logo Kompas.id
MetropolitanNgabuburit Asik di Sarinah dan...
Iklan

Ngabuburit Asik di Sarinah dan Jembatan Pinisi

Sarinah dan Jembatan Pinisi, dua tempat terbilang baru yang segaris di jalur emas ibu kota DKI Jakarta ini, sukses menarik minat warga menghabiskan waktu di sana, termasuk saat menjelang berbuka puasa.

Oleh
ERIKA KURNIA
· 6 menit baca
Suasana di luar pusat perbelanjaan Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (6/4/2022) sore.
KOMPAS/ERIKA KURNIA

Suasana di luar pusat perbelanjaan Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (6/4/2022) sore.

Dibuka pada Maret 2022, pusat perbelanjaan Sarinah di Jalan MH Thamrin dan Jembatan Penyeberangan Orang Pinisi di Jalan Sudirman menjadi destinasi baru yang sedang kuat-kuatnya menarik orang untuk berkunjung ke sana. Pada bulan puasa, kedua lokasi yang terletak segaris di jalur emas Ibu Kota DKI Jakarta itu menjadi lokasi favorit untuk ngabuburit menunggu waktu berbuka.

Sarinah, pusat perbelanjaan dan pencakar langit pertama di Indonesia, kembali dibuka pada 21 Maret tahun ini setelah mengalami renovasi besar-besaran sejak 2020. Sarinah kini lebih menarik karena arsitektur dalam dan luar bangunan yang kekinian.

Didesain tanpa pagar, Sarinah baru menyatu dengan trotoar lebar dan nyaman yang terkoneksi dengan akses ke halte Transjakarta. Magnet baru di jantung ibu kota itu memang lebih nyaman dikunjungi dengan menumpang kendaraan umum, terutama bus Transjakarta.

Rabu (6/4/2022), sejumlah pengunjung dari berbagai kalangan dan usia meramaikan mal delapan lantai itu pada sore hari jelang waktu berbuka puasa. Para pengunjung tidak melewatkan kesempatan untuk melihat-lihat arsitektur interior mal yang modern.

Sejumlah pengunjung duduk di salah satu sudut lantai basemen pusat perbelanjaan Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (6/4/2022) sore.
KOMPAS/ERIKA KURNIA

Sejumlah pengunjung duduk di salah satu sudut lantai basemen pusat perbelanjaan Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (6/4/2022) sore.

Pengunjung bisa sekadar cuci mata atau sekaligus belanja produk kerajinan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dihadirkan di setiap lantai dengan konsep tematik, seperti sebelum dipugar. Lantai basemen, misalnya, menjadi area kuliner modern, jajanan pasar, pusat oleh-oleh Nusantara, dan swalayan lokal.

Lantai dasar gedung mewakili tema warisan busana dan gaya hidup Indonesia dengan tampilan produk wastra premium, pakaian tradisional, batik, dan perhiasan dari jenama-jenama lokal ternama. Di lantai satu, pengunjung bisa menemukan busana kontemporer dengan harga lebih terjangkau dan gerai kuliner di ruang terbuka.

Dulu, pas tahun 90-an, ini jadi ikon kerennya Jakarta. Kami sama teman-teman, anak muda dari daerah mana-mana di Jakarta, kalau mau kumpul di sini. Sekarang, ini mau balik lagi jadi ikon kerennya Jakarta

Sebagian pengunjung juga dibuat penasaran untuk menjajal kuliner yang ada, seperti toko kue jajanan pasar Sari-Sari hingga pujasera Pasar Nusantara. Toko Sari-Sari yang berasal dan masih mengirim produksi kuenya dari Bandung, Jawa Barat, dijejali banyak pengunjung. Aneka kudapan, seperti apem jawa, lumpur kelapa, hingga asinan, bisa diborong pengunjung untuk berbuka puasa atau oleh-oleh keluarga di rumah.

Kudapan lain juga bisa dicicipi dari beberapa food truck, seperti kopi dari Filosofi Kopi dan burger Bangor. Food truck itu menyebar di taman luar bangunan yang juga ramai disambangi pengunjung. Taman berkonsep terbuka itu bisa dimanfaatkan pengunjung untuk duduk-duduk santai sambil menghirup udara bebas.

Suasana toko kue di pusat perbelanjaan Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (6/4/2022) sore.
KOMPAS/ERIKA KURNIA

Suasana toko kue di pusat perbelanjaan Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (6/4/2022) sore.

Pengunjung mengantre untuk membayar makanan yang dibeli di salah satu toko kue legendaris Sari-Sari di pusat perbelanjaan Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (6/4/2022) sore.
KOMPAS/ERIKA KURNIA

Pengunjung mengantre untuk membayar makanan yang dibeli di salah satu toko kue legendaris Sari-Sari di pusat perbelanjaan Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (6/4/2022) sore.

Arsitektur mal yang akan berusia 61 tahun pada 23 April itu memancing banyak pengunjung untuk berfoto. Selain karena terasa kekinian seusai direvitalisasi, berbagai sudut di Sarinah memang cantik sebagai latar foto untuk konten di media sosial.

Contohnya, relief kehidupan rakyat agraris dan maritim di masa lampau serta galeri foto Sarinah dari masa ke masa di lantai dasar. Di galeri itu, pengunjung bisa membaca sejarah kehadiran Sarinah dalam surat ”Amanat PJM Presiden Soekarno pada Pemancangan Tiang Pertama Gedung Departement Store Sarinah pada 23 April 1963”. Melalui surat itu, Soekarno menyebutkan harapannya kepada Sarinah sebagai alat penggerak ekonomi dan penyejahtera rakyat kecil, khususnya perempuan.

Lalu, di lantai dua terdapat balkon luas. Di sana, pengunjung bisa berfoto dengan latar gedung-gedung tinggi atau perempatan jalan yang sibuk di Jalan MH Thamrin.

Baca juga: Merayakan Gerakan Lokalitas di Sarinah

Suasana itu yang juga menarik Sahala (50) dan David (49) untuk menengok Sarinah. Kedua warga Jakarta itu mengaku senang Sarinah yang dulu tertinggal dari segi pasar dan arsitektur diperbarui dengan nuansa yang lebih modern, namun tetap mengusung lokalitas.

Suasana di pusat perbelanjaan Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (6/4/2022) sore.
KOMPAS/ERIKA KURNIA

Suasana di pusat perbelanjaan Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (6/4/2022) sore.

Namun, mereka belum melihat Sarinah kini memiliki ikon atau daya tarik seperti sebelumnya. Ia mencontohkan restoran McDonald's yang sebelumnya ada di sana dan cukup populer sampai penutupannya sebelum waktu pemugaran Sarinah, Manchaster United Restaurant and Bar (MU Cafe), atau Hard Rock Cafe yang pernah menjadi tempat nongkrong anak muda di tahun 90-an.

Iklan

”Dulu, pas tahun 90-an, ini jadi ikon kerennya Jakarta. Kami sama teman-teman, anak muda dari daerah mana-mana di Jakarta, kalau mau kumpul di sini. Sekarang, ini mau balik lagi jadi ikon kerennya Jakarta," ujar David.

Di sisi lain, keduanya mengingat Sarinah hanya menjadi ikon nongkrong, bukan ikon belanja di Jakarta karena kalah dengan mal lain di sekitarnya, sebut saja Grand Indonesia, Plaza Indonesia, dan Thamrin City. Mereka pun berharap Sarinah baru harus memiliki spesialisasi yang mau membuat orang mau terus berkunjung.

”Sekarang Sarinah sudah cakep, nih, tetapi musti ada faktor X lain yang harus buat orang mau datang lagi ke sini,” kata Sahala.

Aktivitas pekerja di dalam proyek renovasi Gedung Sarinah, Jakarta Pusat, Minggu (16/1/2022). Gedung Sarinah yang tengah direnovasi ini dulunya merupakan pusat perbelanjaan Sarinah yang diresmikan pertama kali oleh Presiden RI pertama Soekarno pada tahun 1966.
KOMPAS/PRIYOMBODO

Aktivitas pekerja di dalam proyek renovasi Gedung Sarinah, Jakarta Pusat, Minggu (16/1/2022). Gedung Sarinah yang tengah direnovasi ini dulunya merupakan pusat perbelanjaan Sarinah yang diresmikan pertama kali oleh Presiden RI pertama Soekarno pada tahun 1966.

Pengunjung lain, Devita (25), penasaran melihat Sarinah kini. Ia bersama rekan-rekan kerjanya yang berkantor di Jalan Kebon Sirih sengaja datang ke mal itu untuk ngabuburit.

”Saya senang sih, akhirnya ada tempat nongkronglagi di dekat kantor. Saya suka karena temannya bisa jadi tempat nongkrong terbuka. Kalau bisa tempat makan atau toko jajanannya ditambah lagi biar lebih asyik,” ujar warga Depok, Jawa Barat, itu.

Rasa penasaran yang sama mendorong Dyah Pitaloka (54), warga Jakarta Selatan, ke Sarinah. Dyah sangat terdorong untuk melihat produk-produk kerajinan yang masih mengutamakan produk lokal.

”Saya terakhir belanja di sini waktu Asian Games 2018, waktu itu saya ajak tamu asing yang menumpang di rumah saya untuk belanja suvenir maskot. Sekarang, saya kira ini bakal jadi tempat yang lebih menarik untuk bawa turis asing belanja. Apalagi di sini katanya seluruhnya menjual produk dalam negeri," tuturnya.

Magnet JPO baru

Suasana jembatan penyeberangan orang Pinisi di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (6/4/2022) sore.
KOMPAS/ERIKA KURNIA

Suasana jembatan penyeberangan orang Pinisi di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (6/4/2022) sore.

Jika sudah mampir ke Sarinah baru, lanjutkan saja jalan-jalan ngabuburit sekalian ke arah selatan pusat belanja itu sejauh sekitar 3 kilometer. Ada Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Pinisi yang juga sedang menjadi magnet baru untuk dikunjungi.

Di tengah ramainya pekerja kantoran yang lalu lalang, kepadatan lalu lintas di jam pulang kantor, dan panasnya matahari sore, sejumlah pelancong asik berfoto-foto di jembatan yang terintegrasi dengan Halte Karet Bus Transjakarta di Jalan Sudirman itu.

JPO tak beratap yang terdiri dari dua jalur penyeberangan orang dan sepeda itu memiliki anjungan pandang bertingkat yang menyerupai kapal pinisi. Daniel (23), asal Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten, rela memanfaatkan waktu liburnya untuk pergi ke sana bersama pacarnya.

”Kebetulan hari ini memang sengaja ke Jakarta untuk lihat tempat-tempat hits, seperti jembatan ini dan SCBD. Kalau di sini mau foto-foto aja sih untuk konten di Instagram,” kata mahasiswa yang datang ke sana dengan transportasi umum ini.

Seorang warga memotret jembatan penyeberangan orang dari anjungan pandang Jembatan Phinisi di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (6/4/2022) sore.
KOMPAS/ERIKA KURNIA

Seorang warga memotret jembatan penyeberangan orang dari anjungan pandang Jembatan Phinisi di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (6/4/2022) sore.

Ia mengaku mengetahui adanya jembatan ini dari konten media sosial Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Anies memang baru meresmikan jembatan itu bulan lalu, tepatnya 10 Maret. Jembatan itu dipugar setelah melalui tahap perancangan pada 2019 hingga proses eksekusi pada 2021.

”Namanya ibu kota, menurut saya, perlu ada jembatan yang seperti ini. Orang yang sekadar menyeberang pun bakal senang ke sini," ujarnya.

Baca juga: Sarinah Menjadi "Rumah" UMKM yang Lebih Berkelas

Sonia, warga Kepala Gading, Jakarta Utara, bahkan sampai dua kali datang ke sana untuk foto-foto. Kali ini ia membawa anaknya yang masih lima tahun untuk melihat-lihat jembatan yang didominasi kelir coklat jingga pekat sewarna kayu itu.

”Ke sini karena lagi hit, sih. Mungkin ini enggak akan jadi tempat wisata atau didatangi berulang karena ada di daerah perkantoran. Tetapi, ini bisa jadi jembatan yang bagus dan aman untuk pejalan kaki atau pengguna sepeda,” ujarnya.

Pengunjung menikmati pemandangan gedung perkantoran dari lantai dua anjungan pandang jembatan penyeberangan orang Pinisi di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (6/4/2022) sore.
KOMPAS/ERIKA KURNIA

Pengunjung menikmati pemandangan gedung perkantoran dari lantai dua anjungan pandang jembatan penyeberangan orang Pinisi di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (6/4/2022) sore.

Seperti kata Sonia, jembatan ini memang didukung fasilitas tambahan, seperti kamera pemantau (CCTV), lift, hingga tempat parkir sepeda. Waktu paling nyaman untuk mendatangi tempat ini adalah pagi, malam, atau sore menjelang buka puasa.

Apa pembaca juga sudah pernah ke Sarinah baru atau JPO Pinisi? Kalau belum, bolehlah sempatkan waktu mampir ngabuburit ke sana. Yuk!

Editor:
NELI TRIANA
Bagikan