logo Kompas.id
PuisiPos Budaya Umbu Landu

Pos Budaya Umbu Landu

Para penyair berkelas ”Pos Budaya” telah membuktikan bahwa dunia kepenyairan di Bali terus bergerak.

Oleh
Cokorda Yudistira dan Putu Fajar Arcana
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/R0ykWkMoPiF0RX_Aa2qaH7KBpEs=/1024x768/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F05%2F20210528CAN03_1622207771.jpg
ARSIP IDAYATI

Suasana peluncuran antologi puisi Blengbong di Gedung Kriya, Taman Budaya Denpasar, Selasa (25/5/2021). Peluncuran buku ini juga disertai Pameran Sketsa Nyoman Wirata yang merespons puisi-puisi para penyair.

Umbu punya cara yang unik untuk mendidik para penyair. Ia mengibaratkan halaman sastra yang diasuhnya seperti lapangan sepak bola. Di situ, para penyair bisa bekompetisi melalui tahapan-tahapan yang ia beri istilah sendiri, untuk kemudian ”dinobatkan” sebagai penyair berkelas ”Pos Budaya”.

Sejak era akhir tahun 1980-an, menurut catatan Ketut Syahruwardi Abbas, setidaknya ratusan penyair telah dilahirkan dalam kelas ”Pos Budaya” di halaman sastra Bali Post Minggu. Upaya untuk melacak keberadaan para penyair itu, menurut Abbas, tidak mudah karena berbagai alasan. Banyak di antara mereka, misalnya, sudah tidak menulis lagi atau benar-benar tidak ketahuan keberadaannya. ”Jadi hanya 58 penyair yang kami undang, tentu dengan berbagai kriteria,” katanya.

Editor:
budisuwarna
Bagikan