Selain mencari jejak spiritual Buddha, saya sebenarnya juga mencari jejak lain: jejak ibu saya, Genevieve.
Oleh
JEAN COUTEAU
·4 menit baca
HERYUNANTO
Jean Couteau
Pada awal bulan lalu, saya dan istri berkunjung ke negeri Laos yang dulu disebut Kerajaan Sejuta Gajah (Land of a Million Elephants). Nama itu berasal dari kerajaan Lan Xang (1353-1707), salah satu kerajaan terkuat pada zamannya di Asia Tenggara.
Siapa yang tahu hal-hal semacam ini di negeri Bhinneka Tunggal Ika kita ini? Siapa yang memiliki pengetahuan dasar tentang negara-negara ASEAN selain Singapura dan Malaysia, tetangga terdekat sekaligus ”teman bertengkar” yang paling disayangi? Siapa yang tahu jumlah penduduk Laos (8 juta), negara yang namanya hanya sesekali muncul dalam buku pelajaran sebagai ”rekan kita” di ASEAN, di tengah percaturan kekuatan besar dunia, seperti Amerika, China, dan Rusia?
Lalu, mengapa saya ke Laos? Apakah saya mencari jejak kultural yang serupa dengan jejak kultural lama Indonesia, yaitu jejak Buddha? Saya memang tertarik mengamati bagaimana masyarakat di berbagai belahan dunia membangun lambang keagamaan dengan ”bungkus” yang serupa meskipun berbeda, baik itu katedral, stupa Buddha, maupun menara masjid. Semua menjulang ke atas, mengajak kita ”naik” secara simbolis, melepaskan diri dari kekinian untuk melebur dalam ”ketiadaan”.
Selain mencari jejak spiritual Buddha, saya sebenarnya juga mencari jejak lain: jejak ibu saya, Genevieve, yang pernah menjelajah negeri Laos ini lebih dari 50 tahun lalu, pada 1968 dan 1972. Saat itu, ia datang ke Laos atas undangan Souvanna Phouma, perdana menteri netralis negeri yang dihujani bom Amerika Serikat setiap hari, terutama di sepanjang pegunungan yang memisahkannya dari Vietnam.
Menariknya, ia diundang ke Laos bukan untuk menjadi saksi atas perang yang melanda negeri Indochina ini, melainkan untuk menjadi saksi semangat perdamaian rakyat Laos. Dan, itulah yang dilakukannya. Para biksu, wanita pasar, pengungsi perang, wajah tua, hingga stupa-stupa yang menjulang, semua tertuang dalam lukisannya tentang sebuah negeri yang menolak terbawa arus perang. Itulah jejak lukisan dan buku warisan ibu saya.
Kadang-kadang, di tengah kunjungan saya ke kuil-kuil indah di Vientiane dan Luang Prabang, saya bertanya kepada orang-orang: ”Bagaimana waktu itu? Bagaimana masa perang?” Kala itu, bahasa Perancis, yang masih dikuasai sebagian generasi tua, membantu saya berkomunikasi. Namun, umumnya mereka hanya tersenyum, tak mau menyimpan dendam. Mereka memilih ”melupakan”.
Akan tetapi, kesaksian itu akhirnya datang, pada satu saat, ketika saya menunjukkan buku ibu saya, dengan ilustrasi para pengungsi, kepada seorang lelaki tua dan berbicara tentang misi damai yang pernah ia jalankan.
”Saya tak mungkin lupa,” katanya. ”Di desa kami, setiap kali terjadi gelombang pengeboman Amerika, kami berlindung di gua-gua. Dianggap lebih aman. Sampai suatu hari, pintu masuk gua itu terkena bom: 250 orang desa kami mati hangus di dalamnya.”
”Lalu, bagaimana?” tanya saya.
Ia hanya mengangkat bahu.
Saya bertanya lagi: ”Apakah setelah perang, Amerika memberi bantuan untuk ’kerusakan sampingan’ akibat serangan mereka?”
”Beberapa juta dollar diberikan saat Obama berkunjung ke Laos pada 2016,” katanya. Namun, dana itu kini lenyap, dipotong dari anggaran USAID oleh Mister Trump.
”Apakah ganti rugi perang itu tak pantas di mata sang presiden Amerika?” Bisa jadi.
Kami lalu pergi selama empat hari ke Vietnam, mengunjungi seorang teman asal Meksiko yang tinggal di sana. Ke mana ia membawa kami? Ke museum perang kota Ho Chi Minh.
Di sana, mesin-mesin pembunuh dipajang dengan mencengangkan, dari pesawat pengebom hingga helikopter yang ditinggalkan begitu saja oleh Amerika. Yang paling mengerikan adalah galeri potret anak-anak korban ”Agent Orange”, zat kimia beracun yang disemprotkan dari pesawat Amerika ke wilayah-wilayah yang dikuasai Viet Cong.
Hasilnya, wajah-wajah horor anak yang tak lagi berbentuk, dengan mulut dan hidung bukan di tempat semestinya. Saya tak sanggup melihatnya lebih lama. Panggilan tangis memenuhi diri saya.
Namun, ketika saya bertanya kepada teman Meksiko saya, ”Apakah anak muda Vietnam masih membenci Amerika?”
Ia menjawab sarkastik, ”Mereka lebih takut pada saya yang orang Meksiko ini karena orang Meksiko selalu jadi ’orang jahat’ di film-film Amerika!”
Maka, tidak mengherankan apabila, jauh di sana, si Jenggo presidennya, pistol terhunus, masih tenang, terus mencari-cari siapa menjadi musuhnya.