logo Kompas.id
HiburanBerziarah Hati di Hebden...
Iklan

Berziarah Hati di Hebden Bridge

Mengunjungi kota Hebden Bridge selayaknya membaca karya Sylvia Plath yang bernuansa suram dan penuh keterasingan. Tetapi sekaligus menyimpan keindahan kata-kata yang sulit dibantah.

Oleh
DENTY PIAWAI NASTITIE
· 1 menit baca
Suasana perdesaan di Hebden Bridge, West Yorkshire, Inggris, November 2021. Kota yang dikelilingi perbukitan ini telah melahirkan banyak penyair, sastrawan, seniman, dan musisi.
DENTY PIAWAI NASTITIE

Suasana perdesaan di Hebden Bridge, West Yorkshire, Inggris, November 2021. Kota yang dikelilingi perbukitan ini telah melahirkan banyak penyair, sastrawan, seniman, dan musisi.

I felt my lungs inflate with the onrush of scenery—air, mountains, trees, people. I thought, This is what it is to be happy.” (Saya merasakan paru-paru saya mengembang dengan derasnya pemandangan—udara, gunung, pepohonan, orang-orang. Saya pikir, ”Inilah artinya menjadi bahagia.”) – Sylvia Plath, The Bell Jar.

Kisah hidup Sylvia Plath berakhir tragis. Setelah mengalami masa kecil traumatis, penyair ternama asal Amerika Serikat itu berjuang mengatasi depresi. Pada 11 Februari 1963, Plath mengakhiri hidupnya sendiri. Jasadnya kemudian disemayamkan di Hebden Bridge, West Yorkshire, Inggris. Mengunjungi kota itu selayaknya membaca karya Plath dengan nuansa suram dan keterasingan, sekaligus menyimpan keindahan kata-kata yang sulit dibantah.

Editor:
BUDI SUWARNA
Bagikan