Kopi, Nongkrong, dan Gairah Industri Gen Z dan Milenial
Populasi Indonesia yang mayoritas Muslim membuat kedai kopi jadi tempat nongkrong bagi anak muda, bukan bar. Kaum milenial pun jadi penggerak gelombang ke-4 industri kopi yang mampu bersaing dengan gerai internasional.
–
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F10%2F18%2Fbb9434fd-1868-4041-bd7b-5994764cb1c1_jpeg.jpg)
Stan pameran kopi dipadati pengunjung dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2023 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten, Rabu (18/10/2023).
Kopi bukan lagi komoditas semata, melainkan bak roh bagi banyak orang, utamanya anak muda. Tanpa kopi, hidup terasa hampa. Apresiasi pada kopi mendorong anak muda itu menciptakan beragam gebrakan baru yang menggairahkan industri kopi dalam negeri.
Dengan populasi Indonesia yang mayoritas Muslim, kedai-kedai kopi jadi tempat nongkrong, bahkan ruang publik bagi mereka. Hal ini berbeda dengan negara-negara non-Muslim yang memanfaatkan bar.
Dalam laman Statista, kenaikan konsumsi kopi dalam negeri berkontribusi pada tumbuhnya kafe dan kedai kopi lain yang digerakkan dan menyasar anak-anak muda. Pada 2022, kafe dan bar di Indonesia tercatat mencetak nilai penjualan (sales value)sekitar 1,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 30,2 triliun. Pasar ini diperkirakan masih akan tumbuh hingga 3,8 miliar dollar AS pada 2026.
Hal tu dimungkinkan karena dalam piramida penduduk, anak muda mendominasi jumlah penduduk di Tanah Air. Komposisi antara generasi (gen) Z yang lahir pada 1997-2021 dan generasi milenial yang lahir pada 1981-1996 hampir setara. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, populasi gen Z mencapai 74,93 juta jiwa pada 2020 atau 27,9 persen komposisi penduduk sekaligus menjadi kelompok terbesar di Indonesia. Tepat di bawahnya ada generasi milenial yang mencapai 69,38 juta jiwa atau 25,87 persen dari total penduduk.
Mereka dengan mudah ditemukan di kedai-kedai kopi yang tersebar di banyak penjuru negeri. Keberadaannya membawa perubahan tren kopi yang begitu cepat. Banyak kafe dan kedai kopi terus bermunculan, bahkan menjamur di berbagai kota untuk memenuhi pasar kelompok dominan, yakni anak muda.
Baca juga: Pertanian Kopi Berkelanjutan Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Salah satu sudut tempat nongkrong anak muda bernama Kopi Djoeang di Jalan Pembangunan, Jayapura, Papua, saat membuat sajian untuk pelanggannya, Kamis (30/9/2021).
Anak-anak muda bahkan rela mengeluarkan 3-6 persen pendapatannya per bulan untuk mengonsumsi kopi. Sebab, komoditas itu telah menjadi bagian dari gaya hidupnya.
Baca juga: Minum Kopi ala Generasi Milenial, Kok Repot!
Sekar Kinasih yang akrab disapa Kinkin (27), seorang karyawan swasta, mengatakan, kopi telah menjadi alat untuk bersosialisasi. Baginya, kopi tak hanya sekadar menyeruput minuman, tetapi bisa dimaknai lebih dalam. ”Akhir-akhir ini, sepertinya kata ‘ngopi’ sama dengan nongkrong meski kita enggak selalu pesan kopi. Ketemu dengan orang-orang juga di coffee shop,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (21/10/2023).
Perjumpaan dengan sesama di kedai kopi dinilainya dapat diterima seluruh kalangan ketimbang bertemu di bar. Kedai dinilai lebih ”ramah” sehingga kopi memang cocok jadi kawan bersantai.
Akhir-akhir ini, sepertinya kata ‘ngopi’ sama dengan nongkrong meski kita enggak selalu pesan kopi.
Hampir saban hari, ia berangkat kerja ditemani segelas kopi dan roti. Rata-rata, Kinkin menghabiskan minimal Rp 100.000 per pekan untuk mengonsumsi kopi. Tak heran, pengeluarannya berbelanja kopi berkisar 5-6 persen dari pendapatannya per bulan.

Andi sedang menyiapkan kopi pesanan di warung kopinya di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat, Rabu (24/2/2021).
Kecintaan Kinkin terhadap kopi dipengaruhi pula oleh lingkungan pertemanannya selama ini. Ia juga bergaul dengan barista sehingga menambah pengetahuannya tentang kopi. Baginya, kopi sebagai budaya sekaligus menunjukkan nilai diri seseorang di hadapan orang lain.
Sebagai contoh, seseorang yang minum kopi bermerek internasional dirasa dapat meningkatkan kepercayaan diri dan gengsinya ketika dilihat sesamanya. Selain itu, kopi bisa jadi medium seseorang untuk bersosialisasi.
Hal senada diutarakan karyawan swasta lainnya, Charolina Septiayuka (27). Kopi telah menjadi bagian hidupnya karena mampu mendongkrak energinya. Penyuka kopi americano ini mencari kafein dalam tiap gelas yang diseruputnya. Produk ini juga telah mengakar dalam kehidupan sehari-harinya.
”Sudah jadi kebiasaan kalau tiap hari beli kopi. Kalau enggak beli kopi, ada yang kurang, rasanya aneh banget enggak ada tentengan,” kata Yuka.
Baca juga: Kopi Spesialti, Mandailing, dan Perempuan Legendaris
Dalam sekali transaksi, ia merogoh kocek berkisar Rp 20.000 hingga Rp 60.000 per gelas. Ia bisa mengonsumsi kopi 1-2 gelas per hari.
Kafe kopi pun menjadi erat dengannya sebagai pekerja. Kesempatan bekerja dari mana saja yang diterapkan kantornya memberi kesempatan dirinya untuk bekerja di kafe. Selain itu, kafe juga menjadi tempat untuk berdisuksi dengan klien-kliennya.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2021%2F11%2F12%2Fa209eecd-d293-4b03-b791-128e0f7f2251_jpg.jpg)
Jeany Simatupang, mahasisiwi Universitas Diponegoro, tengah menyelesaikan tugas kuliah dan pekerjaan paruh waktunya dari sebuah kedai kopi di bilangan Bintaro, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (12/11/2021).
Gelombang ke-4
Moelyono Soesilo dalam bukunya bertajuk ”Kopi Kita: Geliat, Hype, dan Karut-marut Masalahnya” mengatakan, banyaknya kedai kopi instagramable dan kekinian sejak lima tahun terakhir adalah hasil perubahan tren kopi.
”Saat ini, kebanyakan penikmat kopi adalah kaum milenial, begitu pula pemilik kedai kopi banyak yang berasal dari kaum milenial. Maka, tak heran bila kaum milenial dianggap telah mewarnai, bahkan mendominasi tren kopi di Indonesia,” tuturnya.
Anak-anak milenial ini pun disebut sebagai penggerak perkembangan kopi gelombang ke-4. Moelyono, dalam buku yang sama, menyebut, gelombang pertama adalah saat kopi yang dikemas dalam kaleng berukuran sekitar 1 kilogram. Kemudian, berkembang jadi kopi saset atau kopi instan. Konsumen dapat menyeduh kopi dengan cepat dan mudah.
Gelombang kedua terjadi karena cita rasa kopi instan di bawah ekspektasi, penikmat kopi mulai memperhatikan kualitas rasa kopi. Akhirnya, kopi instan bergeser jadi kopi berbasis espresso. Dalam tahap ini, bisnis kedai kopi mulai tumbuh, bahkan menjamur. Profesi barista juga mulai dilirik, serta berperan mengedukasi konsumen sekaligus memasarkan produknya.
Adapun gelombang ketiga adalah situasi ketika konsumen ingin tahu cerita di balik kopi yang diseduh, mulai dari tangan yang menanam, memanen, menyangrai, dan eksplorasi keunikan karakter kopi. Inilah fase ketika konsumen mengapresiasi kopi.
Dikutip dari Statista, gelombang 4 terjadi saat paparan terhadap tren konsumsi internasional telah membuat anak muda Indonesia menciptakan kopinya sendiri dengan cita rasa lokal. Cabang kedai-kedai kopi lokal berhasil menggeser merek-merek internasional.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F09%2F30%2F8a42a9fe-73e6-4b2f-8689-6265cedf12b2_jpg.jpg)
Barista bekerja di konter gerai kedua Kenangan Coffee di Singapura yang dibuka di Terminal 2 Bandara Changi, Selasa (26/9/2023).
Kopi kini dikemas dengan beragam bentuk. Pilihan rasanya juga bervariasi, mulai yang pahit hingga manis karena campuran susu atau gula aren. Harga yang terjangkau membuat kopi bisa dinikmati siapa saja dari beragam kalangan.
Kedai kopi lokal pun mampu bersaing dengan merek-merek internasional. Sebut saja Filosofi Kopi, Anomali Coffee, dan Djournal Coffee yang banyak digandrungi anak muda. Selain menyediakan tempat yang nyaman untuk bercakap, kedai-kedai ini menawarkan beragam menu kopi, antara lain espresso, caffee latte, dan kopi tubruk.
Pertumbuhan kedai-kedai kopi berbanding lurus dengan kemunculan beberapa perusahaan rintisan (start-up)yang bergerak di bidang ini. Kopi Kenangan, misalnya, mengantongi pendanaan hingga 333 juta dollar AS. Dengan menu unik, seperti Kopi Kenangan Mantan dan Teman Cerita Berdua, jadi upaya untuk menggaet konsumen. Campuran kopi dengan gula aren jadi ciri khas merek ini.
Baca juga: Sublimasi Kopi, dari Menyakitkan Menjadi Menyenangkan
Metode berjualan perusahaan-perusahaan ini berbeda-beda. Ada yang menerapkan grab and go, yakni konsumen memilih untuk memesan, kemudian menyeruputnya di tempat lain, tetapi ada juga yang memanfaatkan metode jemput bola.
Hal ini dilakukan Jago Coffee yang menjajakan kopi-kopinya dengan gerobak sepeda. Dengan gerobak merah, para pedagang biasanya mengenakan seragam berwarna hitam dan merah. Mereka dapat ditemui di tempat-tempat umum, seperti stasiun dan jalan raya. Ada yang menjajakan sendiri, tetapi tak sedikit pula yang bergerombol.

Komunitas Sepengopian Cirebon Raya memberikan 150 gelas kopi susu dan 2 kilogram bubuk kopi kepada petugas di posko koordinasi penanganan Covid-19 di Public Safety Center (PSC) 119, Kota Cirebon, Jawa Barat, Senin (6/4/2020).
Masa depan cerah
Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Irfan Anwar menilai, industri kopi terus bertumbuh diikuti dengan konsumsi domestik yang bertambah. Konsumsi negara-negara maju bisa mencapai 7 kilogram (kg) per kapita, tetapi Indonesia masih berada pada kisaran 1,7 kg per kapita.
”Memang, ketergantungan terhadap kopi di negara ini berkembang makin tinggi,” katanya.
Industri kopi ini memiliki masa depan yang cerah. Kopi-kopi Indonesia telah dieksor ke lebih dari 100 negara. Sejauh ini, belum ada tanda-tanda harga kopi akan turun. Angka produksinya masih serupa, tetapi permintaan terus meningkat.
Masyarakat sekarang mengakui bagusnya kualitas kopi Indonesia. Nilainya jauh lebih mahal dibandingkan dengan kopi Vietnam dan Brasil.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2018%2F08%2F29%2F142abbe7-e270-4381-a75d-6f5e2c55d1c9_jpg.jpg)
Pedagang menambah stok biji kopi di Toko Dunia Kopi, Pasar Santa, Jakarta Selatan, Rabu (29/8/2018).
Hidupnya fenomena ini tak lepas dari apresiasi yang terus meningkat pada ragam kopi. Kopi tak lagi dianggap sebagai komoditas, tetapi juga sebuah industri.
Menurut Deputi Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Ni Made Ayu Marthini, banyak anak muda yang kini melihat kopi bukan sebagai penyedia pekerjaan sampingan, melainkan murni industri. Mereka terlibat dalam ekosistem kopi, antara lain sebagai barista dan pemilik kafe.
Banyak anak muda yang kini melihat kopi bukan sebagai penyedia pekerjaan sampingan, melainkan murni industri.
”Sekarang anak muda sadar dengan kopi Indonesia yang bagus dan dicari di seluruh dunia dengan merek besar dan kopi premium. Apresiasi itu terjadi,” ujarnya.
Selain itu, kopi tak hanya dilihat sebagai komoditas. Anak-anak muda turut membina petani kopi, memanfaatkan kebun menjadi tempat wisata. Ekspor juga mulai tampak meski tak besar, tetapi mitra asing itu ada.

Deputi Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Made Ayu Marthini.
Kedai-kedai kopi kini juga banyak mempromosikan kopi single origin dalam menu hariannya. Artinya, kopi tersebut memiliki identitas khas menurut daerah atau kebun kopi tertentu. Beberapa di antaranya berupa Aceh Gayo, Toraja, dan Sumatera Mandailing.
”(Hal) yang bagus dari anak muda ini, mereka tahu pasar, tahu tren, dan tahu brand,” kata Made.
Demam kopi tak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga di tingkat kota dan kabupaten. Apabila ekosistem kopi ini bisa dioptimalkan, hasilnya pun maksimal. Kafe-kafe lokal dapat menggerakkan kopi-kopi Indonesia. Sebab, permintaan pasarnya ada. Hal ini mendorong petani atau pemilik lahan untuk berkompetisi yang dipicu tekanan pasar.
Fenomena ini bisa berdampak baik dari hulu hingga hilir. Meski demikian, perubahan iklim menjadi tantangan tersendiri industri kopi utamanya di hulu. Di sinilah kreativitas para pelaku usaha diuji. ”Sumber-sumber daya perlu ditambah, petani terus diedukasi guna menjamin harga tetap sesuai,” kata Made.
Baca juga: Mengenalkan Kopi Indonesia ke Mancanegara