logo Kompas.id
โ€บ
Sastraโ€บDari Tungku Perapian, Ibu dan ...
Iklan

Dari Tungku Perapian, Ibu dan Aku Melipat Kenangan

Ibu memantulkan wajah pucat padaku. Ibuku juga semakin kehabisan kata-kata berbicaranya dengan Abang Usman. Kebencian orang kampung seberang pada Abang Usman semakin deras mengalir di telingaku.

Oleh
Farizal Sikumbang
ยท 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/W5t_LnxV1_SsaDCzyj3OwUDFqOU=/1024x1424/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F07%2F16%2Fe885f1e1-4036-4281-bff5-e8a61f0c1399_jpg.jpg

Ibu duduk menjongkok di depan tungku perapian yang di susun dari batu bata usang, sedikit berlumut hijau dan kehitaman. Ibu sedang memasak nasi di atas tungku itu dengan menggunakan kayu dan daun kelapa yang sudah mengering. Periuk tua yang bagian bawahnya sudah sangat menghitam dan sedikit peot itu mengepulkan asap putih kehitaman. Sesekali penutup periuk nasi terlihat melompat-lompat ketika air mendidih.

Dari tangga rumah kayu yang turun ke dapur ini, aku juga melihat dua mata ibu berair. Lalu perlahan menetes ke pipi. Itu pasti bukan karena asap dari tungku yang membuat mata ibu perih. Tetapi sesungguhnya, karena ibu memikirkan Abang Usman. Jadi, ini tidak ada hubungannya, antara berairnya mata ibu dengan asap dari tungku perapian itu.

Editor:
MOHAMMAD HILMI FAIQ
Bagikan