Makanan Bergizi Saja Tak Cukup, Pencegahan ”Stunting” Perlu Pendampingan Intensif
Program pencegahan anak ”stunting” atau tengkes perlu kesabaran dan pendampingan intensif.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F10%2F25%2Ffecaaa14-83d4-4870-94dc-c25020f81339_jpg.jpg)
Seorang anak mendapatkan pemberian makanan tambahan Program Ceting Emas yang digelar Tim Penggerak PKK Kota Magelang bersama Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas di Puskesmas Pembantu Kyai Langgeng, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Jawa Tengah, Rabu (25/10/2023).
MAGELANG, KOMPAS — Penanganan stunting atau tengkes pada anak bawah lima tahun butuh perhatian dan pendampingan intensif yang kontinu. Pemberian makanan tambahan atau PMT yang bergizi saja tidak cukup untuk mengurangi angka tengkes.
Hal ini menjadi salah satu evaluasi penting dari program Cegah Stunting Emak-emak Magelang Sehat (Ceting Emas) yang dilakukan Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Magelang didukung Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas (YDKK).
Pada Senin (10/6/2024), Ketua Umum TP PKK Kota Magelang Niken Ichtiaty Nur Aziz memaparkan hasil Program Ceting Emas tahap II. Pelaksanaan pemberian makanan tambahan untuk 180 anak balita kurang gizi dan 20 ibu hamil kekurangan energi kronik (KEK) dilakukan pada 23 Januari 2024 sampai 1 Mei 2024.
Pemberian makanan tambahan yang diberikan kepada anak balita berupa nasi, sayur, dua macam lauk, dan makanan selingan. Makanan yang dipesankan melalui katering itu dibagikan setiap hari satu kali pada siang hari.
Hasilnya, ada perubahan status gizi anak balita dari yang sebelumnya masuk pada kategori gizi buruk berkurang dari 2,8 persen menjadi 1,1 persen. Adapun anak balita yang masuk dalam kategori gizi baik naik dari 72,2 persen meningkat menjadi 76,7 persen. Analisis ini dilihat dari peningkatan tinggi badan dan berat badan anak balita.
Untuk 20 ibu hamil KEK, terdapat enam ibu hamil yang memiliki lingkar lengan atas di bawah 23,5 sentimeter. Mereka diberi makanan tambahan supaya mendapat berat badan ideal sehingga mengurangi potensi melahirkan anak tengkes.
”Kami sudah memberikan contoh bagaimana menu makanan yang bergizi. Semoga ini biss diteruskan lagi oleh ibu-ibu,” kata Niken dalam acara Diseminasi Program Ceting Emas Tahap II di Magelang, Senin pagi. Para orangtua penerima program hadir dalam acara tersebut.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F06%2F10%2F1a89b455-a02c-4655-9f3d-86bb1628dd0b_jpeg.jpg)
Wakil Wali Kota Magelang KH Mansyur menyerahkan bantuan pangan segar untuk keluarga rentan stunting di Magelang, Senin (10/6/2024). Bantuan itu diberikan di sela-sela acara Diseminasi Program Ceting Emas Tahap II yang bekerja sama dengan Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas.
Pengalaman dari para penggerak Ceting Emas, memberikan makanan tambahan kepada anak-anak tengkes bukan hal yang mudah. Setiap hari, mereka harus memantau apakah makanan yang diberikan benar-benar dikonsumsi oleh sang anak.
Niken mengungkapkan beberapa kendala dalam Ceting Emas, salah satunya orangtua anak balita malu bila anaknya masuk dalam kategori tengkes. ”Nah, kami memberikan edukasi dan pemahaman yang benar mengenai stunting. Ini bukan aib dan bisa terjadi pada siapa saja. Untuk itulah, kader kami benar-benar luar biasa, mau turun ke lapangan, mendampingi anak-anak tengkes,” kata Niken.
Di sisi lain, pemberian makanan saja tidak cukup karena kondisi anak balita yang berbeda-beda. ”Ada beberapa anak yang memiliki masalah kesehatan, seperti TBC, kelainan jantung, atau penyakit infeksi. Mereka akan dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit sesuai dengan petunjuk dokter,” kata Niken.
Jadi, penanganan stunting tidak cukup sekadar dengan membagikan telur atau makanan semata.
Program intervensi gizi dalam bentuk PMT di Kota Magelang dilaksanakan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, Yayasan DKK menyalurkan dana untuk program PMT bagi 28 bayi di bawah dua tahun (baduta) berisiko tengkes di Kecamatan Magelang Tengah dari 15 September 2023 hingga 15 Desember 2023. Evaluasi untuk memantau keberhasilan program digelar setiap bulan.
Pada tahap kedua, Yayasan DKK kembali menyalurkan dana program PMT untuk 180 anak balita gizi buruk dan gizi kurang serta 20 ibu hamil kurang energi kronis (KEK) di seluruh kelurahan di Kota Magelang mulai 15 Desember 2023-15 Maret 2024.
Manajer Eksekutif YDKK Anung Wendyartaka mengungkapkan, penanganan tengkes membutuhkan keseriusan dan kesabaran yang luar biasa. ”Dari program Ceting Emas kita bisa tahu bagaimana ibu-ibu kader PKK mengawal pemberian makanan tambahan mulai dari merancang menu yang variatif dan bergizi bersama pihak katering hingga mendistribusikan dan memastikan makanan itu benar-benar dikonsumsi anak-anak. Mereka juga selalu melakukan pemeriksaan kesehatan rutin untuk mengecek kondisi anak-anak dan ibu hamil. Jadi, penanganan stunting tidak sekadar cukup dengan membagikan telur atau makanan semata,” ujarnya.
Baca juga: Kolaborasi Atasi Tengkes dengan Dua Strategi
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F08%2F31%2F21ee356e-021e-4df2-a301-97ca39680804_jpg.jpg)
Ketua Yayasan DKK Gesit Ariyanto dengan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Magelang Niken Ichtiaty Nur Aziz menandatangani MoU program jangka pendek intervensi gizi pencegahan tengkes, Kamis (31/8/2023), di Taman Kanak-kanak Harapan, Kelurahan Rejowinangun Utara, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Jawa Tengah.
Faktor ekonomi
Weni (29), warga dari Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, mengatakan, putranya, Mohammad Aufa (3), sebenarnya adalah anak sehat, berkecukupan gizi, dan cenderung mudah makan apa saja. Ketika kemudian dimasukkan dalam kategori anak dengan masalah tengkes, dia menyebut hal itu sebatas ”apes”.
”Dalam dua bulan dia pernah tidak mengalami kenaikan berat badan karena sedang sakit. Bulan ini pun berat badannya kembali tidak naik, lagi-lagi karena sakit flu,” ujarnya. Sebulan terakhir, berat badan Aufa terus stabil pada angka 12 kilogram. Tahun ini, Aufa kemudian dimasukkan dalam program Ceting Emas.
Meski merasa anaknya tidak memiliki masalah kesehatan, Weni tetap patuh dan mengikuti saran dan rekomendasi dari puskesmas yang diberikan untuknya. Selain memberikan asupan PMT yang diberikan dari program Ceting Emas, dia juga berupaya memberikan asupan makanan untuk makan pagi dan makan malam sesuai dengan arahan dari puskesmas.
Sementara itu, Solichah (39), mengatakan, kondisi berbeda terjadi pada anaknya, Alfarizqi (2). Putra keempatnya ini memang sulit mengalami kenaikan berat badan karena susah makan.
”Sejak bayi badannya pun kecil karena terlahir hanya dengan berat 2,5 kg. Setelah agak besar hingga sekarang, berat badan dan tinggi tubuhnya juga sulit bertambah karena dia sendiri susah makan,” ujarnya.
Solichah sehari-hari adalah ibu rumah tangga dan suaminya bekerja sebagai penjaja makanan ringan di depan salah satu kompleks kolam renang di Kabupaten Magelang. Dia tidak merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi putranya. Satu-satunya kendala yang dihadapi adalah Alfarizqi belum tentu mau mengonsumsi makanan yang dihidangkan untuknya.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F06%2F10%2F72ad496a-f940-4226-aba1-798e8947f8ee_jpeg.jpg)
Sebanyak 180 anak kurang gizi mendapat pemberian makanan tambahan dalam program Ceting Emas bekerja sama dengan Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas. Pada Senin (10/6/2024), hasil program tersebut disampaikan dalam acara Diseminasi Program Ceting Emas Tahap II. Hasilnya, ada perubahan status gizi anak balita dari yang sebelumnya masuk pada kategori gizi buruk berkurang dari 2,8 persen menjadi 1,1 persen. Adapun anak balita yang masuk dalam kategori gizi baik naik dari 72,2 persen meningkat menjadi 76,7 persen. Analisis ini dilihat dari peningkatan tinggi badan dan berat badan anak balita.
Savitri, seorang kader TP PKK di Kelurahan Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara, mengatakan, terdapat satu ibu hamil KEK dan tiga anak berusia di bawah dua tahun di Kelurahan Kramat Utara yang ikut dalam program Ceting Emas tahun ini.
Faktor ekonomi, menurut dia, masih menjadi salah satu faktor pemicu untuk sebagian kasus tengkes di Kelurahan Kramat Utara. Di satu keluarga, faktor ekonomi itulah yang kemudian membuat tengkes seolah terus berlanjut setelah sebelumnya dialami kakaknya, kemudian juga dialami oleh adiknya.
”Kakaknya baru saja lulus, tidak lagi mengalami tengkes setelah mengikuti Ceting Emas tahun lalu. Namun, kemudian adiknya mengalami kondisi yang sama dan terpaksa diikutkan dalam program Ceting Emas tahun ini,” ujarnya.
Kakak dan adik tersebut berasal dari empat bersaudara, yang terlahir dari keluarga berpenghasilan rendah, di mana ayahnya sehari-hari berjualan bakso keliling.
Di luar itu, faktor pemicu lainnya adalah kesalahan pola pengasuhan. Anak-anak baduta atau balita sering kali bertingkah susah makan, pilih-pilih makanan, dan ibunya yang kurang sabar, kemudian menyikapinya dengan memberikan makanan yang kurang bergizi, seperti memberikan biskuit atau jajanan semata.
Baca juga: Pola Asuh Picu Kasus Tengkes di Kota Magelang
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F06%2F10%2F146a9901-0a12-43c7-8d92-b74cd52701ce_jpeg.jpg)
Manajer Eksekutif Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas Anung Wendyartaka menerima hasil laporan Program Ceting Emas Tahap II dari perwakilan Kader TP PKK Kota Magelang, Hastuti Harso, di Magelang, Senin (10/6/2024). Sebanyak 180 anak kurang gizi mendapat pemberian makanan tambahan dalam program Ceting Emas bekerja sama dengan Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas.
”Para ibu yang kurang sabar ini sering kali beranggapan bahwa yang terpenting adalah anaknya mendapatkan asupan makanan,” ujarnya.
Mariani, kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Kelurahan Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah, mengatakan, jika tahun lalu ada delapan baduta ikut program Ceting Emas, di tahun ini hanya ada lima baduta yang mengikuti program tersebut.
Ada satu anak yang tidak lulus dalam Ceting Emas tahun lalu terpaksa mengikuti program lanjutan di tahun 2024. Hal itu terjadi karena yang bersangkutan memiliki sakit, gangguan kesehatan yang cukup serius sehingga harus rutin kontrol ke rumah sakit.
Di luar masalah sakit bawaan tersebut, tengkes di Kelurahan Kemirirejo biasanya terjadi karena pola pengasuhan, di mana anak dititipkan pada nenek atau pengasuh yang kemudian memberi makan sesukanya, tanpa memperhatikan kebutuhan nutrisi anak.
”Di kelurahan kami, kondisi tersebut sering kali terjadi karena banyak anak ditinggalkan ayah dan ibunya bekerja,” ujarnya.
Yayasan DKK aktif menyalurkan dana bantuan pembaca harian Kompas/Kompas.id untuk menanggulangi bencana alam, kemiskinan, kesehatan, dan, pendidikan. Dana bantuan pembaca dihimpun melalui nomor rekening BCA 0123021433 atas nama Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas.