Bantuan Pembaca untuk Jembatan Gantung demi Kemudahan Akses Warga Baduy
Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas menyalurkan dana pembaca untuk perbaikan jembatan gantung untuk warga Baduy.
Oleh
MARIA SUSY BERINDRA
·3 menit baca
KOMPAS/SUSY BERINDRA
Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas dan Relawan Kampung menandatangani perjanjian kerja sama untuk perbaikan jembatan gantung di Kampung Grendeng, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, Banten. Acara itu dilakukan di Babakan Jaro, Ciboleger, Lebak, pada Selasa (1/10/2024).
LEBAK, KOMPAS — Keberadaan jembatan gantung sangat penting untuk mobilitas warga Baduy, Lebak, Banten. Sayangnya, beberapa jembatan gantung rusak sehingga warga harus menyeberangi sungai atau memutar jalan yang lebih jauh. Salah satunya, jembatan gantung Kampung Grendeng, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, yang terbentang di atas Sungai Cisimeu, kini tinggal bentuk kerangka baja saja.
Saat Kompas berkunjung ke jembatan gantung Grendeng, April 2024, kondisi jembatan berupa kerangka baja masih berdiri kokoh meski tidak ada plat bodres (lantai jembatan). Tidak banyak warga yang berani meniti jembatan di atas kerangka baja tersebut. Sebagian perempuan yang pulang dari pasar memilih menyeberangi sungai di bawah jembatan.
Saat musim hujan, air sungai yang tinggi membuat warga tidak bisa menyeberang. Mereka harus berjalan memutar sejauh 5 kilometer. Jembatan digunakan 420 warga dari Kampung Grendeng serta ratusan warga Baduy dari kampung lain. Mereka mengandalkan jembatan untuk mobilitas antarkampung sekaligus sarana transportasi untuk pengangkutan hasil pertanian, kesehatan, pariwisata, serta penelitian lembaga pendidikan.
Untuk itulah, Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas (YDKK) bekerja sama dengan Relawan Kampung merenovasi jembatan gantung Kampung Grendeng. Penandatanganan kerja sama kedua pihak dilakukan Ketua YDKK Gesit Ariyanto dan Ketua Yayasan Relawan Kampung Indonesia Muhammad Arif Kirdiat di Kampung Babakan Jaro, Ciboleger, Lebak, Selasa (1/10/2024). Acara itu juga disaksikan Jaro Oom sebagai pewakilan warga Baduy.
Kondisi jembatan gantung Kampung Grendeng, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, Banten, yang melintas di atas Sungai Cisimeu, sangat memprihatinkan, April 2024. Warga harus meniti kerangka baja tanpa lantai jembatan. Untuk kemudahan akses warga Baduy, Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas dan Relawan Kampung bekerja sama memperbaiki jembatan.
Perbaikan jembatan gantung Grendeng dibangun menggunakan dana dari donasi pembaca harian Kompas/Kompas.id yang disalurkan melalui YDKK. Untuk proyek ini, dana yang akan dipakai sebesar Rp 305,13 juta. Pengerjaan jembatan akan dimulai pada awal Oktober 2024 dan diharapkan selesai pada akhir November 2024.
”Sudah lama sekali jembatan itu rusak sehingga warga harus berjalan memutar jika mau ke Kampung Grendeng. Begitu pula warga Cisaban yang akan belanja ke Ciboleger harus jauh memutar. Kami bersyukur sekali mendapat bantuan perbaikan jembatan ini,” ujar Jaro Oom.
Menurut Jaro Oom, warga Baduy siap membantu perbaikan jembatan, apalagi proyek ini untuk memudahkan masyarakat dalam akses transportasi antarkampung. Perbaikan jembatan gantung akan melibatkan warga Baduy. ”Pengerjaan proyek ini akan dibantu warga dari lima kampung, jadi nanti kami gotong royong karena semua warga juga akan pakai jembatan itu,” ujar Jaro Oom.
Sudah lama sekali jembatan itu rusak sehingga warga harus jalan memutar jika mau ke Kampung Grendeng. Begitu pula warga Cisaban yang akan belanja ke Ciboleger harus jauh memutar.
KOMPAS/SUSY BERINDRA
Kondisi jembatan gantung Kampung Grendeng, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, Banten, yang melintas di atas Sungai Cisimeu sangat memprihatinkan, April 2024. Warga harus meniti kerangka baja tanpa lantai jembatan. Untuk kemudahan akses warga Baduy, Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas dan Relawan Kampung bekerja sama memperbaiki jembatan.
Bantuan untuk warga
Arif Kirdiat mengungkapkan, warga Baduy dan Relawan Kampung sudah lama mencari dana untuk perbaikan jembatan gantung. Beberapa pihak pernah melakukan survei, tetapi belum dapat memberi bantuan karena akses yang sulit. Hingga kemudian, Relawan Kampung mendapat bantuan dari YDKK.
”Beberapa kali warga menyiasati dengan memperbaiki jembatan menggunakan bambu-bambu, tetapi tidak tahan lama. Kalau nanti sudah diperbaiki, semoga jembatan bisa bertahan lama, bisa puluhan tahun, dan dirawat dengan baik,” kata Arif.
Sebelumnya, tahun 2017, YDKK dan Relawan Kampung membangun jembatan di Sangkanmanik dengan biaya Rp 473 juta dan jembatan di Sangiangtanjung Rp 479 juta. Panjang jembatan di Sangkanmanik 69 meter dan di Sangiangtanjung 73 meter. Sementara lebar kedua jembatan sama, yaitu 1,2 meter. Kedua jembatan berlokasi di wilayah Kecamatan Cimarga, Lebak, Banten. Hingga kini, jembatan itu masih digunakan untuk mobilitas warga.
Gesit Ariyanto mengatakan, perbaikan jembatan gantung merupakan salah satu bentuk perhatian pembaca Kompas untuk warga Baduy. Setelah tim asesmen melihat langsung kondisi jembatan, menurut Gesit, YDKK berkomitmen untuk membantu warga Baduy.
”April lalu kami ke lokasi jembatan dan melihat langsung bagaimana warga kesulitan melewati jembatan atau menyeberangi sungai. Kami ingin membantu warga supaya lebih mudah mengakses sarana transportasi warga antarkampung,” katanya.
KOMPAS/SUSY BERINDRA
Warga Baduy menenun kain di Kampung Babakan Jaro, Desa Kanekes, Lebak, Banten, Selasa (1/10/2024).
Kontribusi pembaca bisa disalurkan melalui rekening BCA 0123021433 atas nama Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas.