logo Kompas.id
RisetZiarah Keagamaan, Aktivitas...
Iklan

Ziarah Keagamaan, Aktivitas Paling Penting di Tahun 2022

Keinginan masyakarat untuk melakukan ziarah keagamaan terhambat di masa pandemi. Oleh karena itu, ketika kondisi membaik, kegiatan ziarah keagamaan diprediksi akan meningkat secara signifikan.

Oleh
Novani Karina Saputri
· 5 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/2STjaYeVn5cDoKXG2r-NgeGxcHg=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F07%2F21f0134a-b313-4c24-8fc7-ed1e06d68f8f_jpeg.jpg
AP/Amr Nabil

Jemaah haji melakukan ibadah shalat di depan Kabah di Masjidil Haram dengan tetap menjaga jarak aman, Minggu (18/7/2021). Pada tahun kedua pandemi Covid-19 ini, Kerajaan Arab Saudi hanya memberikan kuota haji bagi 60.000 penduduk dan ekspatriat (warga negara asing yang bermukim di Arab Saudi).

Dari sekian banyak aktivitas yang ingin dilakukan masyarakat selepas pandemi, kegiatan keagamaan merupakan aktivitas yang paling mendesak untuk direalisasikan. Meski demikian, saat ini alokasi pendapatan masyarakat masih tergolong rendah untuk aktivitas yang bersifat jalan-jalan.

Litbang Kompas melakukan survei nasional untuk menangkap optimisme masyarakat merespons kondisi tahun 2022 pascapandemi. Dengan asumsi terjadi perbaikan kondisi pandemi pada tahun 2022, masyarakat cenderung berkeinginan akan meningkatkan konsumsi mereka untuk beberapa jenis barang dan jasa.

Dari sekian banyak aktivitas yang ingin dilakukan masyarakat selepas pandemi, kegiatan keagamaan merupakan aktivitas yang paling mendesak untuk segera direalisasikan. Aktivitas berikutnya yang dianggap penting adalah membeli barang hobi, merenovasi rumah, dan makan bersama di restoran.

Dari 16 aktivitas ekonomi, melakukan ziarah keagamaan, seperti ibadah umrah, haji, ataupun jenis ziarah keagamaan lain pada tahun 2022 merupakan kegiatan yang paling banyak disebut sebagai agenda yang penting untuk segera dilakukan. Hal ini disebutkan oleh 47,1 persen masyarakat.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/kl1Fq_MMVWqeeeKWTdDsksWngHE=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F04%2Fc033ae33-9662-49d9-b594-04f72da0af9c_jpg.jpg
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Calon jemaah haji menerima suntikan vaksin Covid-19 di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (6/4/2021). Vaksinasi dilakukan sebagai persiapan pemberangkatan jika Pemerintah Arab Saudi membuka kembali penyelenggaraan ibadah haji.

Keinginan masyakarat untuk melakukan ziarah keagamaan memang terhambat sepanjang masa pandemi. Oleh karena itu, ketika kondisi membaik, permintaan terhadap ziarah keagamaan diprediksi akan meningkat secara signifikan. Hal ini secara tidak langsung juga akan berdampak pada permintaan terhadap sektor penerbangan mancanegara dan sektor jasa penyedia layanan ziarah keagamaan, misalnya jasa travel umrah.

Sebagian besar masyarakat dengan kelas sosial ekonomi atas menganggap ziarah keagamaan sebagai yang terpenting dilakukan. Sebesar 64,3 persen responden dari kelas atas setuju bahwa ziarah keagamaan penting untuk segera dilakukan pada tahun 2022. Sementara itu, masyarakat kelas bawah, menengah bawah, dan menengah atas juga sepakat bahwa ziarah keagamaan penting untuk segera dilakukan, tetapi jumlahnya lebih sedikit.

Tidak hanya ziarah keagamaan, membeli barang hobi juga menjadi salah satu aktivitas konsumsi yang tertahan selama masa pandemi. Membeli barang hobi, seperti alat pancing dan sepeda, diprediksi akan meningkat tajam pada tahun 2022. Kondisi ini dapat menggambarkan akan terjadi perbaikan sisi permintaan pada pasar barang, terutama yang mendukung kegiatan hobi masyarakat. Membeli barang hobi dianggap penting untuk dilakukan oleh 11,8 persen masyarakat.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/JzyGvC94fjCA6h9a7lJJYT_Z-Bw=/1024x2362/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F20211227-ARJ-Jajak-Aktivitas-1-mumed_1640628760.png

Permintaan yang tertahan juga terjadi pada aktivitas melakukan kegiatan hobi, seperti bersepeda dan memancing. Sebanyak 38,2 persen masyarakat sepakat bahwa melakukan kegiatan hobi penting untuk segera dilakukan setelah kondisi membaik di tahun 2022. Berdasarkan status sosial ekonomi, 50,7 persen masyarakat kelas atas sepakat bahwa aktivitas ini penting untuk segera dilakukan, disusul 45,1 persen masyarakat kelas menengah atas dan 38,2 persen masyarakat kelas menengah bawah.

Aktivitas paling penting untuk segera dilakukan selanjutnya adalah memperbaiki dan renovasi rumah. Sebanyak 36,3 persen masyarakat sepakat bahwa melakukan perbaikan rumah penting untuk segera dilakukan setelah kondisi membaik pada tahun 2022. Pentingnya aktivitas ini disepakati oleh sekitar 33-38 persen masyarakat pada setiap status sosial ekonomi. Mengacu pada kondisi ini, dapat diprediksi akan terjadi rebound pada sektor konstruksi dan industri penunjang lain, seperti semen, dan permintaan alat berat.

Iklan

Kegiatan lain yang juga diprediksi akan mengalami lonjakan pada tahun 2022 adalah makan bersama di restoran, menonton pertandingan olahraga, dan membeli sepeda motor. Pada kelas atas, aktivitas makan bersama di restoran menjadi kegiatan yang dianggap penting oleh 61,9 persen masyarakat.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/gyRg_ZUZFF75WI-DQ9pxdn3Em_Q=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F20ad407a-cab8-46b4-884b-0753f431a3b9_jpg.jpg
Kompas/Totok Wijayanto

Suasana kawasan pantai Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, saat libur Natal, Jumat (25/12/2021). Libur Natal dimanfaatkan warga untuk berekreasi. Ancol menjadi salah satu obyek wisata di Jakarta yang kerap menjadi tujuan warga untuk menghabiskan waktu liburnya.

Alokasi pendapatan

Alokasi pendapatan masyarakat yang direncanakan akan digunakan untuk tiga aktivitas (jalan-jalan, membeli barang hobi, dan investasi) terbanyak berada dalam kisaran 10-20 persen. Meski demikian, terdapat variasi alokasi anggaran dalam setiap bidang kegiatan.

Untuk membeli barang hobi, paling banyak adalah mereka mengalokasikan di bawah 10 persen. Sementara dibandingkan untuk jalan-jalan dan membeli barang hobi, investasi menjadi  bidang yang paling banyak direncanakan masyarakat, dengan alokasi anggaran di atas 10 persen.

Dalam menunjang aktivitas jalan-jalan, seperti menonton dan wisata, masyarakat yang mengalokasikan pendapatan mereka sebesar kurang dari 10 persen adalah yang paling banyak (15,4 persen). Sementara itu, mengalokasikan pendapatan untuk aktivitas jalan-jalan di atas 50 persen hanya dilakukan oleh 0,5 persen masyarakat. Selanjutnya, yang mengalokasikan pendapatan sebesar 10-20 persen sebanyak 14,4 persen masyarakat dan yang mengalokasikan pendapatan sebesar 20-50 persen sebanyak 4,2 persen masyarakat.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/-yi8i7iLnkk2bR9WA1OBDyNQgGA=/1024x1059/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F12%2F20211227-ARJ-Jajak-Aktivitas-2-mumed_1640628763.png

Pola yang sama juga terjadi pada alokasi pendapatan untuk membeli barang penunjang hobi, seperti sepeda, alat pancing, dan alat berkebun. Terbanyak, 19,6 persen masyarakat memutuskan mengalokasikan kurang dari 10 persen pendapatan mereka untuk membeli barang hobi.

Selanjutnya, 14,8 persen masyarakat mengalokasikan pendapatan sebesar 10-20 persen, 4,8 persen masyarakat mengalokasikan sebesar 20-50 persen pendapatan, dan 0,8 persen masyarakat mengalokasikan pendapatan sebesar lebih dari 50 persen untuk membeli barang penunjang hobi.

Tak hanya aktivitas konsumsi, sebagian masyarakat juga mengalokasikan pendapatan mereka untuk investasi dan menabung. Paling banyak, 19,6 persen, mereka mengalokasikan 10-20 persen pendapatan mereka untuk investasi dan menabung. Selebihnya, 12,4 persen masyarakat mengalokasikan pendapatan kurang dari 10 persen, 9,8 persen mengalokasikan pendapatan sebesar 20-50 persen, dan hanya 2,1 persen yang mengalokasikan lebih dari 50 persen pendapatan mereka untuk investasi dan menabung.

Baca juga : Lahirnya Era Baru Ibadah Haji pada Musim Pandemi

Analisis terkait pent up demand ini dapat menjadi acuan bagi pelaku produksi di Indonesia untuk memprediksi tingkat permintaan yang akan datang sehingga dapat mempersiapkan tingkat produksi mereka. Namun, perlu digarisbawahi bahwa kondisi meningkatnya permintaan terhadap sejumlah barang dan jasa sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dalam merespons kondisi pandemi yang akan datang.

Apabila pemerintah mampu mengendalikan laju penyebaran Covid-19 dengan baik, roda ekonomi dapat diprediksi berputar lebih cepat. Kondisi ini akan lebih baik apabila pemerintah memberikan insentif di sisi moneter yang mampu mendorong sisi produksi dan investasi. Saat kondisi pasar mulai kembali bergerak, tidak lagi menahan konsumsi, sisi produksi diharapkan mampu memenuhi jumlah permintaan yang ada agar hyper-inflation terhindarkan. (LITBANG KOMPAS)

Baca juga : Makin Optimistis Menyikapi Normal Baru

Editor:
Toto Suryaningtyas
Bagikan