logo Kompas.id
OpiniKritik dan Indeks Demokrasi

Kritik dan Indeks Demokrasi

Pada akhirnya kita juga harus kritis bahwa kritik bukan tanpa batas. Seperti pendapat Hargens, kritik harus masuk akal, disertai data valid dan motif moral agar tidak menjelma jadi penaklukan sosial berbasis kebencian.

Oleh
Bharoto
· 1 menit baca
https://assetd.kompas.id/vCfmtPDUCxt_LmqxezP_P1X0eqs=/1024x651/https://kompas.id/wp-content/uploads/2021/11/20211118WEN6_1637212200.jpg
Kompas

Tempelan kertas yang berisi harapan, kritik, dan pesan tentang pemenuhan hak asasi manusia dalam Festival HAM 2021 di Mal Paragon, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (18/11/2021). Banyak kasus pelanggaran HAM di Indonesia yang belum tuntas diselesaikan dari persoalan agama, hukum, hingga politik. 

Menarik sekali, beberapa saat lalu harian Kompas membahas masalah kritik melalui berbagai sudut pandang. Namun, menurut saya, tulisan Boni Hargens, ”Kritik dan Ruang Publik” (Kompas, 4/11/2021), sangat tajam sekaligus mencerahkan.

Menurut Hargens, ruang publik harus terbuka untuk beragam diskursus dan kritik sembari mengedepankan akal sehat, data valid, dan motif moral. Semua sepakat bahwa kritik adalah dimensi fundamental bangunan demokrasi dan kritik rakyat adalah esensi demokrasi.

Editor:
agnesaristiarini
Bagikan