Analisis Litbang ”Kompas”: PDI-P dalam Bayang Krisis Pemilih Mula
Kendatipun mampu mempertahankan keunggulannya dalam Pemilu 2024, loyalitas kaum muda pada PDI-P terbilang lemah.
Oleh
BESTIAN NAINGGOLAN
·4 menit baca
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berpidato saat kampanye pasangan capres-cawapres Ganjar Pranowo-Mahfud MD di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (3/2/2024).
Dibandingkan dengan beberapa kompetisi pemiihan umum sebelumnya, Pemilu 2024 bagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menjadi ajang politik paling dramatik yang dilalui. Bagaimana tidak? Di bawah tekanan dan ancaman penurunan suara dukungan pemilih sebagaimana yang diprediksikan sebelumnya oleh berbagai hasil survei opini publik, faktanya partai ini tetap berjaya.
Hasil hitung cepat Kompas menunjukkan PDI-P dalam posisi teratas, diperkirakan meraup 16,31 persen. Berikutnya, terpaut kurang dari 2 persen, diduduki Partai Golkar (14,64 persen), dan menyusul Gerindra (13,47 persen). Dibandingkan dengan kemenangan partai ini dalam Pemilu 2019, terjadi penurunan dukungan. Kala itu, PDI-P masih mampu meraih dukungan 19,33 persen.
Baca Berita Seputar Pilkada 2024
Pahami informasi seputar Pilkada 2024 dari berbagai sajian berita seperti video, opini, Survei Litbang Kompas, dan konten lainnya.
Faktor penyebab penurunan, sejauh ini lebih banyak tertuju pada keberadaan faktor Joko Widodo, yang belakangan ini relasinya dengan PDI-P kerap dipertentangkan. Dengan mengacu hasil survei prapemilu dan survei pasca-pencoblosan (exitpoll) juga tecermin fenomena politik semacam ini, yang sekaligus memperkuat argumentasi terbangunnya jarak antara PDI-P dan Jokowi.
Sebagai gambaran, mengacu pada hasil survei pra pemilu periode Agustus 2023, dari seluruh responden yang mengaku menjadi pemilih pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019, sebanyak 38,1 persen yang juga mengaku menjadi pemilih PDI-P. Namun, sayangnya, proporsi dukungan pemilih Jokowi pada PDI-P menurun signifikan. Berdasarkan hasil survei pasca-pencobolosan, 14 Februari 2024, dukungan pemilih Jokowi pada PDI-P tinggal 23,6 persen.
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Vokalis Slank, Kaka, bernyanyi di hadapan sukarelawan dan simpatisan Ganjar-Mahfud di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta (3/2/2024).
Mulai ditinggal pemilih Jokowi, terbukti berkonsekuensi penurunan dukungan pada PDI-P dalam Pemilu 2024. Namun, menariknya, di bawah arus migrasi perpindahan suara tersebut, kemampuan PDI-P dalam menjaga keunggulannya di antara partai politik lain menjadi suatu catatan prestasi. PDI-P menciptakan hattrick politik pemilu, yang belum dapat diciptakan partai lain pascareformasi politik 1998.
Di tengah keunggulan PDI-P, beberapa catatan kritis patut diketengahkan. Salah satu paling menonjol terkait dengan keberadaan dan relasi politik para pemilih mula pada partai ini. Pemilih mula yang dimaksud merupakan para pemilih yang pada Pemilu 2024 kali ini menjadi pengalaman pertama dalam memilih. Jika dikalkulasi berdasarkan usia, pemilih mula diperkirakan berusia 17 tahun hingga 22-23 tahun.
Keberadaan pemilih mula dalam pemilu tidak dapat dipandang remeh. Proporsinya yang terbilang signifikan, 12-13 persen, dapat menjadi determinan politik dalam menentukan keunggulan. Di samping itu, keberadaan pemilih mula turut pula menjadi indikator prospek masa depan politik dan kepartaian. Itulah mengapa, sedikit ataupun besarnya dukungan kaum pemula politik yang terjadi pada setiap partai dapat menjadi ukuran masa depan kepartaian.
Dalam pemilu kali ini, keberadaan dan perilaku politik kaum mula terhadap pilihan politik capres dan partai ini menjadi semakin menarik dicermati. Pada partai politik tertentu, khususnya PDI-P yang menjadi partai teratas dalam penguasaan dukungan pemilih, justru tampak problematik pola relasinya.
KOMPAS/WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO
Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani menghadiri kampanye di Rempoah, Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (2/2/2024).
Di satu sisi, merujuk pada hasil survei pasca pencoblosan, kaum pemilih mula menunjukkan pola pilihan yang berbeda dengan kalangan pemilih lainnya. Dalam hal ini, jika PDI-P menjadi partai yang diperkirakan mendapat suara terbanyak dari total pemilih di negeri ini, kondisi yang sama tidak terjadi pada kalangan pemilih mula.
Dengan mengacu pada hasil survei pasca-pencoblosan yang dilakukan Litbang Kompas, pilihan terbanyak kaum pemilih mula tertuju pada Partai Gerindra. Tidak kurang sebanyak 14,5 persen pemilih mula yang berhasil dikuasai Gerindra.
Proporsi tersebut masih lebih besar ketimbang PDI-P yang kali ini hanya mampu menguasai 12 persen pemilih mula. Menyusul kemudian Golkar, PKB, Nasdem, PAN, dan Demokrat.
Besaran proporsi kaum mula yang terkuasai PDI-P tampak lebih kecil ketimbang penguasaan partai ini terhadap kategori pemilih lainnya atau pemilih yang sebelumnya telah berpengalaman memilih (17,2 persen). Begitu pula, kondisi demikian menunjukkan perbedaan PDI-P dengan partai politik lainnya, yaitu menjadi partai dengan proporsi dukungan pemilih mula yang berbeda dan lebih kecil.
Ancaman krisi pemilih mula PDI-P
Apa yang dialami PDI-P kali ini setidaknya mulai menyiratkan adanya bayangan ancaman krisis pemilih mula, yaitu tatkala perimbangan dukungan kaum muda yang relatif lebih sedikit pada partai ini ketimbang partai politik lainnya. PDI-P menjadi partai yang lebih dominan diminati kalangan yang berpengalaman politik lebih banyak ketimbang kaum pendatang baru politik.
Di sisi lain, yang tidak kurang problematik, terkait dengan karakteristik politik kaum pemilih mula PDI-P yang tergolong labil. Dikatakan demikian lantaran derajat loyalitas yang dimiliki kaum pemilih mula pada PDI-P juga tidak sekuat sebagaimana yang ditunjukkan partai-partai politik lainnya.
Derajat loyalitas pemilih mula yang masih labil ini dapat ditunjukkan pada keselarasan dukungan terhadap capres yang dirujuk partai. Mengacu pada hasil survei pasca-pencoblosan, terbukti jika para pemilih mula PDI-P tidak sepenuhnya menjatuhkan pilihan capres yang sama dengan capres yang diusung PDI-P bersama koalisinya.
Hasil survei menunjukkan, pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD hanya dipilih oleh 35,3 persen dari total pemilih mula PDI P. Sementara bagian terbesar pemilih mula PDI-P (54,7 persen) justru menjatuhkan pilihannya pada pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Kondisi demikian sangat kontras perbedaannya jika dibandingkan dengan para pemilih PDI-P lainnya. Mereka yang tergolong berpengalaman memilih, sedikitnya 61,2 persen menjadi pemilih PDI-P yang loyal, menjatuhkan pilihan pada pasangan Ganjar-Mahfud.
Perbedaan-perbedaan karakteristik pilihan yang mencolok pada kalangan pemilih mula PDI-P seolah menyiratkan adanya ”pembangkangan” politik kaum mula yang ditunjukkan oleh rendahnya daya tarik partai dan problem loyalitas pemilih kalangan mula yang tidak sejalan dengan garis kebijakan partai saat pencapresan. Dalam konteks kaderisasi politik, dua kondisi yang terjadi dalam pemilu kali ini sudah barang tentu menjadi alarm pembenahan. (LITBANG KOMPAS)