Begitu Macondo berkembang, mendadak negara muncul dalam sosok ”magistrate” atau hakim bernama Don Apolinar Moscote.
Oleh
BRE REDANA
·3 menit baca
HERYUNANTO
Bre Redana
Pertama kali negara hadir yang ditimbulkan adalah kesulitan. Kehadiran negara diwakili oleh seorang penegak hukum (magistrate) dikawal pasukan memanggul bedil. Berdasarkan mandat kekuasaan untuk menundukkan rakyat dengan dalih ketertiban ia mengeluarkan perintah: semua rumah harus dicat biru.
Tentu cerita itu tidak saya pungut dari buku teks tentang negara seperti The Origins of Political Order karya Francis Fukuyama dan semacamnya, tetapi dari novel One Hundred Years of Solitude yang saya ingin membahasnya gara-gara magnum opus karya Gabriel Garcia Marquez tersebut kini diangkat sebagai film serial dan ditayangkan di Netflix. Seorang teman meminta komentar saya atas film itu yang mau tidak mau membuat saya membaca kembali bukunya, yang sebenarnya juga sudah saya baca berulang-ulang. Dia salah satu dari tiga buku yang selalu ada di meja untuk saya baca kembali kapan saja.
Pada mulanya, Macondo, kota fiktif di Amerika Selatan yang bagi saya nyata, diceritakan Gabo—panggilan sayang untuk Gabriel Garcia Marquez—sebagai kota sederhana, damai, penduduknya memiliki trust tinggi, memercayai apa saja, termasuk sulap para gypsies. Kota, atau tepatnya desa ini, dirintis oleh Jose Arcadio Buendia dan istrinya, Ursula, yang merasa menanggung kutuk atas perbuatannya di masa lampau meninggalkan tempat asal dan membuka daerah baru bernama Macondo itu. Begitu Macondo berkembang, mendadak negara muncul dalam sosok magistrate atau hakim bernama Don Apolinar Moscote.
”Kami tidak butuh hakim di sini karena tidak ada tindak kejahatan dan tidak ada yang perlu dihakimi,” Jose Arcadio Buendia yang rumahnya bercat putih masuk menerobos ruang kerja Don Apolinar Moscote. ”Kami sangat damai dan tidak ada di antara kami yang mati bahkan oleh sebab alami. Tidak ada kuburan di sini.”
”Jaga ucapanmu, di laci meja saya ada pistol,” kata Don Apolinar dingin—gaya khas manusia angkuh bersenjata yang merasa dilindungi negara. Warna biru adalah warna partai Konservatif, partai penguasa.
Jose Arcadio Buendia teramat polos untuk ditakut-takuti supremasi negara. Ia angkat Don Apolinar, dia usir sampai batas desa, hingga beberapa waktu kemudian Don Apolinar kembali lagi dengan pasukan lebih besar.
Kekuasaan nyatanya lebih banyak mendatangkan mudarat daripada manfaat. Kemudian berlangsung pemilihan umum dengan dua kelompok besar, yakni golongan Konservatif dan golongan Liberal berebut kekuasaan. Aureliano Buendia, putra lelaki Jose Arcadio Buendia, pada novel panjang tentang risalah dinasti Buendia ini, telah menikah dengan Remedios, putri bungsu Don Apolinar. Sebagai menantu kesayangan yang tiap malam main catur dengan mertua, dia melihat kecurangan mertuanya sebagai hakim memanipulasi suara untuk kemenangan Konservatif.
Sama seperti ayahnya, Aureliano Buendia kurang paham tata cara hidup bernegara dan tidak peduli binatang apa itu Konservatif atau pun Liberal. Sambil main catur si mertua menerangkan yang intinya Konservatif serba baik dan direstui konstitusi, dan ia bisikkan bahwa tentara telah bersiap menumpas Liberal yang dicurigai hendak mengobarkan perang.
Tahu bagaimana kotak suara pemilu ditukar di rumah mertuanya, Aureliano Buendia sembari menggerakkan bidak catur berucap: ”Seandainya aku harus menjadi sesuatu aku akan jadi Liberal, karena Konservatif curang.”
Kecurangan, penindasan, berlangsung dari waktu ke waktu termasuk ketika di Macondo masuk investasi asing berupa kehadiran perusahaan pisang. Demonstrasi buruh dijawab dengan senapan, 3.408 orang tumbang, dan rakyat dipaksa melupakan, aib penguasa dianggap tidak pernah ada, dihapus dari sejarah.
Terus terang saya kurang berminat membicarakan filmnya, karena film itu mengecewakan. Lebih suka The Condor Heroes, pemainnya artis-artis China, hemm, cantik-cantik pula.
Seperti saya katakan, saya baca One Hundred Years of Solitude berulang-ulang. Gabo, penerima Nobel sastra, tidak ingin dikenang sebagai novelis, tetapi sebagai wartawan. Ia seorang wartawan, seorang humanis, yang saya amati bahkan pelacur selalu ia gambarkan berhati emas dengan mata melankolis. Sebaliknya, kekuasaan selalu ia lukiskan cenderung brengsek. Ia bukan tipe yang bungah foto bersama pejabat atau berpose di tangga istana lalu menganggap penguasa sejatinya baik dan negara baik-baik saja.
Kepada mertuanya, simbol kehadiran negara yang korup, Aureliano pamit: ”Jangan lagi engkau panggil aku Aureliano. Aku sekarang Kolonel Aureliano Buendia.”