Menyelami Pola Pikir Gen Z dalam Memilih
Generasi Z dinilai jadi penentu kemenangan Prabowo-Gibran. Mereka dituding lebih suka gimik dan kurang paham sejarah.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F02%2F10%2F5fdb0dd3-6630-4267-84d8-1eecdef4f3c1_jpg.jpg)
Pendukung calon presiden-calon wakil presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, memeriahkan kampanye rapat terbuka Pesta Rakyat untuk Indonesia Maju di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (10/2/2024).
Generasi Z dinilai menjadi penentu kemenangan pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka versi hitung cepat sejumlah lembaga survei. Pilihan ini dianggap sebagian kalangan karena generasi Z menyukai gimik dan tak memahami sejarah terkait rekam jejak calon.
Pilihan capres-cawapres sebagian besar Gen Z itu sudah diprediksi sejumlah kalangan sejak masa kampanye dimulai. Namun, banyak pihak tidak menyangka dukungan mereka terhadap capres-cawapres nomor urut dua itu akan sebesar hasil hitung cepat.

Baca Berita Seputar Pilkada 2024
Survei pascapencoblosan yang dilakukan Litbang Kompas pada 14 Februari 2024 menunjukkan dua dari tiga orang Gen Z yang berumur kurang dari 26 tahun memilih pasangan Prabowo-Gibran.
Alasan Gen Z dalam memilih capres-cawapres adalah sikap berani atau tegas sebanyak 22,5 persen, merakyat (17,2 persen), dan programnya masuk akal (12,9 persen).
Baca juga: Pemilih Pemula Gen Z, Antusias tapi Bingung
Adapun alasan Gen Z memilih capres-cawapres karena sekadar suka hanya 2,9 persen, paling rendah dibandingkan persentase generasi lain yang memilih capres-cawapres karena suka semata.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F02%2F10%2F6d3fa981-697b-4378-b01f-93827df7d2c7_jpg.jpg)
Pendukung capres-cawapres nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, memeriahkan kampanye rapat terbuka Pesta Rakyat Untuk Indonesia Maju di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (10/2/2024).
Penulis buku Generasi Kembali ke Akar (2020) yang juga pendiri Youth Laboratory Indonesia, Muhammad Faisal, di Jakarta, Minggu (18/2/2024), mengutarakan, besarnya dukungan Gen Z tidak lepas dari besarnya komunikasi politik yang dilakukan tim kampanye Prabowo-Gibran kepada Gen Z baik secara daring maupun luring.
”Kampanye mereka di media digital dan konvensional terlihat lebih mengutamakan narasi dan semiotika yang ditujukan untuk Gen Z,” ujarnya. Mulai dari pilihan model dan warna baju, pilihan lagu kampanye, hingga jogetnya pun lekat dengan kehidupan Gen Z.
Cara memilih Gen Z pun beda dengan generasi berikutnya. Menurut Faisal, jika generasi sebelumnya mengunci pilihannya jauh-jauh hari sebelum pemungutan suara, Gen Z umumnya baru menentukan pilihan menjelang hari coblosan. Bahkan, sebagian Gen Z baru menetapkan pilihan tepat saat pemungutan suara.
Kondisi itu sesuai survei pascapencoblosan Litbang Kompas. Seperti yang ditulis Kompas, 19 Februari 2024, sebanyak 12,3 persen Gen Z memantapkan pilihan secara spontan pada hari pencoblosan. Ini merupakan persentase penentuan pilihan pada hari pemungutan suara terbesar dibandingkan generasi lebih tua.
Baca juga: Pemilih Muda Menanti Solusi Masalah Ketenagakerjaan dari Capres
”Pilihan Gen Z ditentukan berdasarkan priming, apa yang paling mengemuka atau mencolok dalam pikiran mereka saat melihat salah satu kandidat,” tambahnya.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F02%2F15%2F1fe99db1-3bd8-4789-b463-45db7208be32_jpg.jpg)
Warga menerima bunga yang dibagikan oleh Tim Kampanye Nasional Pemilih Muda Prabowo-Gibran di perempatan Sarinah, Jakarta, Kamis (15/2/2024). Aksi ini digelar sebagai bentuk terima kasih atas kemenangan pasangan capres-cawapres nomor urut 2 di Pilpres 2024 versi hitung cepat.
Priming ini sangat ditentukan pendapat teman sebaya, yang sayangnya belum tentu terkait dengan sejarah. Karena itu, wajar jika gimik gemoy lebih tertanam di pikiran Gen Z.
Pengaruh pilihan
Meski demikian, tidak tertanamnya isu pelanggaran hak asasi manusia ataupun etika politik yang sering dilekatkan pada capres nomor dua sejatinya juga bukan salah Gen Z sepenuhnya.
Semua tim kampanye capres-cawapres, lanjut Faisal, sebenarnya juga memakai gimik untuk mendekatkan diri kepada Gen Z. Namun, gimik yang mereka lakukan sama-sama tidak memberi bobot besar pada masalah substansial, baik tentang ideologi, kebijakan, maupun penerjemahan visi dan misi calon.
Pilihan Gen Z ditentukan berdasarkan ’priming’, apa yang paling mengemuka atau mencolok dalam pikiran mereka saat melihat salah satu kandidat.
Hal ini mengakibatkan cara-cara kampanye yang mereka lakukan kurang memantik rasionalitas pemilih alias kurang membuat pemilih berpikir kritis.
Selain itu, sebagian besar generasi Z yang memiliki hak pilih termasuk dalam tahap perkembangan remaja akhir (umur 17-18 tahun) dan beranjak dewasa atau emerging adult (umur 19-25 tahun).
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F07%2F15%2Fb309b0a8-02b6-4a0f-9e66-fefc6ecbc8ef_jpg.jpg)
Para hadirin berebut berfoto dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo seusai menjadi pembicara dalam acara Youth on Top National Conference (YOTNC) 2023 di pusat perbelanjaan Kota Kasablanka, Jakarta, Sabtu (15/7/2023).
Pada tahap ini, semua anak muda, apa pun generasinya, sedang dalam fase pencarian jati diri. Mereka gemar mencoba segala hal untuk menemukan identitasnya.
Hal yang membedakan anak muda Gen Z dengan generasi sebelumnya adalah Gen Z hidup dalam paparan internet tinggi. Hidup mereka lebih banyak dihabiskan secara daring daripada luring.
Di dunia maya itu mereka bisa menemukan apa pun, mulai dari pendidikan, hiburan, pertemanan, kelompok seminat, hingga hal-hal negatif, seperti hoaks atau kabar bohong, perundungan, judi, dan pornografi.
Peneliti adjunct Lembaga Demografi (LD) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia yang juga dosen Fakultas Psikologi UI, Alfindra Primaldhi, dalam diskusi bulanan LDUI, 16 Januari 2024, mengatakan, proses pencarian jati diri anak muda membentuk nilai, identitas, sikap, dan kepribadian mereka.
Hal ini pada akhirnya akan memengaruhi perilaku politik mereka, termasuk dalam memilih capres-cawapres.
Karena itu, perilaku memilih Gen Z tidak bisa dilepaskan dari perilaku kolektif masyarakat. Identitas mereka akan terbangun dari kedekatan dan interaksinya dengan kelompok masyarakat di sekelilingnya.
Interaksi itu membuat Gen Z tidak buta politik meski mereka baru memilih dalam Pemilu 2024. Mereka telah memiliki pengalaman politik, termasuk pengetahuan dan sikap politik terhadap seseorang, partai, kebijakan pemerintah, penyelenggaraan pemilu, hingga proses demokrasi.

Selain itu, fase remaja dan beranjak dewasa adalah periode seseorang sangat mudah dipengaruhi, termasuk dalam masalah politik.
Studi kecil yang dilakukan Alfindra pada September 2023 menunjukkan pilihan capres-cawapres Gen Z sebanyak 27 persen dipengaruhi pilihan ayahnya, 20 persen pilihan ibu, hingga pilihan sahabat sebesar 13 persen dan pilihan teman sehobi sebanyak 6 persen.
Banyaknya Gen Z hidup di dunia maya itu betul-betul dimanfaatkan pasangan Prabowo-Gibran. Pasangan ini juga memakai paling banyak pemengaruh atau influencer media sosial dibandingkan calon lain. Pemengaruh yang digunakan tersebar dari yang pengikutnya puluhan ribu hingga puluhan juta orang.
Konsekuensinya, informasi yang ditangkap Gen Z pun lebih banyak datang dari pemengaruh, bukan dari kalangan politisi ataupun fungsionaris partai.
Baca juga: Memperebutkan Gen Z dan Milenial
Situasi ini mengakibatkan informasi yang mereka terima cenderung bukan hal-hal substantif alias permukaan. Diskursus mengenai upaya mengkritisi program capres-cawapres atau mengulas rekam jejak capres-cawapres yang dilakukan banyak pihak tidak banyak tertanam dalam pikiran sebagian besar Gen Z.
”Ini menjadi masukan bagi KPU (Komisi Pemilihan Umum) tentang bagaimana seharusnya haluan kampanye untuk kontestan diatur sehingga kampanye tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerdaskan,” ujarnya.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F11%2F08%2Fab2bd042-469f-47ec-8f30-6449f7c3a57c_jpg.jpg)
Tim Media Sosial Harian Kompas meluncurkan program #MudaMemilih sebagai upaya edukasi politik kepada generasi muda di Jakarta, Rabu (8/11/2023). Jumlah pemilih generasi Y (milenial) dan generasi Z yang mencapai 115,6 juta orang atau 56,45 persen dari total pemilih membuat suara mereka diperebutkan para kontestan Pemilu 2024.
Haluan kampanye ini penting karena setiap generasi memiliki cara berpikir sendiri yang membedakan dengan generasi lainnya. ”Gen Z itu berpikirnya saat ini dan masa depan saja, mereka tidak peduli dengan masa lalu,” tambah Faisal.
Tak hanya itu, kampenya yang dilakukan seharusnya juga berdampak kepada pemilih. Kampanye seharusnya lebih banyak dilakukan oleh fungsionaris partai, bukan pemengaruh. Partai seharusnya memiliki basis massa yang sejalan dengan ideologi partai.
Sayangnya, dengan banyaknya pemilih dari Gen Z dan Gen Y (milenial) yang mencapai 55 persen dari total pemilih, partai justru sangat jarang membicarakan soal ideologi.
”Partai politik menjadi FOMO (fear of missing out). Mereka merasa ideologi dan prinsip partai kurang mempunyai daya jual bagi orang muda sehingga masing-masing capres-cawapres banyak melibatkan influencer sebagai juru kampanye secara masif, dari influencer papan atas hingga papan bawah,” tambah Faisal.
Relevansi sejarah
Situasi perpolitikan di Indonesia yang dipengaruhi perilaku memilih anak muda tak hanya dihadapi Indonesia. Perkembangan teknologi membuat anak muda di seluruh dunia memiliki pola pikir dan pandangan serupa. Gen Z memandang sejarah kurang relevan untuk menjamin eksistensi mereka di masa depan.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F01%2F29%2Fe10af307-4310-49f8-93f7-fc8371df1eb3_jpg.jpg)
Arya (26), pemilih muda di Kota Tangerang, menunjukkan cara mempelajari profil caleg DPR yang berlaga di dapilnya, Minggu (21/1/2024). Spanduk, iklan di media sosial, dan caleg yang kerap dibicarakan orang-orang di sekitarnya menjadi pemantik Arya untuk mengetahui lebih dalam profil caleg tersebut.
Bagi Gen Z, masa lalu kurang memiliki nilai. Narasi global yang digunakan anak muda saat ini di dunia kerja, politik, atau karier amat berorientasi pada masa kini dan masa depan. Karena itu, lanjut Faisal, kontestasi politik dalam lima tahun ke depan akan sangat dipengaruhi cara pikir Gen Z yang berorientasi masa depan.
”Rekam jejak (calon) bisa dikompromikan selama calon tersebut memiliki tawaran masa depan yang menarik,” katanya.
Situasi ini jadi kekhawatiran di sejumlah negara yang tahun 2024 menggelar pemilu, seperti Amerika Serikat. Situasi politik AS dan global membuat Gen Z di negara itu memandang mantan Presiden AS Donald Trump menawarkan masa depan menarik hingga lupa kebijakan Trump sebelumnya bermasalah.
Namun, lanjut Faisal, kondisi itu sebenarnya bisa dibalik jika ada gerakan pemimpin bangsa di eksekutif dan legislatif serta para cendekiawan untuk menggaungkan kembali narasi sejarah bangsa. Metode ini juga digunakan negara lain untuk mengingatkan anak mudanya tentang sejarah bangsa mereka.
China sejak tahun 2014 membangun ratusan museum untuk mengingatkan anak mudanya bahwa bangsa mereka pernah terpuruk secara ekonomi.
Museum-museum ini juga dibangun untuk mencegah anak muda China menjadi jelly generation yang lemah karena ketidakpahaman mereka bahwa kenyamanan yang mereka nikmati sekarang merupakan hasil perjuangan generasi sebelumnya, bukan datang dengan tiba-tiba.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F02%2F07%2F5445e391-29d9-4c0d-8941-369ba4a627e7_jpg.jpg)
Peserta membawa poster kritik dalam Karnaval Pilih Pulih di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (7/2/2024). Aksi ini diinisiasi puluhan lembaga masyarakat sipil, komunitas muda, pelajar, dan mahasiswa. Mereka mengajak para pemilih dalam Pemilu 2024 untuk mencermati visi-misi, ide dan gagasan, serta rekam jejak pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, partai politik, hingga calon anggota legislatif.
Upaya memperkuat sejarah masa lalu bangsa itu juga dilakukan Iran, Rusia, Jepang, dan India sehingga anak mudanya tidak melupakan akar sejarah mereka. Namun, persoalan ini tidak muncul dalam debat capres-cawapres lalu.
Saat itu, semua capres-cawapres lebih banyak membicarakan soal digitalisasi, transisi energi, hilirisasi, hingga keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan di masa depan. Semua yang berkaitan dengan kemudahan dan kenyamanan. Masalah ideologi, prinsip, atau nilai kebangsaan justru luput dari wacana.
”Jika kita terus mengalahkan isu-isu sejarah, maka bangsa ini akan terus-menerus menjadi bangsa FOMO,” katanya. Kebijakan digitalisasi yang digagas setiap capres lebih banyak menunjukkan kekhawatiran kita akan tertinggal dari bangsa-bangsa lain dan lupa efek buruk dari digitalisasi yang bisa menciptakan ketidaksetaraan warga negara.
Ketidakpahaman anak muda akan sejarah dan nilai bangsa membuat proses digitalisasi yang dilakukan hanya memaparkan bangsa Indonesia dalam ketimpangan ekonomi, kecemasan, kecemburuan sosial, pornografi, hingga aktivitas kurang bermakna lainnya.
Pemimpin saat ini seharusnya bisa mencontoh ide salah satu proklamator Indonesia, Mohammad Hatta, bahwa sistem ekonomi yang dikembangkan bukanlah sistem ekonomi liberal, tetapi ekonomi yang berbasis koperasi. ”Kita harus banyak berbicara prinsip dan nilai, tak sekadar alatnya,” tambah Faisal.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F02%2F18%2Fbc404ddf-d26a-4b13-b12c-65c68d481bd2_jpg.jpg)
Seorang pekerja muda membuka laptop di dalam bus Transjakarta sekitar pukul 12.00, Senin (8/1/2024), untuk mengurus pekerjaannya. Pekerjaan menjadi salah satu isu bagi pekerja yang tergolong pemilih muda (usia 17-40 tahun) kelas menengah.
Karena itu, partai politik dituntut untuk berperan lebih besar dalam pendidikan politik. Visi dan misi Indonesia ke depan seharusnya berakar pada nilai-nilai yang dibangun para pendiri bangsa, tak sekadar pamer fungsionarisnya yang muda atau mencari apa yang disukai anak muda.
”Jika Gen Z diberi pendidikan politik yang edukatif atau mendiskusikan hal-hal yang substantif, mereka pasti mau terlibat karena mereka tetap bisa diajak berpikir kritis dan rasa ingin tahunya tinggi,” pungkasnya.