logo Kompas.id
OpiniMartabat Manusia

Martabat Manusia

Semoga semangat memanusiakan manusia diresapi oleh mereka yang di dalam kesehariannya mendampingi tugas Presiden, sehingga secara bertanggung jawab menjalankan pengabdian mereka.

Oleh
Hadisudjono Sastrosatomo
· 3 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/d0cGCo5xQOcjRY_ijuh9s20xrJY=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2F20211002AGUS01_1633185440.jpg
ISTANA KEPRESIDENAN/AGUS SUPARTO

Presiden Joko Widodo berpidato dalam pembukaan PON XX Tahun 2021 di Stadion Lukas Enembe, Papua, Sabtu (2/10/2021) malam.

Udar Rasa Kompas (3/10/2021) memuat tulisan Bre Redana yang menyadarkan kita tentang hakikat manusia. ”Betapapun, manusia tidak lepas dari proses pencarian akan kebenaran, truth. Belum tentu artificial intelligence, algoritma, data, mampu melunasinya”.

Dalam gelap manusia merindukan seberkas cahaya, setitik bintang, betapapun kecilnya. Kompas pada tanggal yang sama di halaman pertama memuat berita pembukaan PON XX di Papua. Menyejukkan sekaligus membawa optimisme mendengar pidato Presiden Joko Widodo saat pembukaan PON tersebut.

”PON ini adalah panggung kesetaraan dan keadilan untuk maju bersama, sejahtera bersama, dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Presiden.

”Perasaan saya dan perasaan saudara-saudara pasti sama. Kita bangga berada di tanah Papua. Kita bangga membuka PON XX, PON yang pertama kali diselenggarakan di tanah Papua.”

Memanusiakan manusia, menjunjung tinggi martabat manusia, tergambarkan dalam pidato ini.

Pidato itu adalah seberkas cahaya, seperti diungkapkan Bre. Semoga semangat ini diresapi oleh mereka yang di dalam kesehariannya mendampingi tugas Presiden sehingga secara bertanggung jawab menjalankan pengabdian mereka

dalam semangat serta kesadaran akan pandangan Presiden tersebut.

Hadisudjono Sastrosatomo

Jalan Pariaman, Pasar Manggis, Setiabudi, Jakarta 12970

”Internet Banking”

Saya nasabah Bank Mandiri dengan nomor rekening 133.009.409.4xx-x sejak 1998.

Sudah setahun lebih internet banking saya di Bank Mandiri dinonaktifkan. Pada Agustus 2020, saya disarankan pakai mobile banking.

Namun, karena usia saya sudah di atas 60 tahun, saya harus membuat surat pernyataan bahwa Bank Mandiri tidak bertanggung jawab jika terjadi sesuatu terhadap rekening saya. Saya keberatan dengan klausul itu, akhirnya menggunakan ATM saja.

Saya mohon sudilah kiranya Bank Mandiri mengaktifkan kembali internet banking saya. Hal ini sangat memudahkan warga lansia seperti saya untuk bertransaksi.

Sutawanir

Tanah Sareal, Bogor

Tak Panggah

Jafa (jabatan fungsional akademik) alias pangkat dosen di perguruan tinggi diubah lagi. Tiga peringkat tertinggi ialah profesor, profesor asosiat, dan profesor asisten.

Sebutan baru ini terasa kalah ”pas” ketimbang sebutan sebelumnya, yakni profesor, lektor kepala, dan lektor.

Sebelumnya, di antara profesor dan lektor kepala ada pangkat profesor madya, seperti di Malaysia.

Di Amerika Serikat, sebutannya ialah professor, associate professor, dan assistant professor. Jadi, sebutan terbaru itu meniru AS.

Itu baik-baik saja, tetapi mengapa associate dan assistant yang merupakan bentuk penggabung dan di depan dijadikan adjektiva mengikuti kata yang disifatinya?

Sebutan terbaru itu juga tak panggah (inkonsisten) dengan tiga pangkat tertinggi di TNI AD: jenderal, letnan jenderal, dan mayor jenderal. (Kalau mau ditambah, yang keempat ialah brigadir jenderal). Tidak ada adjektiva di belakang ”jenderal”, yang ada ialah bentuk penggabung di depan ”jenderal”.

”Asisten” adalah padanan dari ”assistant”. Dalam bahasa Indonesia, ”asisten” itu bentuk panggabung, juga jadi nomina, tetapi bukan adjektiva. Begitu pula ”asosiat”.

Mengikuti TNI AL, sampai pangkat keempat urut-urutannya adalah profesor, profesor madya, profesor muda, dan profesor (per)tama.

L Wilardjo

Klaseman, Salatiga

Himne PON

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/RyMtvLeBx55GWRmUeYNsFfbwYkg=/1024x576/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2F20211002pembukaan-PON-2021-Papua-xx05_1633186975-e1633188276721.jpg
KOMPAS/DANU KUSWORO

Burung Cenderawasih raksasa diusung dalam satu penampilan di pembukaan PON Papua 2021 di Stadion Lukas Enembe, Jayapura, Papua Sabtu (2/10/2021). 

Setiap ada PON, hati saya selalu bergetar merasakan hebatnya Pekan Olahraga Nasional itu. Saya sudah lansia dan pernah ikut lomba atletik PON tiga kali, mulai PON II di Stadion Ikada Jakarta (1951), Pon III Medan (1953), dan PON V Bandung (1961).

Meskipun tidak pernah dapat medali, saya bangga dapat mewakili daerah ikut PON.

Sekarang pun saya masih merasa senang mengenang pembukaan dan penutupan PON XX serta prestasi para atlet yang bertanding.

Semoga lirik lagu ”Himne PON” dapat disebarluaskan untuk menggairahkan olahraga di Tanah Air. Salam Olahraga.

F Soemanto

Puncak Buring Indah, Kedungkandang, Malang

Editor:
agnesaristiarini
Bagikan