logo Kompas.id
OpiniKebangsaan dan Epistemi...
Iklan

Kebangsaan dan Epistemi Intelektual

Pada esensinya kebangkitan nasional juga hasil perjuangan para tokoh terpelajar Indonesia, terutama yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia, dengan menyebarkan epistemologi kebangsaan di tingkat global.

Oleh
FACHRY ALI
· 1 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/2OB2xb9nE4kGdteo3H9sdwR4nIo=/1024x497/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F11%2F20191103WERA_1572781478.jpg
KOMPAS/DEFRI WERDIONO

Ratusan orang, yang sebagian besar anak muda, bersama-sama memanggul bendera merah putih berukuran 6 meter x 80 meter dari depan Monumen Pahlawan Trip untuk diarak menyusuri sejumlah ruas jalan di Malang, dan berakhir di Lapangan Rampal, dalam rangka Kirab Merah Putih dan Silaturahmi Kebangsaan, Minggu (3/11/2019) sore.

Di sela-sela seminar "State and Transnationalization" di Penang, Malaysia, pertengahan 1980-an, saya bercakap-cakap dengan antropolog negara jiran itu, Sayyid Husin Ali.

“Saya,” ujarnya, “adalah orang yang ditinggal oleh keduanya.” Yang dimaksud “keduanya” adalah Indonesia dan Malaysia. Ketika saya bertanya alasannya, Sayyid yang menulis disertasi tentang peranan bomoh (dukun) dalam masyarakat jiran itu di Oxford University, Inggris, menjawab: “Karena saya membuat program penyatuan Indonesia dan Malaysia.” Lalu saya dan tokoh yang ikut “tergetar” dalam pergolakan etnik di Malaysia pada 1969 itu tertawa lepas.

Editor:
yohaneskrisnawan
Bagikan