logo Kompas.id
OpiniMenumpas Korona dari Pulau...
Iklan

Menumpas Korona dari Pulau Dewata

Pada era pandemi Covid-19, pertunjukan ritual “tolak tumpas wabah penyakit” di Bali justru sangat jarang dipentaskan. Sangat disayangkan.

Oleh
AGUS DERMAWAN T
· 1 menit baca
-
Heryunanto

-

Sejak dahulu Bali berhasil menjual atmosfir tenget (senyap dengan aura mistis dan magis) ke jutaan orang. Antropolog Margaret Mead dari Columbia University merasakan itu sejak 1936. Maka ketika ia merinding atas malam-malam yang tenget di seluruh pelosok Bali, surat ketakjuban (dan kegentaran) pun ia tulis. Ketika surat itu dikutip dan disebarluaskan oleh Tessel Pollman dalam artikel Margaret Mead’s Balinese : The Fitting Symbols of the American Dream, ke-tenget-an Bali segera jadi pembicaraan.

“Bali mengajak warganya khusyuk merenung di tengah gulita dan kesunyian. Di Bali segenap bencana dan wabah penyakit seolah bisa dimusnahkan dalam kesenyapan dan kegelapan.” Begitu Mead bersirat tutur lewat penelitiannya.

Editor:
YOVITA ARIKA
Bagikan