logo Kompas.id
β€Ί
Politik & Hukumβ€ΊMencegah Indonesia Jadi Surga ...
Iklan

Mencegah Indonesia Jadi Surga Kejahatan Siber Warga Negara Asing

Kejahatan siber yang dilakukan warga negara asing di Indonesia terjadi secara terorganisasi. Selain penegakan hukum, kesadaran intelijen aparat dan masyarakat harus ditingkatkan.

Oleh
KURNIA YUNITA RAHAYU
Β· 1 menit baca
Barang bukti berupa alat komunikasi diperlihatkan saat rilis kasus penipuan dalam jaringan yang melibatkan warga negara China di Polda Metro Jaya, Selasa (26/11/2019). Sebanyak 85 WNA China ditangkap di enam lokasi dalam wilayah Polda Metro Jaya dan satu lokasi di Malang karena melakukan penipuan dalam jaringan. Para tersangka menggunakan modus baru berupa tawaran investasi dan barang dalam menjalankan aksinya.
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)

Barang bukti berupa alat komunikasi diperlihatkan saat rilis kasus penipuan dalam jaringan yang melibatkan warga negara China di Polda Metro Jaya, Selasa (26/11/2019). Sebanyak 85 WNA China ditangkap di enam lokasi dalam wilayah Polda Metro Jaya dan satu lokasi di Malang karena melakukan penipuan dalam jaringan. Para tersangka menggunakan modus baru berupa tawaran investasi dan barang dalam menjalankan aksinya.

Tak hanya datang untuk berlibur atau bekerja, sejumlah warga negara asing kedapatan terlibat atau sengaja datang untuk melakukan kejahatan siber secara terorganisasi di Indonesia. Mereka ditengarai memanfaatkan kelemahan dalam sistem keimigrasian dan keterbatasan kapasitas aparat. Diperlukan perbaikan di berbagai lini agar Indonesia tak jadi ”surga” bagi para pelaku kejahatan dari berbagai belahan dunia.

Berdasarkan catatan Direktorat Siber Badan Reserse Kriminal Polri, kejahatan siber marak terjadi dalam empat tahun terakhir. Kejahatan siber, yang hadir dalam berbagai bentuk kejahatan informatika (computer crime) dan kejahatan berhubungan dengan teknologi informasi (computer related crime), memiliki tiga karakteristik utama. Pertama, bisa dilakukan di mana saja karena tidak ada batasan geografis (borderless), pelakunya anonim (anonymous), dan dilakukan secara terorganisasi (organized).

Editor:
ANTONY LEE
Bagikan