logo Kompas.id
RisetMenyuarakan Minoritas Publik Tanpa Listrik

Menyuarakan Minoritas Publik Tanpa Listrik

Masih ada segelintir masyarakat yang hidup dalam gelap gulita. Membuka akses listrik adalah upaya meningkatkan kesejahteraan.

Oleh
Arita Nugraheni
· 1 menit baca
Memuat data...
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Salah satu stasiun pengisian energi listrik (SPEL) di Kampung Munggui, Distrik Windesi, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, Rabu (29/9/2021). Sebuah SPEL terdiri dari panel sel surya, rangkaian kontroler pengisian (charge controller) dan tabung listrik (talis). Saat ini terdapat 28 unit SPEL, 565 unit DC House dan 711 unit talis yang telah dimanfaatkan warga yang tinggal di 11 Kampung di tiga wilayah Distrik di Kepulauan Yapen untuk menikmati listrik. Bantuan akses listrik bagi warga dilakukan PT PLN (Persero) melalui PLN UP3 Biak dan PLN ULP Serui pada akhir Desember 2020 dan mulai diresmikan pada bulan Maret 2021.

Di tengah impitan masalah manusia modern, masih ada segelintir masyarakat yang hidup dalam gelap gulita. Gelap dalam artian sebenarnya, sejumlah rumah tangga belum mendapatkan kemudahan akses listrik, bahkan untuk sekadar menyalakan lampu penerangan.

Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada Maret 2021 menunjukkan, sebanyak 0,79 persen rumah tangga di Indonesia belum menggunakan listrik sebagai sumber penerangan utama.

Editor:
totosuryaningtyas
Bagikan