lalu.
Baca juga: Anggun dan Mimpi-mimpi yang Tersisa
Kali ini, Anggun berbicara lebih dalam hal-hal dalam hidup yang membentuknya menjadi Anggun yang kita kenal. Ia membahas persiapan tahap akhir konser, proses kreatif ketika berkarya, cinta, menjadi orangtua, dan perspektif melihat hidup yang dinamis. Rupanya, Anggun di bawah lampu sorot panggung sama saja dengan yang ada di belakang layar.
Pembicaraan tersebut berlangsung dengan ringan dan intim di sela-sela kesibukannya saat berkunjung ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta, Senin (22/7/2024). Berikut hasil wawancara Kompas bersama Anggun:
Halo lagi, Anggun. Bagaimana persiapan konsernya?
Halo. Teorinya sudah matang, tetapi praktiknya belum karena sampai hari ini belum latihan. Karena belum siap, jadi latihannya mulai besok. Tapi semua konsep, visual kita sudah shooting, panggungnya aku sudah tahu kayak gimana, terus aransemen lagu-lagunya sudah dikirim. Jadi, besok mulai latihannya, sih. Mulai senang-senangnya besok sebenarnya.
Jadinya lagu-lagu apa saja yang akan dibawakan? Terakhir katanya 20 lagu.
Konser ada dua jam. Lagu-lagunya jangan dikasih tahu, tapi yang jelas ada lagu-lagu lama yang jadi identitas aku karena kalau itu enggak dinyanyiin pasti penggemar protes.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F07%2F22%2Fee718204-5f63-4f0a-bad4-0e586b83251a_jpg.jpg)
Anggun C Sasmi dalam sesi pemotretan setelah jumpa pers persiapan konsernya di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta, Senin (22/7/2024). Anggun akan menggelar konser tunggal bertajuk #enchantingANGGUNdi Jakarta Convention Center Plenary Hall, Jakarta, 28 Juli 2024.
Bicara soal lagu, bagaimana sebenarnya proses kreatif Anggun saat berkarya?
Oh, macam-macam dan berubah-berubah, sih, sebenarnya. Kadang lagu itu datangnya karena satu beat dari musik, karena musiknya, kadang dari satu kata, atau dari satu ide yang muncul karena aku nonton film dokumenter atau film apa. Bisa juga dari obrolan dengan teman-teman, tergantung. Bapakku (almarhum Darto Singo) dulu bilang, sebagai penulis lagu atau penulis buku, kan, harus dapat ilham. Tapi, ilham itu jangan ditunggu. Ilham itu dicari, dan cara mencari kita harus ubek-ubek gitu dari nonton film yang berbobot, lihat pameran-pameran, apa pun yang bisa buat kita berpikir. Dan, buat aku, itu salah satu nasihat yang sangat bermakna.
Sampai hari ini aku sampai harus berhati-hati dengan apa yang aku beri ke diri sendiri, misalnya kita suka nonton TV, ya, kadang film-film yang lucu oke, tapi, kan, jangan film yang lucu-lucu terus. Jadi, harus diimbangi dengan film arthouse. Atau anakku, Kirana, usianya sekarang 16 tahun dan hampir 17 tahun, jadi serajin mungkin ajak dia nonton pameran foto, pameran lukisan, dan kebetulan juga karena kita tinggal di Paris jadi banyak sekali pameran yang lumayan keren. Kirana juga sangat suka gitu.
Semacam asupan bergizi untuk otak, ya?
Iya. Sebenarnya ilham ada di mana-mana, tinggal bagaimana kita pintar-pintar untuk memetiknya saja. Apa pun sebenarnya bisa, enggak cuma sesuatu dari seni, ya, tapi kadang percakapan, teman-teman, atau melihat informasi. Apa pun itu bisa kita sulap menjadi sesuatu dan ini yang sangat menarik buat aku. Kadang lahirnya satu lagu itu kita enggak tahu datangnya dari mana. Oh, dari sini toh awalnya, tetapi ujungnya kayak gimana dan akhirnya diterimanya seperti apa. Ini yang menjadikan membuat sesuatu itu terasa ada magisnya.
Beberapa lagu dalam album Anggun, termasuk album 8, bicara tentang cinta. Dari awal Anggun berkarya sampai sekarang, apakah perspektif Anggun tentang cinta telah berubah?
Mungkin sekarang aku lebih rileks, ya. Dalam artian, kita enggak bisa berpikir kalau melakukan begini, dia pasti begini, ya, enggak juga. Setiap orang berbeda. Orang itu sekarang begini, belum tentu sama besoknya. Kita akan selalu ada satu titik evolusi dan kita harus hati-hati karena evolusi terjadi pada diri kita dan juga orang lain, tetapi kadang ada orang yang enggak jujur. Enggak jujur karena mereka enggak mau menyakiti atau enggak mau tahu.
Aku sekarang lebih rileks dan hati-hati. Aku selalu wanti-wanti ke anakku, sekarang kan masanya dia untuk merasakan cinta pertama. Aku tahu cinta pertama itu yang paling menyakitkan kalau sudah selesai dan dia belum punya pengalaman apa-apa. Jadi, semua itu terasa serba berat. Padahal, sekarang kita kalau putus cinta, ya, sudah walaupun sakit-sakit, tapi enggak sesakit dia gitu. Aku harus bilang hati-hati ke dia bahwa jalanmu masih panjang, hidupmu masih panjang, dan kamu itu juga semakin hari akan semakin belajar tentang kapasitas kamu mencintai seseorang. Sejauh mana kamu mau berkompromi, tetapi sebisa mungkin cinta itu sesuatu yang mestinya membuat kamu bahagia terus, pikiran jadi ringan, dan senang aja kalau dengan orang itu karena sesuatu. Dan, orang itu bisa memberimu motivasi untuk membuat sesuatu.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F07%2F22%2F10090739-366f-46b2-83e3-4ea5717429eb_jpg.jpg)
Anggun C Sasmi dalam sesi pemotretan setelah jumpa pers persiapan konsernya di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta, Senin (22/7/2024). Anggun akan menggelar konser tunggal bertajuk #enchantingANGGUN di Jakarta Convention Center Plenary Hall, Jakarta, 28 Juli 2024.
Anggun jadi lebih rileks dan realistis, ya?
Iya. Kadang aku pikir kenapa, sih, kita harus masuk dalam pola pacaran, menikah, terus punya anak. Kadang kan hidup enggak gitu. Kadang orang pacaran, terus kalau disini orang bilang ’kecelakaan’ terus disuruh menikah. Ya, mungkin pada dasarnya itu bukan cinta, mungkin sesuatu yang lain, atau mungkin itu cinta pada saat itu, tetapi bukan cinta yang lekang. Jadinya gimana dong, apakah harus menikah? Kasihan, kan, anaknya. Apakah kita sama-sama jujur untuk bilang mungkin jalannya sudah sampai di sini.
Aku rileks dalam artian, dalam satu hidup, kita akan ketemu banyak orang dan kadang orang itu hanya untuk sampai di titik sini saja dan yang lain untuk mengantar kamu sampai ke orang lain. Dan, kalau kamu beruntung, kamu menemukan orang untuk menemani sampai akhir. Pengennya begitu, tapi kadang itu enggak terjadi. Jadi, enggak apa-apa, asal kamu hati-hati saja, jangan menyakiti orang lain dan diri sendiri.
Kita harus jujur dengan apa yang kita mau, otomatis yang di depan kita minta untuk juga jujur. Jadi, kita enggak menghabiskan waktu orang dan waktu kita sendiri. Kalau menghabiskan waktu tujuh tahun bersama orang itu dan tidak dinikahi, ya, salah sendiri, ha-ha-ha. Buat aku, perempuan juga enggak harus dilamar, kita juga bisa melamar. Kalau memang maunya itu, ya, kenapa harus menunggu. Yang jelas, kejujuran itu harus dibicarakan, enggak harus semua tapi esensinya harus diungkapkan. Kalau tidak nyaman dengan sesuatu juga harus kasih tahu karena orang enggak bisa menebak isi kepala kita kalau bukan kita sendiri.
Pemikiran tentang cinta itu juga tergambar di lagu-lagu Anggun. Ada lagu-lagu yang bahagia banget, tetapi ada ’tapi’ atau ’tunggu dulu’, ya?
Benar. Karena kalau kita baca dongeng ada they live happily ever after dan kita percaya itu. Sebenarnya itu enggak ada, enggak nyata. Buat aku, kalau kita bahagia hari ini, ya, sudah senangi saja hari ini karena besok belum tentu datang karena kebahagiaan itu enggak ada yang kekal. Jadi, kita harus menangkap semua fragmen-fragmen kebahagiaan.
Misalnya, aku bilang sama anakku kalau malam, ”Yang bikin kamu senang hari ini apa? Yang bikin kamu sedih apa? Nah, apa yang bikin kamu sedih itu lebih penting dari yang bikin kamu senang?” Jadi, semua kebahagiaan diambil, tapi semua kesedihan juga ada biar ada keseimbangan karena kesedihan itu harus ada supaya kita tahu rasanya bahagia itu apa sebenarnya. Dan, buat aku penting sekali untuk menunjukkan itu ke anakku karena aku juga sebagai model perempuan pertama buat dia.
Aku selalu berusaha untuk menjadi wanita yang kuat, tegar, dan tegas pada diri sendiri. Dan, ternyata itu ada salahnya kalau aku selalu tegar dan tidak pernah menunjukkan sisi lemah, luwes, dan sensitif. Menjadi lemah itu enggak apa-apa sebenarnya. Aku pertama kali menangis di depan anakku itu waktu umurku 45 tahun. Dia enggak pernah lihat Mamanya nangis, enggak syok sih, tapi aku bilang, ”Mama minta maaf, ya, cuma ini karena sejujurnya seperti ini.” Soalnya yang aku tangisi bukan sesuatu yang sepele, tetapi sesuatu yang berat. Aku juga mengajarkan dia untuk tahu bahwa kita harus bisa mengungkapkan rasa kita yang sebenarnya ke orang lain karena kalau enggak, mereka enggak tahu. Aku enggak mau orang berpikir, ”Oh, dia orangnya keras, kok, tahan banting.” Enggak bagus untuk jadi tahan banting. Aku maunya kita itu jatuh dan bisa bangun lagi.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F07%2F22%2F2311bb0f-4147-4cb2-8786-06f7a25ae923_jpg.jpg)
Anggun C Sasmi dalam sesi wawancara khusus dengan wartawan Kompas seputar persiapan konsernya di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta, Senin (22/7/2024). Anggun akan menggelar konser tunggal bertajuk #enchantingANGGUN di Jakarta Convention Center Plenary Hall, Jakarta, 28 Juli 2024.
Kalau kita membahas soal menjadi orangtua, apa ada nasihat dari orangtua Anggun yang berkesan dan Anggun teruskan ke anak?
Oh, banyak sekali. Tapi, ya, maksudnya itu kan dari kacamata yang dulu, tapi masih ada yang dilanjutkan ke Kirana. Ya, keluarga itu penting, tetapi aku tambahi lagi asal jangan punya keluarga yang toksik. Walaupun darah itu lebih kental dari air, tapi kalau ada anggota dari keluarga yang bawaannya cuma menyusahkan, minta terus, atau menggurui hidup ya diamkan saja. Karena hidupmu itu hidupmu. Makanya, aku suka hati-hati untuk menasihati orang karena itu hidupnya mereka bukan hidupku. Yang bisa aku kasih tahu berdasarkan hidupku.
Terus, yang aku kasih tahu lagi sama Kirana dari orangtua terus aku tambahi itu bergaullah sama siapa pun. Kalau aku bilang, sekarang sudah enggak boleh kayak gitu. Kalau berteman, harus pilih-pilih, seperti yang enggak rasis atau orang yang sudah jelas-jelas berdampak jelek. Tapi, bertemanlah dengan semua orang dari sisi sosial dan umur yang beda sekali dari kita. Jadi, antargenerasi itu ada satu hubungan, karena aku lihat anak-anak muda itu berteman dengan anak-anak muda semua. Mereka enggak sering bercampur, padahal banyak sekali yang bisa kita pelajari dari generasi sebelumnya walaupun suka agak kolot atau apa pun.
Baca juga: Anggun dengan Rambut Panjang
Terakhir, lagu-lagu Anggun yang lain juga membicarakan banyak hal, termasuk soal kemanusiaan dan perempuan, seperti ”In Your Mind”. Menurut Anggun, seberapa penting lagu menjadi alat untuk menyampaikan pemikiran dan membuka perspektif feminisme di masyarakat yang masih patriarki?
Dulu, aku sering menulis di satu platform literasi, namanya Qureta. Aku menulis tentang solidaritas feminin, LGBT, komunisme, dan banyak hal yang enggak ada hubungannya dengan musik dan aku sebagai penyanyi, tetapi sebagai perempuan. Aku sebenarnya suka banget kayak gitu, tapi kadang harus mencampurnya ke musik itu yang membuat orang tergelitik. Makanya, lagu ”In Your Mind” itu datangnya dari satu dokumenter yang berat banget sebetulnya. Dokumenter di Iran, ada perempuan yang pakai niqab gitu, dia lagi garuk-garuk terus mata kakinya kelihatan lalu dipukul dan keluarganya dihukum. Dari situ, aku berpikir ini sebenarnya salahnya di mana sih, apa di tubuh perempuan atau kepalanya laki-laki? Apa sih yang seksual dari mata kaki? Kan, enggak ada. Cuma kalau pikiran kamu udah jelek, apa pun dilihat jelek, apa pun bisa jadi semacam trigger. Ini yang buat aku tergugah untuk bikin lagu seperti itu.
Kayaknya sekarang aku lebih suka interview atau menulis esai, tapi kayaknya sama saja karena orang kadang cuma baca judulnya atau baca ke bawah lalu menemukan kata tertentu. Buat aku, kita harus tetap mencoba berbagi pikiran walaupun itu sampai atau tidak sampai. Yang jelas aku sudah melaksanakan, bukan tugas sih, tapi misi diri sendiri.