logo Kompas.id
MetropolitanBegini Rasanya Jadi ”Debt...

Begini Rasanya Jadi ”Debt Collector”

"Debt collector" turut menjadi sorotan saat berbagai kasus pinjaman ”online” (pinjol) alias pinjaman daring menyeruak. Mereka dianggap menghalalkan segala untuk menagih utang. Bagaimana cara kerja mereka sesungguhnya?

Oleh
Stefanus Ato
· 5 menit baca
https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/WQvDSUsbbHZUkl49_oUq5v8zx3U=/1024x768/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2F20211014_120929_1634801450.jpg
KOMPAS/STEFANUS ATO

Seorang penagih utang dari perusahaan pinjaman daring legal saat mencari alamat seorang debitor di wilayah Rorotan, Jakarta Utara, Kamis (14/10/2021).

Awal Oktober 2021, di Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara. Suatu malam, sekelompok pemuda asal Nusa Tenggara Timur duduk berkumpul sembari asyik mengobrol. Obrolan ringan disisipi candaan itu berlangsung hangat.

Mereka menceritakan berbagai kejadian konyol dan lucu yang pernah dialami saat mendatangi rumah-rumah warga di Ibu Kota. Para pemuda itu bekerja sebagai penagih utang atau debt collector pinjaman online (pinjol) alias pinjaman daring legal. Obrolan mereka menarik dan kaya dengan kisah-kisah humanis.

Saat itu, saya yang turut nimbrung bersama mereka lebih banyak menyimak. Sembari mendengarkan obrolan, insting saya sebagai wartawan muncul. Bagi saya, kisah ini menarik dan layak dipanggungkan dalam bentuk laporan jurnalistik.

Obrolan mereka menarik dan kaya dengan kisah-kisah humanis.

Namun, ide itu untuk sementara hanya bisa saya pendam karena untuk meliput dan menuliskannya saya butuh curi-curi waktu di sela kesibukan meliput isu harian di wilayah Jabodetabek.

Rencana meliput kerja para penagih utang sempat saya ceritakan kepada kolega di desk regional tempat saya bertugas untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Mereka turut menyumbang gagasan yang kian membuat rencana liputan ini tambah menarik.

Beberapa hari kemudian, atau tepatnya 11 Oktober 2021, saya membaca sebuah artikel di kompas.id berjudul Presiden Menyoroti Pinjaman ”Online” yang Menjerat Warga Ekonomi Bawah.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/6jx3WFHBjrb1bR3dAVqHR8ErGOc=/1024x577/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2Fa1696f1a-d18d-4786-bd58-857ebbd70568_jpg.jpg
Istimewa

Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Auliansyah Lubis mewawancarai Soza, penagih utang yang bekerja untuk PT ANT Information Consulting, di Kompleks Ruko Bukit Gading Indah, Jakarta Utara, Senin (18/10/2021).

Dalam artikel itu, Presiden Joko Widodo meminta Otoritas Jasa Keuangan menjaga eksosistem pinjaman daring yang bertanggung jawab dan memiliki mitigasi risiko yang kuat.

Bagi saya, ini momentum tepat untuk meliput cara kerja debt collector pinjaman daring. Dua hari kemudian, saya menyampaikan gagasan untuk meliput kerja penagih utang itu kepada Mbak Neli Triana, Wakil Kepala Desk Regional. Gagasan itu diterima dan otomatis liputan itu bukan lagi rencana, tetapi tugas yang wajib diselesaikan.

Jadi koboi jalanan

Setelah mendapat persetujuan dari editor, saya menghubungi salah satu kerabat yang bekerja sebagai debt collector. Saya meminta izin turut serta bersama mereka seharian untuk mencari debitor-debitor yang masih menunggak utang.

Tanggal 14 Oktober 2021 pukul 09.00, kami memulai pencarian alamat rumah seorang debitor yang menunggak di Jalan Raya Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Saya berboncengan dengan Flesh (38), yang baru enam bulan bekerja sebagai debt collector.

Baca juga : Ragam Karakter Debitor Menguji ”Debt Collector” Pinjaman Daring

Kami menumpang sepeda motor automatik. Sepanjang hari itu, bukan sepeda motor saja yang bekerja keras. Jantung saya pun tak kalah keras bekerja karena kerap kali berdegup kencang.

Sejak keberangkatan kami dari Muara Baru menuju Cilincing, jalanan dipadati kendaraan bertonase berat. Kondisi itu tidak menyurutkan Flesh. Ia terus memacu sepeda motor dengan kecepatan tinggi.

Baca juga : PON Papua Mengajarkanku Keberagaman

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/fexKTOq8DnQ5rcRnCOeuHqi6VYQ=/1024x1365/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F10%2F99308a46-e1cf-4699-a417-73af9e76d78f_jpg.jpg
KOMPAS/STEFANUS ATO

Penagih utang tengah melacak rumah debitor pinjaman daring melalui aplikasi Google Maps, Kamis (14/10/2021).

Kerap kali, Flesh nekat menyelinap dengan memanfaatkan celah antarkendaraan kontainer yang melaju beriringan atau datang dari arah berlawanan. Laju kendaraan kami hanya melambat saat tak ada lagi celah untuk menyelinap.

Flesh bekerja diburu waktu karena perusahaan menargetkan dia harus mengunjungi 120 debitor selama periode 1-15 Oktober. Jika target tercapai, ia bakal mendapat uang saku Rp 500.000. Honor itu belum termasuk uang transportasi. Namun, sialnya, pada 14 Oktober, masih ada 20-an nasabah yang belum didatangi Flesh.

”Semoga hari ini kita bisa ketemu 11 atau 12 orang. Besok, saya selesaikan sisanya,” katanya sembari terus menarik tuas gas kendaraan.

Baca juga : Korban Jerat Hitam Pinjaman ”Online” Butuh Pemulihan Mental

Selama perjalanan, Flesh berulang kali menenangkan saya. Dia bercerita bahwa dirinya sudah mahir berkendara dengan kecepatan tinggi di jalanan padat dan macet berkat pengalamannya pada tahun 2010 saat bekerja sebagai debt collector yang bertugas mencari kendaraan debitor yang menunggak.

Pada saat bertemu debitor yang kendaraannya masih berstatus menunggak, tidak semua bersedia menghentikan laju kendaraannya seperti permintaan. Akibatnya, kejar-kejaran pun tak terhindarkan.

Pengalaman kejar-kejaran di jalanan ini yang dikatakan Flesh kian membuatnya terampil dan mahir bermotor. Namun, klaim itu sama sekali tidak membuat saya tenang. Sepanjang perjalanan, saya sibuk berdoa agar segera sampai tujuan dengan selamat.

Baca juga : Mencicipi Helikopter VVIP Super Puma Saat Meliput Wakil Presiden

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/LEoZXSMcIV4pb9TxZBVlSbnggOY=/1024x497/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F01%2F20190129_153521_1548761743.jpg
STEFANUS ATO UNTUK KOMPAS

Pesepeda motor melintas di Jalan Marunda Raya, Cilincing, Jakarta Utara, yang juga dipadati truk trailer.

Saat tiba di rumah debitor, tantangan lain menanti. Banyak debitor yang tidak mengakui identitasnya saat ditanya. Padahal, orang itulah debitor yang kami cari.

Ada pula debitor yang terus menyangkal, bahkan balik menantang penagih utang. Saat situasi memanas, saya memililih menghindar atau berpura-pura mencari warung untuk jajan. Saya tidak ingin terlibat dalam perdebatan yang bisa berakhir dengan perkelahian karena khawatir terseret persoalan hukum jika debitor itu kelak melapor ke kepolisian.

Untungnya, selama bersama Flesh, ia selalu mampu mengontrol emosi. Sejak sebelum berangkat, saya sudah wanti-wanti agar ia tetap bekerja dengan kepala dingin dan sebisa mungkin menghindari friksi.

Menerobos plang otomatis

Setelah dua jam berputar di daerah Cilincing, sekitar pukul 12.00 kami bergeser ke wilayah Cakung. Saat itu, sasaran kami adalah seorang debitor yang bekerja di kawasan industri di Jalan Cilincing Raya, Rorotan, Jakarta Utara.

Ketika tiba di gerbang kawasan industri, ada banyak kendaraan tengah mengantre untuk mendapatkan kartu akses masuk. Setelah itu, barulah kendaraan bisa melewati plang otomatis untuk masuk ke dalam kawasan.

Karena tidak mungkin mendapatkan akses, Flesh memacu sepeda motor untuk mendahului kendaraan lain. Saat itu bertepatan dengan plang yang dalam kondisi terangkat sehingga kendaraan kami melaju dengan mulus.

Baca juga : Menyamar demi Mewawancarai Peretas Situs Pemerintah

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/nAqA9lI4BWYX0jyJg2-pCPmm2B0=/1024x497/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F01%2F20190129_144252_1548761848.jpg
STEFANUS ATO UNTUK KOMPAS

Truk trailer memadati ruas Jalan Marunda Raya, Cilincing, Jakarta Utara.

Sepeda motor terus meliuk-liuk hingga tiba di salah satu gudang perusahaan penyedia produk dialisis pasien. Flesh memarkir kendaraan dan menghampiri seorang pria yang mengenakan seragam petugas keamanan.

Dia tak perlu lagi memperkenalkan diri lantaran petugas keamanan yang dituju adalah sasaran yang dicarinya selama dua bulan terakhir. Pria itu masih memiliki utang lewat salah satu aplikasi pinjaman daring.

Keduanya kemudian terlibat perdebatan sengit. Petugas keamanan itu bergeming dan mengatakan selama ini ia tak menghindar. Ia memastikan akan melunasi utang jika sudah memiliki uang. Total yang harus dibayar mencapai Rp 10 juta.

Baca juga : Jerat Iklan Digital Antar Korban ke Puluhan Aplikasi Pinjaman ”Online”

Saat itu, saya tidak begitu mengikuti perdebatan mereka. Saya justru lebih sibuk memikirkan bagaimana bisa keluar dari kawasan ini nanti lantaran kendaraan kami masuk tanpa kartu izin masuk.

Ketika pulang, Flesh memilih keluar dengan cara yang sama, menerobos plang otomatis yang sedang terbuka. Sekilas, saya mendengar penjaga gerbang mengumpat saat sepeda motor kami melewati plang yang terbuka untuk memberi jalan sebuah kendaraan.

Hingga pukul 18.00, kerja menagih utang pun berjalan lancar tanpa persoalan berarti. Flesh kembali ke rumahnya untuk beristirahat dan memulihkan tenaga. Esok hari ia akan melanjutkan kerja-kerjanya yang menegangkan diselingi gaya naik sepeda motornya yang bak koboi jalanan. Sementara saya, malam itu dengan khusyuk memanjatkan syukur karena masih diberi selamat.

Editor:
Sri Rejeki
Bagikan