logo Kompas.id
EkonomiBisnis Perdagangan secara...
Iklan

Bisnis Perdagangan secara Elektronik Semakin Ketat

Ketidakpastian ekonomi global membuat aliran investasi ke sejumlah perusahaan e-dagang seret berujung pada pemangkasan karyawan sampai penutupan operasi perusahaan. Namun, potensi e-dagang di Indonesia tetap prospektif.

Oleh
MEDIANA
· 3 menit baca
Kesibukan pekerja di gudang Lazada di kawasan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (12/11/2019). Gudang seluas 30.000 meter persegi ini memiliki kapasitas penyimpanan 2 juta dari kapasitas total 7 juta-8 juta barang dan diklaim terbesar di kawasan Asia Tenggara. Pada hari diskon festival 11.11, diperkirakan terjadi peningkatan penjualan di platform e-dagang Lazada hingga 300 persen dibandingkan tahun 2018.
KOMPAS/PRIYOMBODO (PRI)

Kesibukan pekerja di gudang Lazada di kawasan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (12/11/2019). Gudang seluas 30.000 meter persegi ini memiliki kapasitas penyimpanan 2 juta dari kapasitas total 7 juta-8 juta barang dan diklaim terbesar di kawasan Asia Tenggara. Pada hari diskon festival 11.11, diperkirakan terjadi peningkatan penjualan di platform e-dagang Lazada hingga 300 persen dibandingkan tahun 2018.

JAKARTA, KOMPAS — Bisnis perdagangan secara elektronik atau e-dagang di Indonesia semakin ketat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Sejumlah lokapasar, baik yang di Indonesia maupun global, memberhentikan sebagian karyawannya. Namun, diperkirakan konsumen e-dagang di Indonesia akan tetap tumbuh.

Bisnis terkait e-dagang, yakni JDL Express Indonesia, yang merupakan bagian dari lokapasar JD.ID, telah resmi berhenti beroperasi sejak Minggu (22/1/2023). Penutupan bisnis JDL Express Indonesia semakin menguatkan rumor JD.ID akan berhenti beroperasi di Indonesia. Sebelumnya, JD.com selaku pemegang saham utama JD.ID dikabarkan akan hengkang sebagai pemegang modal di JD Indonesia dan Thailand.

Editor:
ARIS PRASETYO
Bagikan