logo Kompas.id
PemiluResistensi terhadap Prabowo...
Iklan

Resistensi terhadap Prabowo Mengecil, Inikah Saatnya Menjadi Presiden?

Dengan popularitas dan elektabilitasnya yang teratas, serta tingkat penolakan masyarakat yang kini mengecil, cita-cita Prabowo Subianto untuk menjadi Presiden Indonesia mungkin saja tercapai pada pemilu mendatang.

Oleh
BAMBANG SETIAWAN
· 7 menit baca
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bersiap megikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, (27/1/2022). Rapat kerja ini antara lain membahas hal-hal aktual terkait pertahanan negara.
Kompas/Heru Sri Kumoro

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bersiap megikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, (27/1/2022). Rapat kerja ini antara lain membahas hal-hal aktual terkait pertahanan negara.

Potensi keterpilihan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk menjadi presiden melonjak drastis selama tiga bulan terakhir, hampir dua kali lipat. Jika kekuatan elektabilitasnya konsisten menanjak, sangat mungkin posisi kepala pemerintahan yang selama dua dekade telah coba diperjuangkannya, pada akhirnya akan diraihnya.

Hasil survei Litbang Kompas yang diselenggarakan dari tanggal 17 – 30 Januari 2022 menunjukkan bahwa jika pemilu diselenggarakan pada saat survei dilakukan, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto akan dipilih oleh 26,5 persen masyarakat. Peningkatan elektabilitasnya mencapai 90,6 persen, dari sebelumnya 13,9 persen pada Oktober 2021.

Perolehannya sekarang menjadikan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra tersebut menempati ranking satu perolehan suara survei. Posisi kedua ditempati Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan 20,5 persen, dan posisi ketiga dipegang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan perolehan 14,2 persen.

Survei dilakukan lewat wawancara tatap muka terhadap 1.200 responden yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi Indonesia. “Margin of error” penelitian adalah +/- 2,8 persen, sehingga dapat dikatakan ada perbedaan yang cukup signifikan antara Prabowo dan Ganjar dan Anies dalam potensi keterpilihan.

https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/02/27/73a94d1b-a6c6-4d08-a522-d55cec591776_gif.gif

Sejauh ini, potensi keterpilihan Prabowo terbilang fluktuatif. Pada April 2021 perolehan Prabowo menempati ranking satu dengan 16,4 persen suara, namun pada Oktober 2021 sempat mengalami penurunan sebesar 15,2 persen menjadi 13,9 persen, sama dengan perolehan Ganjar Pranowo. Potensi keterpilihannya kembali naik pada Januari 2022 dan menempatkannya pada posisi teratas lagi.

Perolehan Prabowo saat ini sebetulnya masih cukup jauh dibanding angka yang pernah diraihnya pada Pemilu 2019. Dalam pemilu presiden lalu, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memperoleh suara 44,5 persen. Namun demikian, resistensi masyarakat yang cenderung turun terhadap sosoknya sejak ia masuk ke dalam kabinet Pemerintahan Jokowi, dapat mengamankan langkahnya ke depan.

Resistensi atau penolakan terhadap Prabowo dan pasangannya, Sandiaga Uno, menjelang Pemilu Presiden 2019 terekam dalam Survei Litbang Kompas (Maret 2019) sebesar 38,1 persen. Lebih tinggi daripada pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin yang 29,7 persen. Namun saat ini tampak sudah ada perubahan persepsi masyarakat terhadap figur Prabowo.

Pada Oktober 2021 resistensi masyarakat terhadapnya tercatat 4,6 persen, dan pada Januari 2022 menjadi 3,7 persen. Persentase ini lebih kecil daripada resistensi masyarakat terhadap Basuki Tjahaja Purnama (8,2 persen) dan Puan Maharani (7,2 persen). Angka resistensi saat ini dihasilkan dari pertanyaan: “Jika Pemilu Presiden dilakukan saat ini, menurut Anda siapakah tokoh yang paling ‘tidak layak’ menjadi Presiden?”

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (tengah) bertemu dengan sejumlah tokoh senior TNI, yaitu Endriartono Sutarto (kiri), Agum Gumelar (dua dari kiri), dan AM Hendropriyono (kanan) di kantor Kemhan, Jakarta (10/1/2022).
DOKUMENTASI KEMENTERIAN PERTAHANAN

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (tengah) bertemu dengan sejumlah tokoh senior TNI, yaitu Endriartono Sutarto (kiri), Agum Gumelar (dua dari kiri), dan AM Hendropriyono (kanan) di kantor Kemhan, Jakarta (10/1/2022).

Perjalanan politik Prabowo

Karir politik Prabowo dimulai ketika ia mengikuti konvensi calon presiden Partai Golkar pada Juli 2003, bersaing dengan Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Wiranto, Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, dan Sultan Hamengku Buwono X. Dalam konvensi yang diselenggarakan pada tahun 2004, namanya tersingkir. Konvensi itu dimenangkan oleh Wiranto, yang kemudian mendapat tiket sebagai calon presiden Partai Golkar.

Setelah melewati Pemilu 2004 tanpa kepesertaannya, Prabowo kemudian mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada 8 Februari 2008 dan menempati posisi sebagai ketua dewan pembina. Ia pun secara resmi meninggalkan Golkar pada 12 Juli 2008.

Dalam Pemilu 2009, Partai Gerindra yang dibentuknya langsung menunjukkan debutnya, dengan meraih 4,6 juta (4,5 persen) pemilih dan merebut 26 kursi DPR. Namun, dengan bekal perolehan suara itu, sulit bagi Prabowo untuk maju menjadi calon presiden, sehingga ia harus berkoalisi dan menerima posisi sebagai calon wakil presiden, mendampingi calon presiden Megawati Soekarnoputri. Pasangan dengan tagline Mega-Pro ini harus menerima kekalahan dari petahana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berpasangan dengan Boediono, dan hanya mampu meraih 26,79 persen suara.

https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/02/27/826bbf82-5cb8-4782-a787-9893b7dcfd75_gif.gif

Meskipun kalah, namun performa Partai Gerindra terus menanjak. Pada Pemilu Legislatif 2014, Partai Gerindra berhasil meraih 14,8 juta (11,81 persen) suara dan menjadi partai politik ketiga terbesar di Indonesia. Jumlah kursi Dewan Perwakilan Rakyat yang diraihnya mencapai 73 kursi.

Elektabilitasnya untuk menjadi presiden dalam pemilu 2014 sebetulnya sangat prospektif. Bandul politik sedang bergerak ke Prabowo yang dinilai masyarakat lebih tegas dan berwibawa dibanding Presiden Susilo Yudhoyono yang saat itu masih menjabat dan menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Hanya, sayangnya, dua tahun menjelang pemilu muncul figur baru yang popularitasnya menanjak dengan cepat.

Joko Widodo (Jokowi), “tukang kayu” yang kemudian menjadi Walikota Solo dan berhasil meraih kekuasaan sebagai Gubernur DKI Jakarta, menjadi ancaman yang serius bagi karir politik Prabowo. Karakter “tegas dan berwibawa” tiba-tiba menemukan antitesisnya dalam diri Jokowi yang menebarkan pesona dengan karakternya yang “merakyat”.

Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Rajasa (PAN), tak mampu membendung mode kepemimpinan baru yang lugas, sederhana, dan dekat dengan rakyat. Pemilihan presiden 2014 akhirnya dimenangi oleh pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan memperoleh suara sebesar 53,15 persen, mengalahkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang memperoleh suara sebesar 46,85 persen. Dengan selisih perolehan 6,3 persen, gugatan yang disidangkan oleh Mahkamah Konstitusi juga tak membuahkan hasil. Prabowo dipaksa harus menerima kekalahan.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memotong tumpeng sebagai tanda syukur atas peringatan hari ulang tahun ke-14 Partai Gerindra di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan (5/2/2022). Hadir dalam peringatan tersebut, jajaran pengurus Dewan Perwakilan Pusat Gerindra, seperti Sekretaris Jenderal Gerindra Ahmad Muzani, serta Ketua Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad.
DOKUMENTASI PARTAI GERINDRA

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memotong tumpeng sebagai tanda syukur atas peringatan hari ulang tahun ke-14 Partai Gerindra di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan (5/2/2022). Hadir dalam peringatan tersebut, jajaran pengurus Dewan Perwakilan Pusat Gerindra, seperti Sekretaris Jenderal Gerindra Ahmad Muzani, serta Ketua Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad.

Tetapi, tetap saja ada berkah di balik kekalahan. Partai Gerindra makin populer di mata publik. Pada pemilihan umum legislatif 2019, Partai Gerindra berhasil menjadi partai politik kedua terbesar di Indonesia dengan meraih 17,6 juta (13,6 persen) suara dan menempatkan 78 kursi di DPR.

Namun, keberuntungan Partai Gerindra dalam pemilu legislatif tak seiring dengan capaian Prabowo dalam pemilu presiden. Dalam pemilihan presiden yang dilaksanakan serentak dengan pemilihan umum legislatif tersebut, Prabowo lagi-lagi harus kalah dari Jokowi.

Iklan

Berpasangan dengan Sandiaga Uno, figur pengusaha muda yang cukup populer, Prabowo-Sandi hanya memperoleh 44,5 persen suara. Sementara lawannya, pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin memenangi pilpres dengan perolehan 55,5 persen suara.

Apakah karir politik Prabowo hancur usai pemilu? Tidak. Jalan seolah tiba-tiba kembali melebar, ketika Jokowi menawarkan posisi di pemerintahan. Pada 23 Oktober, Prabowo resmi menjadi Menteri Pertahanan dalam kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin.

Sikap Prabowo yang tidak pernah menunjukkan pertentangan dengan kebijakan Jokowi, bahkan dalam beberapa kesempatan memuji Jokowi, bisa jadi, menyurutkan resistensi masyarakat terhadapnya.

https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/02/27/b6c73d81-180d-4796-a2ba-f3febc1ebddd_gif.gif

Popularitas teratas

Tingkat popularitas dan kesukaan orang pada Prabowo pun saat ini terbilang teratas dibandingkan sejumlah tokoh potensial calon presiden lainnya. Pengetahuan orang tentang nama Prabowo mencapai 97 persen dan tingkat kesukaan mencapai 82 persen dari yang tahu.

Sementara itu, orang yang tahu nama Anies Baswedan mencapai 89 persen dan yang suka 71 persen. Nama Ganjar Pranowo masih berada di bawahnya, diketahui oleh 71 persen responden dan disukai oleh 64 persen dari yang tahu.

Ranking elektabilitas Prabowo juga cukup konsisten untuk selalu berada di urutan satu sebagai peraih suara terbanyak, meskipun dilakukan simulasi dengan daftar 25 tokoh, 10 tokoh, 5 tokoh, dan 3 tokoh. Jika hanya menyisakan tiga nama, misalnya, Prabowo mendapatkan 35,3 persen, Ganjar 32,8 persen, dan Anies 23,7 persen.

https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/02/27/6a349d7c-5b57-4255-93df-9b03b4f79bc0_gif.gif

Keunggulan Demografis

Prabowo juga tercatat memiliki lebih banyak keunggulan secara demografis dibanding calon-calon lainnya. Sejumlah basis yang penting dikuasainya, seperti aspek geografis, gender, kelas sosial, usia, dan pendidikan.

Dari sisi geografis, Prabowo menguasai secara agregat pulau-pulau di luar Jawa. Di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Bali-Nusa Tenggara, dan Maluku-Papua, keunggulan Prabowo cukup signifikan di atas calon lain. Sementara Jawa dikuasai Ganjar dengan keunggulan yang tipis dari Prabowo.

Dari sisi gender, Prabowo unggul baik pada pemilih laki-laki maupun perempuan. Hal yang sama juga terbaca dari sisi usia atau generasi pemilih, pada semua segmen ia unggul.

Ceruk pemilih yang menjadi kunci dalam pemilu, yaitu kelompok masyarakat bawah, juga sejauh ini dikuasai oleh Prabowo. Dengan mendapat dukungan dari masyarakat kelas sosial ekonomi bawah dan mereka yang berpendidikan rendah, Prabowo memiliki basis yang relatif kokoh. Kelompok ini relatif lebih lambat untuk berubah dibanding kelas sosial dan pendidikan menengah ke atas yang aksesnya terhadap informasi lebih luas dan intensif.

https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/02/27/7f0ccdf1-1f26-43db-b805-dcc383e9c3f3_gif.gif

Prasyarat

Dengan semua penguasaan demografis dan performanya sebagai sosok yang paling banyak dirujuk oleh publik, sangat mungkin Prabowo menjadi presiden 2024. Namun, tentu ini dalam kondisi ceteris paribus, konteks politik tidak berubah.

Realitas politik yang berkembang dalam waktu dua tahun dapat mengubah konteks yang membuat peluang seperti dialaminya pada Pemilu 2014 kembali terjadi. Sejumlah strategi musti dilakukan untuk menghadapi perubahan kontek politik yang sangat mungkin menurunkan elektabilitasnya.

Pertama, perolehan suara partainya dalam pemilu sebelumnya tidak mencapai ambang batas persyaratan pemilu presiden, sehingga dia harus berkoalisi dengan partai lain agar dapat mengusungnya. Problem ini mungkin terpecahkan ketika koalisi yang dijalin adalah dengan partai-partai papan menengah atau kecil.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto tiba di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (4/2/2022). Dalam kunjungan itu, Prabowo menandatangani nota kesepahaman kerja sama antara Kementerian Pertahanan dan UGM.
KOMPAS/HARIS FIRDAUS

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto tiba di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (4/2/2022). Dalam kunjungan itu, Prabowo menandatangani nota kesepahaman kerja sama antara Kementerian Pertahanan dan UGM.

Namun, menjadi persoalan ketika berkoalisi dengan PDI-P yang perolehan suaranya lebih besar. PDI-P yang memiliki posisi tawar lebih tinggi, dapat saja memajukan tokoh untuk calon presiden, bukan calon wakil presiden untuk mendampingi Prabowo. Atau, jika elektabilitas tokoh di PDI-P cukup lemah, tetap akan menyodorkan calon wakil, yang mungkin justru berpotensi menurunkan elektabilitas Prabowo.

Kedua, perkembangan komposisi pasangan di luar dirinya. Tokoh yang sekarang berada di bawah elektabilitas Prabowo, mungkin saja menemukan sebuah komposisi pasangan yang pas dengan mode kepemimpinan yang berkembang dalam imajinasi publik.

Baca juga: Prabowo, Ganjar, Anies Masih Dominan

Jika komposisi serasi di pihak lawannya terbentuk, potensi keterpilihan Prabowo mungkin tersendat. Ketiga, munculnya figur baru dengan karakter yang sangat kuat, yang mampu menyedot perhatian publik dan dapat mengimbangi kekuatan karakter Prabowo.

Keempat, jika terjadi keretakan dengan Presiden Jokowi atau PDI-P. Saat ini, 28,9 persen suara yang diraihnya merupakan pemilih yang dalam pilpres lalu memilih Jokowi, dan sebanyak 10,7 persen yang saat ini memilihnya merupakan pemilih PDI-P dalam pemilu legislatif lalu. Sehingga, bagaimana pun, menjaga hubungan baik dengan kedua entitas politik itu, menjadi modal yang mempermulus langkahnya. (LITBANG KOMPAS)

Baca juga: Prabowo Subianto, Penantian Panjang Sang Petarung

Editor:
MATHIAS TOTO SURYANINGTYAS
Bagikan