logo Kompas.id
›
Opini›Lian Gouw dan Publikasi Sastra...

Lian Gouw dan Publikasi Sastra Dunia

Publikasi sastra Indonesia ke panggung sastra dunia, dalam bahasa asing, merupakan salah satu upaya memperkenalkan sastra Indonesia dalam kancah sastra dunia. Sejumlah karya sastra meraih penghargaan internasional.

Oleh
S PRASETYO UTOMO
· 6 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/gRmak0VyvEf42WWDD3veio9nZ98=/1024x593/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2F20211029-Ilustrasi-Lian-Gouw-dan-Publikasi-Sastra-Dunia_1635521310.jpg
Kompas

Didie SW

Datang berita dari Lian Gouw bahwa cerpen-cerpen selama 10 tahun (2012-2022) yang pernah dipublikasikan Dalang Publishing LLC akan dibukukan. Saya semakin sadar makna peristiwa itu bagi publikasi sastra Indonesia di dunia. Kumpulan cerpen itu terbit dalam bahasa Indonesia dan Inggris, yang diterjemahkan dan dipublikasikan Dalang Publishing LLC, San Mateo, California, Amerika.

Lian Gouw membawa cita-cita memperkenalkan sastra Indonesia dalam kancah sastra dunia. Saya merenungkan kemuliaan Lian Gouw yang memiliki kecintaan terhadap teks sastra berlatar sejarah, kebudayaan, kepedulian lingkungan hidup, dan kemanusiaan di Indonesia.

Novel-novel sejarah yang diterbitkan Lian Gouw mengekspresikan netralitas yang tak berpihak secara politik, agama, dan suku. Cerpen-cerpen pilihannya berobsesi pada eksotisme budaya, lingkungan hidup, dan kesadaran humanisme. Lian Gouw membuka cakrawala batin kita pada wajah lain sastra Indonesia mutakhir, meskipun tercium juga aroma konfrontasi poskolonial.

Baca juga : Penerjemahan Karya Sastra Perlu untuk Jangkau Pembaca Asing

Semula novel Lian Gouw, Only A Girl, diterjemahkan PT Gramedia Pustaka Utama dengan judul Menantang Phoenik. Terbitnya novel ini dirasakan Lian Gouw sebagai panggilan ke pangkuan Ibu Pertiwi. Keterpanggilan jiwa dan kepedulian serta tanggung jawab sebagai seorang penulis terhadap budaya Tanah Air inilah yang membawanya menerbitkan novel-novel sastrawan Indonesia ke dalam bahasa Inggris, di antaranya Namaku Mata Hari (Remy Sylado), Maut dan Cinta (Mochtar Lubis), Lolong Anjing di Bulan (Arafat Nur).

Di antara cerpen-cerpen yang pernah diterjemahkan dan dipublikasikan Dalang Publishing LLC, saya menemukan karya Ahmad Tohari, Triyanto Triwikromo, Iksaka Banu, dan Budi Darma. Cerpen-cerpen mereka menawarkan pencarian identitas budaya, empati humanisme, dan spiritualitas.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/P2iVshNJuYjOUyyG_RQlYBVWSbo=/1024x690/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F11%2Fcerpen-budi-darma_1606549935.jpg

Panggung sastra dunia

Bagaimanapun publikasi sastra Indonesia ke panggung sastra dunia yang dilakukan Lian Gouw terbatas pada teks sastra yang membebaskan diri dari dominasi kekuasaan dan kecintaan pada keanekaragaman budaya, lingkungan, dan humanisme. Novel-novel Maut dan Cinta, Namaku Mata Hari, dan Lolong Anjing di Bulan menyingkap pembebasan dominasi kekuasaan. Para sastrawan itu berobsesi pada konfrontasi tokoh terhadap dominasi kekuasaan yang menyekap seluruh sendi kehidupan dalam perang dunia (Namaku Mata Hari), pembebasan terhadap kaum kolonial (Maut dan Cinta), dan melawan kekuasaan yang menindas bangsa sendiri (Lolong Anjing di Bulan).

Dalam bidang cerpen, Lian Gouw memilih cerpen-cerpen yang berobsesi pada identitas budaya, lingkungan, dan humanisme. Cerpen Ahmad Tohari, Blokeng, dipilih Dalang Publishing LLC sebagai ekspresi dunia underdog, potret satir kaum pinggiran. Cerpen Triyanto Triwikromo, Wali Kesebelas menawarkan desakralisasi mitos, struktur cerita dikembangkan secara intertekstualitas dengan hikayat para nabi, diperkaya dengan latar sosial-politik, dan menukik ke dalam mistisisme.

Dalam bidang cerpen, Lian Gouw memilih cerpen-cerpen yang berobsesi pada identitas budaya, lingkungan, dan humanisme.

Iksaka Banu dengan cerpen Belenggu Emas dalam terjemahan dan publikasi Dalang Publishing LLC, pada hakikatnya merupakan pembebasan hegemoni patriarkhi zaman kolonial. Kehadiran Iksaka Banu tak bergeser dari kisah-kisah zaman Hindia Belanda dalam kumpulan cerpen Semua untuk Hindia (Kepustakaan Populer Gramedia, 2014). Latar sejarah kolonialisme Hindia Belanda tak habis digalinya.

Penerjemahan dan publikasi cerpen Budi Darma Mata yang Indah mewakili cerpen Indonesia mutakhir. Mata yang Indah terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 2001. Cerpen ini menjadi menarik karena motif ”mata yang indah” berkali-kali didefamiliarisasi membentuk struktur cerita yang tak terduga. Karena Budi Darma dikuasai afinitas—pikiran yang berkelebat—dan mencipta cerpen dengan dikuasai kekuatan ketaksadaran yang mengalir bersama proses kreatifnya, peristiwa-peristiwa kebetulan dan tak terduga senantiasa bermunculan dalam struktur narasinya.

Baca juga : Pena Kedalaman Berpikir Sastrawan Budi Darma

Tentu saja tidak menutup kemungkinan, Dalang Publishing LLC menerjemahkan dan memublikasikan cerpen Seno Gumira Ajidarma, Ugoran Prasad, Yanusa Nugroho, Faisal Oddang, dan Raudal Tanjung Banua yang berobsesi pada sejarah, budaya, kepedulian lingkungan, dan kemanusiaan. Cerpen-cerpen terbaik Kompas sebagaimana Mata yang Indah karya Budi Darma menarik untuk diterjemahkan dan dipublikasikan dalam panggung sastra dunia.

Dalang Publishing LLC bisa memilih cerpen Seno Gumira Ajidarma Pelajaran Mengarang, Cinta di Atas Perahu Cadik, Dodolitdodolitdodolibret, dan Macan. Perlu dipertimbangkan pula penerjemahan cerpen Ugoran Prasad yang berjudul Ripin, cerpen Yanusa Nugroho yang berjudul Salawat Dedaunan, cerpen Faisal Oddang yang berjudul Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon, dan cerpen Raudal Tanjung Banua yang berjudul Aroma Doa Bilal Jawad.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/zAnjZUelfa2_BuLXCuYCBq0G8IQ=/1024x683/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F06%2FMalam-Cerpen5-2020_1624896062.jpg
KOMPAS/ALBERTUS KRISNA

Cerpen Macan karya Seno Gumira Ajidarma dipilih sebagai Cerpen Terbaik Kompas 2020. Pemberian penghargaan dilakukan dalam acara Anugerah Cerpen Kompas 2020 yang digelar secara daring, Senin (28/6/2021) dari ruang Kompas Institute di Jakarta.

Sastrawan mutakhir

Memang harus dihormati pilihan Dalang Publishing LLC terhadap teks sastra Indonesia mutakhir yang hendak diterjemahkan dan dipublikasikan. Akan tetapi, sungguh disayangkan, apabila pilihan terhadap novel dan cerpen yang diterjemahkan Dalang Publishing LLC tak memberi gambaran perkembangan estetika sastra Indonesia mutakhir.

Selama ini beberapa sastrawan mutakhir mencari agen dan penerbit yang memungkinkan untuk menerjemahkan karya sastra mereka ke dalam bahasa Inggris atau bahasa lain. Mereka mengikuti jejak Pramoedya Ananta Toer yang hampir semua karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa asing dan menjadi kandidat penerima Hadiah Nobel sastra.

Kesadaran untuk menerjemahkan teks sastra ke dalam bahasa Inggris atau asing dilakukan pula oleh Eka Kurniawan. Novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas memperoleh Prince Claus Award pada 2018. Novelnya yang lain, Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau juga telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Kesadaran untuk menerjemahkan teks sastra ke dalam bahasa Inggris atau asing dilakukan pula oleh Eka Kurniawan.

Eka Kurniawan berutang budi kepada Ben Anderson, profesor Cornell University, yang memintanya untuk segera menerjemahkan novel. Ia pun menyerahkan kepada Labodalih Sembiring untuk menerjemahkan Lelaki Harimau dan Annie Tucker menerjemahkan Cantik Itu Luka. New Directions menerbitkan Cantik Itu Luka. Penerbit ini telah menerbitkan karya Boris Pasternak, Andre Gide, Jean Paul Sartre, Pablo Neruda, dan Guy Davenport.

Kesadaran publikasi sastra dunia sering kali dilakukan sastrawan sendiri, dengan menulis dalam bahasa Inggris dan Indonesia seperti Laksmi Pamuntjak. Ia menulis novel Amba yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, Alle Farben Rot, dan menerima penghargaan LiBeraturpreis.

Novel Fall Baby yang ditulis dalam bahasa Inggris menerima penghargaan Best Literary Work, Singapore Book Award 2020. Novel ini diterbitkan Penguin Random House SEA, menjadi buku laris di kawasan Asia Tenggara, dan diterjemahkan dengan judul Kekasih Musim Gugur, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama.

Sesungguhnya kita bisa belajar dari para sastrawan Asia seperti Rabindranat Tagore (1913), Yasunari Kawabata (1968), Kenzaburo Oe (1994), dan Gao Xingjian (2000) yang menerima Hadiah Nobel sastra. Teks sastra mereka tak kehilangan identitas budaya sebagai akar daya cipta.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/BcCPD1BWzbtTgH1joLOvktKslf8=/1024x1124/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F11%2F20201121-Sketsa-Hal-8-Nobel-Sastra_1605884860.jpg

Eka Kurniawan dan Laksmi Pamuntjak mencipta teks sastra dengan obsesi pada identitas budaya dan sejarah yang berkembang di tengah pergolakan bangsanya. Publikasi sastra Indonesia ke panggung sastra dunia yang dilakukan Eka Kurniawan dan Laksmi Pamuntjak merupakan pertanda bahwa Lian Gouw perlu membuka diri terhadap banyak karya sastrawan Indonesia.

Dalang Publishing LLC juga berobsesi pada konfrontasi hegemoni kekuasaan dan identitas budaya. Akan tetapi, Lian Gouw belum benar-benar memilih teks sastra Indonesia mutakhir yang dicipta dengan keadiluhungan estetika. Sebenarnya ia dapat bekerja sama dengan sastrawan atau kritikus sastra di Indonesia yang memiliki ideologi yang sama untuk memilih teks sastra yang akan diterjemahkan dan dipublikasikan.

Baca juga : Sastra dan Kewarasan Kita

Ada tiga keuntungan yang bisa diraih Dalang Publishing LLC apabila Lian Gouw bekerja sama dengan kritikus dan sastrawan Indonesia mutakhir. Pertama, Dalang Publishing LLC memperoleh teks sastra yang selaras dengan cita-cita Lian Gouw yang memiliki kecintaan terhadap keanekaragaman budaya Indonesia dan netralitas sikap politik.

Kedua, teks sastra yang dipilih memberi konfigurasi perkembangan sastra Indonesia mutakhir. Ketiga, teks sastra yang dipilih memenuhi kriteria fungsi estetika, dengan penafsiran plural, membuka ruang dialogis dan penafsiran dengan pembaca sastra dunia untuk memberi penghargaan terhadap sastra Indonesia mutakhir.

S Prasetyo Utomo

Sastrawan, Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/iIn1GqDQa-YgvtTX96qhY8RUNmI=/1024x1109/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F03%2FS-Prasetyo-Utomo_1615045274.jpeg
Editor:
yovitaarika
Bagikan