logo Kompas.id
β€Ί
Paparan Topikβ€ΊTransisi Energi Indonesia:...
Iklan

Transisi Energi Indonesia: Tantangan dan Peluang

Transisi energi adalah proses pengalihan sumber energi dari sumber berbasis bahan bakar fosil kepada sumber-sumber yang tidak menghasilkan emisi karbon. Pemerintah berupaya mendorong proses transisi energi melalui Energi Baru Terbarukan serta efisiensi energi.

Oleh
robertus mahatma
Β· 1 menit baca
Pembangkit listrik bertenaga bayu di Sidrap, Selasa (12/10/2021). Diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2019 lalu, PLTB Sidrap menjadi PLTB terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Ke depan, bauran energi baru terbarukan kian diperlukan untuk energi hijau yang ramah lingkungan.
KOMPAS

Pembangkit listrik bertenaga bayu di Sidrap, Selasa (12/10/2021). Diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2019 lalu, PLTB Sidrap menjadi PLTB terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Ke depan, bauran energi baru terbarukan kian diperlukan untuk energi hijau yang ramah lingkungan.

Upaya transisi energi merupakan bagian dari upaya besar dekarbonisasi guna menanggulangi fenomena perubahan iklim dan dampak-dampak yang ditimbulkan olehnya. Bersamaan dengan upaya transisi energi, negara-negara juga mengupayakan inovasi teknologi untuk mengefisienkan konsumsi energi mereka saat ini.

Salah satu kebijakan dari upaya dekarbonisasi adalah penetapan target Net-Zero Emission (NZE). Dewan Energi Nasional RI menyebutkan bahwa NZE adalah kondisi saat terjadi keseimbangan antara jumlah emisi karbon yang dihasilkan dengan jumlah yang mampu diserap oleh lingkungan dan atmosfer. Target NZE ini ada dalam National Determnied Contributions (NDC) yang ditetapkan tiap negara yang turut menandatangani Perjanjian Paris 2015. Perjanjian tersebut merupakan buah dari UN Climate Change Conference of the Parties 2015, yakni negara-negara di dunia sama-sama bersepakat untuk mengerem peningkatan suhu bumi hingga di bawah angka kenaikan 2 derajat celcius dari suhu sebelum Revolusi Industri (1850--1900), serta mengupayakan agar pemanasan sampai di angka 1,5 derajat celcius saja.

Editor:
robertus mahatma
Bagikan