logo Kompas.id
InvestigasiSelembar Sarung dan Cerita...
Iklan

Selembar Sarung dan Cerita Bohong Sang Penipu

Penipu berkedok cinta Faris Ahmad Faza aktif di Tinder dan Line untuk menipu korban. Dia terdeteksi beraksi di Jawa Timur dan Jawa Tengah sepanjang 2021 hingga awal 2022. Sembilan perempuan perempuan menjadi korban dengan kerugian total sekitat Rp 350 jut

Oleh
IRENE SARWINDANINGRUM, INSAN ALFAJRI, DHANANG DAVID ARITONANG, ANDY RIZA HIDAYAT
· 5 menit baca
Faris Ahmad Faza (31) selalu menggunakan sarung ke mana-mana untuk mendukung kebohongannya sebagai anak kyai pemilik pondo pesantren. Foto diperoleh dari korban di Kediri dan Tulungagung saat ia beraksi di dua area di Jawa Timur tersebut.
IRENE SARWINDANINGRUM

Faris Ahmad Faza (31) selalu menggunakan sarung ke mana-mana untuk mendukung kebohongannya sebagai anak kyai pemilik pondo pesantren. Foto diperoleh dari korban di Kediri dan Tulungagung saat ia beraksi di dua area di Jawa Timur tersebut.

Sarung dan kebohongan merupakan dua hal yang membekas pada korban penipuan berkedok cinta oleh Faris Ahmad Faza (31). Faza kerap mengenakan sarung di tiap pertemuan.

Melalui aplikasi kencan, Faza menjaring korban. Ia pindah dari satu kota ke kota lain dan mengulang pola sama. Jejak Faza dari 2021 hingga awal 2022 terangkai dari kisah para korban.

Dalam 12 bulan, Faza meraup Rp 350 juta dari sembilan korban penipuan berkedok cinta di Jawa Timur (Jatim) dan Jawa Tengah (Jateng). Sasaran ya terutama perempuan pekerja usia 25-33 tahun. “Kalau bisa bantuin 2 juta yang. Aku ada 8 juta ini dari yescom bisa nutup temen,” kata Faza di sebuah percakapan pertengahan 2021 lalu pada IT (31), korban di Purwokerto, Jawa Tengah.

IT kehilangan Rp 78 juta selama lima bulan bersama Faza. Dalam rangkaian aksinya, pemuda kelahiran Kota Semarang, Jateng, itu tinggal di satu kota selama beberapa bulan . Di sana, ia mempermainkan beberapa perempuan sekaligus, menguras uang , menjerat mereka dalam pinjaman daring (pinjol) dan akhirnya menghilang.

Tiga korban penipu berkedok cinta melapor ke Polres Kediri Kota, Kediri, Jawa Timur, Minggu (17/3/2022). Mereka merasa tertipu oleh Faris Ahmad Faza yang mereka kenal lewat Tinder dan Line sehingga terjerumus dalam punjaman daring (pinjol) hingga puluhan juta rupiah.
IRENE SARWINDANINGRUM

Tiga korban penipu berkedok cinta melapor ke Polres Kediri Kota, Kediri, Jawa Timur, Minggu (17/3/2022). Mereka merasa tertipu oleh Faris Ahmad Faza yang mereka kenal lewat Tinder dan Line sehingga terjerumus dalam punjaman daring (pinjol) hingga puluhan juta rupiah.

Di tiap kota, ia menggunakan nama berbeda. Di awal 2021 di Kediri dan Nganjuk, Jatim , ia menggunakan nama asli. P ertengahan 2021 di Purwokerto, Jateng, ia beraksi dengan nama Areza. Awal 2022 di Kediri dan Tulungagung, Jatim , ia menggunakan nama Putra. Namun kisah bohongnya selalu sama. Faza selalu mengaku sebagai anak kiai pemilik pondok pesantren dan keponakan Mantan Gubernur Jateng.

Didukung sarungnya, korbannya percaya . “Ke mana-mana dia pakai sarung, bahkan di mall atau kafe,” kata IL (28) yang terjerat pinjol Rp 15 juta selama tiga bulan berhubungan dengan Faza di Tulungagung, Maret 2022.

Padahal, menurut penelusuran tim investigasi Kompas di kota kelahirannya Semarang, bapaknya disebut pensiunan Kantor Pos. Tetangga lamanya mengenalnya dengan nama Tegar, bukan Faza. Keluarga itu berpindah-pindah kontrakan dan terbelit hutang.

KOMPAS
Penipu berkedok cinta atau love scammer mengintai korban. Memanfaatkan aplikasi kencan atau media sosial untuk menjaring korban, para pelaku menawarkan hubungan cinta yang manis di awal kebersamaan saja.Selanjutnya, mereka mengeksploitasi korban terus-menerus. Investigasi Kompas mengungkap adanya eksploitasi finansial hingga eksploitasi seksual bertopeng cinta.

Ratusan juta

Di Kediri, awal Maret 2021, TR (31), ibu tunggal satu putra ini kepincut Faza karena citra alimnya. Terlebih lagi, pria yang ia kenal di Tinder itu kerap datang dan bertemu ibu dan putranya.

TR tak tahu, di waktu yang sama, di Nganjuk, ada ZL (28) yang juga rutin dia kunjungi. Faza biasanya mulai meminta uang setelah sebulan berhubungan . Beragam alasan ia pakai, pernah soal rekening diblokir karena diselidiki Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) , pernah juga butuh uang untuk isi gudang telepon seluler miliknya .

Iklan

"Aku udah kena audit dua kali. Ke pengadilan satu kali, jadi saksi pengadaan dana desa," kata Faza lagi membual pada korbannya di Purwokerto saat meyakinkan korban untuk memberi hutang.

Awalnya, hutang dia cicil. Namun lama-kelamaan, hutang terus menumpuk dan Faza tak berhenti meminta. Jika korbannya enggan, ia membombardir dengan cercaan hingga ancaman bunuh diri. Terselip juga ancaman terselubung menyebar foto dan video pribadi korban.

"Kalau aku jahat sudah aku sebar fotomu yang seksi itu Ndut," kata Faza pada IL yang sehari-hari berkerudung itu.

Profil Tinder Faris Ahmad Faza (31) saat aktif di Tinder di Purwokerto, Jawa Tengah, Mei-November 2021 lalu. Faza sudah dilaporkan ke empat kantor polisi di Purwokerto, Kediri dan Tulungagung.
IRENE SARWINDANINGRUM

Profil Tinder Faris Ahmad Faza (31) saat aktif di Tinder di Purwokerto, Jawa Tengah, Mei-November 2021 lalu. Faza sudah dilaporkan ke empat kantor polisi di Purwokerto, Kediri dan Tulungagung.

Beberapa korban Faza masih menyimpan fotonya dengan tangan diperban dan wajah babak belur. “Ternyata saya cek tidak ada bekas lukanya, hanya perban bersih ,” kata TR yang kehilangan Rp 40 juta pada Faza.

Saat korbannya kehabisan uang, Faza meminta mereka mengambil pinjaman daring di 5-8 aplikasi sekaligus. “Saya juga disuruh gadai sertifikat rumah dan tanah, ” kata ZL yang terjerat pinjol Rp 15 juta untuk Faza selama tiga bulan berhubungan.

Saling transfer

Akhir Mei 2021, di Purwokerto , Jateng, Faza menjerat lima perempuan sekaligus dengan nama Areza . Selama itu juga , ia masih terus mempermainkan TR dan ZL di Jatim.

Totalnya, pada periode Mei-November 2021 itu, tujuh perempuan yang dia permainkan secara bersamaan. Faza juga meminta korbannya saling transfer.

Beberapa korban di Purwokerto, misalnya, beberapa kali transfer ke rekening korban di Jatim . Tak satupun korban curiga karena Faza pintar berbohong . TR ia sebut sebagai pegawai kantornya. CB ia sebut rekan usaha. LT ia sebut dokter pribadi.

Pada semua korban, Faza juga minta dipanggil Gizzly dari nama beruang besar di Amerika, Grizzly. Semua korbannya ia panggil Ndut atau Ndutti dari kata gendut, meski beberapa korbannya langsing.

“Dengan panggilan sama dia tak mungkin salah panggil," kata CB (33) yang kehilangan Rp 60 juta selama lima bulan dekat Faza. Setelah meraup sekitar Rp 200 juta selama lima bulan di Purwokerto, Faza menghilang pada 27 Oktober 2021. Nomor teleponnya tak aktif. Kamar kos ia tinggalkan, menyisakan sarung dan kartu ATM korban.

Pada hari yang sama, ZL di Nganjuk juga tak bisa lagi menghubungi. November 2021, Faza tiba di Kediri. Dengan nomor telepon baru , ia menghubungi TR. TR mengurusnya , dari antar-jemput , menyediakan tempat tinggal, hingga mengantar makanan. Demi Faza, TR sempat menggelapkan uang kantor Rp 5 juta, menjual perhiasan dan mencairkan deposito Rp 10 juta yang sebenarnya cadangan sekolah anaknya yang duduk di bangku sekolah dasar.

Saat TR berkorban , Faza kembali beraksi dengan nama Putro. November 2021 itu, ia menjerat IL di Tulungagung dan LL di Kediri. Selama tiga bulan, November 2021-Februari 2022, Faza mempermainkan tiga perempuan sekaligus. Ia menghilang tanpa jejak pada 25 Februari 2022. Lagi-lagi, di kamar kosnya dia tinggalkan sarung.

Saat ini keberadaannya tak diketahui para korban, hanya sarung , hutang menumpuk dan luka hati mendalam dia tinggalkan.

Editor:
KHAERUDIN, ANDY RIZA HIDAYAT
Bagikan