logo Kompas.id
RisetLangkah Dunia Atasi Dampak...

Langkah Dunia Atasi Dampak Perubahan Iklim di 2022

Tahun 2021 dilalui dengan segala capaian dan kegagalan agenda perubahan iklim. Semua negara diingatkan kembali untuk memperkuat upaya mengurangi emisi di 2030.

Oleh
Debora Laksmi Indraswari
· 3 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/J2dLNYRrgqNwTP99CnY3NaZNKIk=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F11%2F20211103WEN5_1635905892.jpg
AP/NATACHA PISARENKO

Wisatawan berjalan mendaki menyusuri formasi glester Perito Moreno di Taman Nasional Los Glaciares, Argentina (2/11/2021). Perubahan iklim yang memicu pemanasan global menjadi kekhawatiran terhadap percepatan mencairnya es di beberapa kawasan di dunia.

Seiring dengan pergantian tahun, dunia diingatkan akan agenda perubahan iklim yang belum tercapai. Tenggat untuk mencegah dampak perubahan iklim semakin sempit.

Pergantian tahun menandai babak baru dalam setiap sektor kehidupan manusia. Bagi hal krusial seperti perubahan iklim, pergantian tahun mengingatkan bahwa tidak banyak waktu lagi untuk mencegah kerusakan bumi yang lebih parah. Tahun 2021 dilalui dengan segala progres dan kegagalan agenda perubahan iklim. Ini memacu negara-negara untuk memperbaikinya di tahun 2022.

Namun, sejumlah perkembangan agenda perubahan iklim dunia patut menjadi perhatian lantaran menjadi dasar bagi merencanakan upaya selanjutnya. Sejenak kilas balik, pada awal 2021 Amerika Serikat bergabung kembali dalam upaya global menghadapi perubahan iklim melalui Kesepakatan Iklim Paris 2015. Sebelumnya, pada 2020 AS di bawah kepemimpinan Donald Trump sempat mengundurkan diri dari Kesepakatan Paris.

Bergabungnya kembali AS dalam agenda perubahan iklim dunia meluruhkan sedikit kekhawatiran akan melemahnya komitmen negara-negara lain untuk mencegah bertambah parahnya perubahan iklim. Pasalnya AS memiliki peran penting secara politik maupun ekonomi dalam memimpin upaya tersebut.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/8OIdqnxkIxcpc7Iz8lEhTvDThIM=/1024x684/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F05%2F20210520WEN5_1621488602.jpg
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Warga melintasi salah satu akses jalan yang mulai hilang tergerus ombak saat akan berziarah dan mengunjungi kerabat mereka di Desa Bedono,Kecamatan Sayung Kabupaten Demak, Jawa Tengah (20/5/2021). Perubahan iklim, kerusakan ekosistem mangrove dan penurunan permukaan tanah menjadi persoalan lingkungan di sebagian pesisir utara Jawa.

Selain itu, AS merupakan negara kedua penghasil emisi karbon terbesar setelah China. Besar kemungkinannya, jika komitmen AS dalam agenda perubahan iklim tidak berjalan, emisi karbon tidak mampu ditekan optimal. Kembalinya AS berpotensi memperkuat komitmen negara-negara di dunia untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Perbaikan lainnya terkait dengan perkembangan agenda perubahan iklim dunia adalah keberhasilan menahan kenaikan suhu bumi. Per November 2021, menurut Lembaga Climate Action Tracker (CAT) kebijakan yang saat ini ditetapkan negara-negara berdampak pada kenaikan suhu global 2,7 derajat Celcius pada 2100 dibandingkan era pra-industri.

Perkiraan tersebut lebih baik dibandingkan perhitungan yang dilakukan lembaga CAT pada 2014. Saat itu, CAT memprediksi suhu bumi akan meningkat 4 derajat Celcius pada 2100 dibandingkan masa pra-industri.

Artinya, nampak hasil dari upaya menahan kenaikan suhu bumi dalam tujuh tahun terakhir. Kebijakan negara-negara seperti transformasi ke Energi Baru Terbarukan (EBT), meningkatkan penggunaan kendaraan listrik, mengurangi deforestasi berhasil mengurangi risiko pemanasan bumi dari 4 derajat celcius menjadi 2,7 derajat celcius.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/yt0gkmqQqlmMey0gAAGRoniGaWE=/1024x3512/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F20211230-HKT-Kenaikan-Suhu-mumed-01_1640877725.jpg

Komitmen

Salah satu yang mendorong tercapainya hal itu adalah Kesepakatan Iklim Paris 2015. Tak dapat dimungkiri, kesepakatan ini berarti penting bagi agenda perubahan iklim dunia. Sebab, untuk pertama kalinya hampir setiap negara di dunia menaruh komitmen bersama untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) demi mengurangi dampak perubahan iklim.

Di dalam kesepakatan itu, setiap negara wajib membuat dan melaporkan dokumen Komitmen Kontribusi Nasional atau Nationally Determined Contribution (NDC). Dokumen ini berisi kebijkan, target dan tindakan kontribusi setiap negara untuk mengurangi emisi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim yang harus dikomunikasikan di tingkat dunia setiap lima tahun.

Setelah lima tahun kesepakatan diadopsi, negara-negara wajib memperbarui komitmen NDC mereka. Pembaruan ini perlu dilakukan lantaran komitmen awal belum cukup untuk mencegah kenaikan suhu bumi sesuai target Kesepakatan Paris.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/6CvAaLme10AghFV35ngAeKFpdeE=/1024x681/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2Fiss040e006780_1633241757.jpg
NASA

Awan di atas Samudera Pasifik bagian selatan yang dipotret dari Stasiun Luar Angkasa Internasional pada 3 Juni 2014. Keberadaan awan menjadi penanda perubahan iklim dan juga medium untuk mengetahui perubahan sinar Matahari yang dipantulkan kembali oleh Bumi ke luar angkasa.

Berdasarkan rencana awal, dokumen NDC harus diperbarui pada 2020, lima tahun setelah Kesepakatan Paris disepakati. Akan tetapi karena pandemi Covid-19, proses pengomunikasian NDC ditunda ke 2021 yakni saat Pertemuan Perubahan Iklim COP 26 Glasgow. Karena itulah COP 26 Glasgow menjadi momen penting dan menentukan agenda perubahan iklim beberapa tahun ke depan.

Hingga 12 Oktober 2021, hanya 152 negara yang telah melaporkan dokumen NDC baru dan yang telah diperbarui. Sejumlah negara tersebut berkontribusi terhadap 81,3 persen emisi global.

Menurut analisis Climate Action Tracker, 22 negara atau kelompok regional dari 36 negara yang diteliti telah menetapkan target NDC lebih kuat dibandingkan komitmen sebelumnya. Dari 22 negara itu di antaranya ada Uni Eropa, China dan Amerika Serikat yang termasuk negara penghasil emisi terbesar.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/_rZ5rVGFwDHlgj2cVPuq2hGFLE4=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2Ffoto01_1640060569.jpg
KOMPAS/M PASCHALIA JUDITH J

Suasana unjuk rasa bertajuk Fridays for Future pada 5 November 2021 yang diikuti sekitar 8.000 – 10.000 orang di George Square, Glasgow, Skotlandia. Aksi tersebut menyerukan kegelisahan terhadap perubahan iklim.

Sementara Indonesia termasuk dalam kelompok negara yang tidak meningkatkan ambisi NDC. Menurut analisis CAT, target NDC Indonesia yang telah dilaporkan pada Juli 2021 tidak memperkuat komitmen dan target 2030. Target tidak berubah dibanding komitmen sebelumnya dan berpotensi meningkatkan emisi lebih besar.

Komitmen setiap negara melalui NDC ini menunjukkan langkah bersama masing-masing negara untuk mencegah dampak perubahan iklim yang lebih parah di masa depan. Sekalipun penting, NDC hanya berkontribusi mengurangi 7,5 persen dari perkiraan emisi 2030. Sementara untuk mencapai target Kesepakatan Paris 2015 dibutuhkan pengurangan sebesar 55 persen.

Dari 22 negara yang telah meningkatkan target NDC, tidak ada satupun yang tergolong cukup untuk membatasi kenaikan suhu bumi di bawah 1,5 derajat celcius sesuai tujuan Kesepakatan Paris 2015.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/Hf6WiPSWVMLPOTofijh1oHKZACU=/1024x2810/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2F20211003-H04-LHR-Bencana-alam-mumed_1633277143.jpg

Tantangan 2022

Dalam Pertemuan Perubahan Iklim COP 26 Glasgow pada awal November 2021 itulah seharusnya hal itu tercapai. Pertemuan tingkat dunia selama dua minggu itu memang menorehkan sejumlah kesepakatan penting.

Untuk pertama kalinya dalam konferensi COP, disepakati rencana pengurangan penggunaan batu bara yang berkontribusi 40 persen emisi karbon dioksida dalam setahun. Meskipun pada akhirnya komitmen yang ditetapkan melemah dengan mengganti kata phase out menjadi phase down.

Baca juga: Makin Banyak Migrasi Penduduk akibat Perubahan Iklim

Pemimpin lebih dari seratus negara berjanji untuk menghentikan deforestasi dan mengurangi emisi metana hingga 30 persen pada 2030. Bagi negara-negara miskin, kesepakatan COP 26 menegaskan janji untuk memberikan pendanaan iklim oleh negara-negara maju setelah pendanaan iklim bernilai 100 miliar dollar AS pada 2020 gagal.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/Q0w86E0qQbfUfyOPR2oX-rcROzo=/1024x572/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F11%2Fjokowi-cop26_1635821858.png
BPMI SETPRES/LAILY RACHEV

Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato dalam Konferensi Para Pihak (COP) tentang Iklim (1/11/2021) di Glasgow, Skotlandia. Dalam forum yang juga dikenal sebagai COP 26 itu, Presiden Jokowi memaparkan capaian Indonesia pada pengendalian penyebab perubahan iklim.

Terlepas dari tercapainya kesepakatan-kesepakatan itu, masih banyak yang perlu dibenahi. Pasalnya, jika menurut target NDC 2030 saja, suhu bumi akan meningkat 2,4 derajat celcius pada akhir abad ini. Apabila target tersebut diperkuat dengan rencana jangka panjang maka kenaikan suhu mencapai 2,1 derajat celcius, masih lebih tinggi dari target Kesepakatan Paris yaitu maksimal 2 derajat celcius.

Hal ini perlu menjadi perhatian untuk agenda perubahan iklim di tahun 2022. Setidaknya dari hasil COP26 Glasgow ada beberapa hal yang perlu dilakukan di tahun ini.

Semua negara diminta untuk memperkuat upaya dan target untuk mengurangi emisi 2030. Urgensi ini khususnya ditujukan kepada 41 negara yang belum memperbarui target NDC hingga 2021. Kendati demikian, bagi negara-negara yang telah memperbarui target NDC pun diminta untuk meningkatkan komitmennya.

Baca juga: Urgensi Pendanaan Iklim bagi Negara Berkembang

Selanjutnya adalah memastikan penyaluran pendanaan iklim dari negara-negara maju maupun lembaga-lembaga kepada negara miskin. Sejumlah negara seperti AS, Inggris, Kanada, Jepang, Norwegia dan Spanyol dalam dokumen pendanaan iklim barunya telah menganggarkan sejumlah dana untuk beberapa tahun ke depan. Kegagalan pendanaan iklim yang seharusnya disalurkan pada 2020 lalu kiranya menjadi dorongan untuk meningkatkan bantuan bagi negara-negara miskin.

Pada 2022, sejumlah pertemuan tingkat dunia untuk membicarakan isu perubahan iklim telah dijadwalkan, termasuk COP27 di Sharm El-Sheikh Mesir. Harapannya, pertemuan-pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan dan kebijakan yang lebih baik untuk mencegah dampak perubahan iklim. (LITBANG KOMPAS)

Baca juga: China dalam Pusaran Isu Perubahan Iklim

Editor:
Toto Suryaningtyas
Bagikan