logo Kompas.id
OlahragaKompleksitas Masalah...

Kompleksitas Masalah Kesejahteraan Pesepak Bola Indonesia

Meskipun dikontrak dengan gaji tinggi, para pesepak bola Indonesia cemas menghadapi masa depan, terutama saat cedera. Hanya 20 persen dari 42 klub di Liga 1 dan Liga 2 yang memberikan asuransi kesehatan dan kecelakaan.

Oleh
MUHAMMAD IKHSAN MAHAR
· 1 menit baca
https://assetd.kompas.id/Efj7UIhC7dNm5hg4jWhPMl_18Pc=/1024x576/https://kompas.id/wp-content/uploads/2019/02/20190225_TIMNAS-U22_E_web_1551086335.jpg
ANTARA FOTO/NYOMAN BUDHIANA

Pemain timnas sepak bola Indonesia U-22, Andy Setyo Nugroho, berlatih secara khusus setelah mengalami cedera, saat latihan menjelang pertandingan final Piala AFF U-22 di Stadion Nasional Olimpiade, Phnom Penh, Kamboja, Senin (25/2/2019). Cedera menjadi momok bagi para pemain sepak bola profesional, apalagi jika mereka tidak dilindungi asuransi kesehatan dan keccelakaan kerja.

JAKARTA, KOMPAS - Di balik ingar-bingar kehidupan mewah para pesepak bola nasional, sejatinya mereka masih dibayangi masalah kesejahteraan ketika gantung sepatu. Profesionalisme klub yang belum ideal dalam memenuhi hak pemain, kesadaran pemain yang buruk dalam memahami pengelolaan finansial, hingga minimnya perhatian pemerintah, menjadi “labirin” yang mengancam seniman lapangan hijau mengalami masalah keuangan di hari tua.

Meskipun memberikan pemain nilai kontrak ratusan juta hingga miliaran rupiah per musim, mayoritas klub di kompetisi profesional Indonesia, yaitu Liga 1 dan 2, belum memberikan hak pemain sesuai dengan aturan ketenagakerjaan yang berlaku. Hal itu utamanya berkaitan dengan asuransi atau jaminan kesehatan. Padahal, pesepak bola adalah profesi yang amat rentan mengalami cedera yang bisa membuat atlet tersebut absen dalam waktu lama.

Editor:
Yulvianus Harjono
Bagikan