FotografiKlinik FotoKebijakan Redaksional dalam...
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN (HAS)
Bebas Akses

Kebijakan Redaksional dalam Foto Jurnalistik

Foto jurnalistik harus tampil apa adanya. Foto yang didapatkan di lapangan harusnya steril dari ”editing” yang berlebihan. Itu dilakukan demi kesahihan dan kejujuran informasi.

Oleh
WISNU WIDIANTORO
· 5 menit baca

Berakhirnya Orde Baru dan bergulirnya orde Reformasi membuat media massa di Indonesia mengalami kemerdekaannya. Media massa tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Sejatinya kemerdekaan atau kebebasan pers tersebut bukanlah tujuan utama, melainkan lebih sebagai sarana. Bukan sebagai sarana yang memperbolehkan media massa berbuat semaunya, melainkan sarana untuk memberikan informasi yang sahih bagi masyarakat.

Sudah selayaknya media massa, termasuk harian Kompas, menyampaikan informasi yang benar. Informasi yang benar dan tepercaya memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, bangsa, dan negara. Dengan informasi yang benar, penikmat informasi dapat memahami suatu peristiwa atau fenomena sehingga mereka dapat merespons aneka peristiwa dengan tepat.

Dalam menjalankan fungsinya sebagai pembawa informasi yang sahih dan dapat dipercaya, sejak awal Kompas memegang teguh prinsip jurnalisme baik dan berkualitas. Mewujudkan jurnalisme yang baik salah satu caranya dengan menegakkan kode etik jurnalistik bagi wartawan di lapangan dan di rangkaian proses produksi berita dan koran, tentunya sesuai dengan kebijakan redaksi yang dipegang oleh Kompas.

Mustawan, loper koran, yang selalu menawarkan koran <i>Kompas</i> di jembatan penyeberangan orang Ratu Plaza, Jakarta Pusat, Jumat (3/7/2020).
Kompas

Mustawan, loper koran, yang selalu menawarkan koran Kompas di jembatan penyeberangan orang Ratu Plaza, Jakarta Pusat, Jumat (3/7/2020).

Di Kompas, kode etik jurnalistik harus dipegang teguh sejak awal, dari perencanaan, peliputan, penulisan, proses editing, hingga penataan halaman. Begitu juga dengan peliputan yang dilakukan oleh pewarta foto Kompas. Sejak di lapangan dipastikan bahwa suatu kejadian benar-benar ada dan tidak direkayasa atau di-setting, kecuali untuk foto-foto profil orang dan ilustrasi tulisan. Untuk foto jenis ini, pewarta foto diperbolehkan untuk mengatur gaya dan properti saat pemotretan profil orang, tentunya sesuai dengan norma yang berlaku.

Sementara untuk foto-foto peristiwa, pewarta foto Kompas di lapangan tidak diperbolehkan untuk melakukan rekayasa peristiwa atau mengubah foto asli yang didapatkan di lapangan. Sama seperti media massa pada umumnya, proses editing di lapangan yang boleh dilakukan hanya sebatas editing minor, seperti cropping, sedikit menambah dan mengurangi kecerahan foto. Hanya sebatas itu yang diperbolehkan diubah di lapangan.

Untuk dapat mewujudkan orisinalitas foto yang dikirim dari lapangan, Harian Kompas hanya membekali wartawan fotonya dengan perangkat lunak Fotostation (FS). Tidak seperti Photoshop yang sangat powerfull untuk proses mengedit foto, aplikasi FS lebih menekankan pada penambahan kelengkapan metadata suatu foto.

Baca juga: Mewakili Mata Pembaca di Lapangan

Tangkapan layar aplikasi Fotostations dan kolom-kolom metadata foto yang bisa diisi oleh wartawan foto di lapangan.
ARSIP KOMPAS

Tangkapan layar aplikasi Fotostations dan kolom-kolom metadata foto yang bisa diisi oleh wartawan foto di lapangan.

Perangkat FS ini berbasis manajemen pengarsipan sehingga yang lebih ditekankan adalah kelengkapan metadata sesuai standar global yang ditetapkan organisasi IPTC (International Press Telecommunications Council). Lewat perangkat ini, fotografer dapat menuliskan berbagai macam data tanpa mengubah foto. Data tersebut antara lain caption, tanggal, dan lokasi pemotretan, judul, kredit foto, kategori foto, dan lain-lainnya.

Oleh karena itu, FS sangat minim fitur pengolahan foto. Prosedur ini menjadi bagian antisipasi agar pewarta foto di lapangan tidak melakukan manipulasi. Selain untuk menjaga orisinalitas foto batasan editing minor bagi yang di lapangan, hal itu juga untuk memperlancar proses produksi koran. Sampai di sinilah batas tugas dan kewenangan pewarta foto di lapangan.

Baca juga: Penyelundupan Kartu Memori

Tangkapan layar aplikasi Fotostations dengan fasilitas editing foto yang sangat minim jika dibandingkan degan aplikasi Photoshop.
ARSIP KOMPAS

Tangkapan layar aplikasi Fotostations dengan fasilitas editing foto yang sangat minim jika dibandingkan degan aplikasi Photoshop.

Selanjutnya, foto yang masuk ke newsroom media menjadi tanggung jawab dan kewenangan editor foto. Dalam keseharian, editor foto berkoordinasi dengan editor lain dan unsur pimpinan redaksi untuk menentukan dan memilih berita serta foto yang akan dipublikasikan. Semua konten berita dan foto yang dipublikasikan sudah melalui pembahasan rapat editor sesuai kebijakan redaksi.

Dalam proses produksi koran, terdapat satu bagian, yaitu penyelaras visual (adjuster), yang bekerja di bawah penyelia editor foto. Adjuster bertugas mengolah dan menyelaraskan tampilan dari file digital untuk dapat tampil layak saat dicetak di halaman koran.

Di bagian adjuster inilah editing foto dilakukan sebelum dipasang di dummy koran yang nantinya akan dicetak. Sebelum dikirim ke adjuster, editor foto yang memilih harus menentukan cropping fotonya. Sedangkan terkait dengan penyesuaian kecerahan dan warna dengan spesifikasi mesin cetak koran, editor memberikan kepercayaan penuh kepada adjuster.

Dalam beberapa hal, adjuster foto juga terkadang diminta editor foto untuk memburamkan bagian foto. Beberapa bagian foto yang terkadang diburamkan seperti nomor identitas kependudukan (NIK), pelat nomor kendaraan, aktivitas merokok, anak-anak korban kekerasan, tindakan kekerasan, kebencian, orang yang berdarah-darah, dan jenazah. Pemburaman ini sejalan dengan kaidah kebijakan Redaksi Harian Kompas. Pemburaman itu dilakukan karena memang tidak ada foto lainnya yang bisa dipilih untuk naik cetak di koran. Selain itu, pemburaman juga dilakukan dengan hati-hati sehingga tidak menghilangkan inti cerita dari foto yang diburamkan.

Namun, pemburaman itu tidak berlaku mutlak atau saklek. Beberapa kali harian Kompas melanggar kebijakan redaksi dengan memuat foto yang seharusnya tidak bisa ditampilkan. Salah satu contohnya adalah foto tumpukan jenazah korban tsunami Aceh 2004 yang tampil menjadi headline di halaman 1. Dahsyatnya tsunami yang menimbulkan banyak korban jiwa di Aceh itu tergambar jelas lewat satu foto karya Agus Susanto tersebut.

Tangkapan layar arsip berita <i>Kompas</i> yang memuat foto tumpukan jenazah korban tsunami Aceh yang dimuat di halaman 1.
ARSIP KOMPAS

Tangkapan layar arsip berita Kompas yang memuat foto tumpukan jenazah korban tsunami Aceh yang dimuat di halaman 1.

Tangkapan layar arsip berita <i>Kompas</i> yang memuat foto foto jenazah korban tragedi terowongan Mina, Arab Saudi, pada 2004 yang dimuat di halaman 1.
ARSIP KOMPAS

Tangkapan layar arsip berita Kompas yang memuat foto foto jenazah korban tragedi terowongan Mina, Arab Saudi, pada 2004 yang dimuat di halaman 1.

Proses pemburaman dilakukan untuk membuat foto sejalan dengan kebijakan redaksi yang selama ini dipegang. Untuk hal-hal kecil, seperti foto kerumunan orang yang terdapat orang merokok, kebijakan pemburaman bisa dilakukan atas permintaan editor foto. Namun, untuk foto headline halaman 1 atau foto liputan khusus, pemburaman dilakukan berdasarkan hasil rapat redaksi yang digelar setiap sore.

Selain pemburaman, harian Kompas juga melakukan penghilangan latar belakang foto atau biasa disebut ”konturing”. Proses ini juga dilakukan oleh adjuster foto atas permintaan editor foto ataupun petugas tata letak koran. Tentunya permintaan itu disesuaikan dengan perwajahan halaman koran.

Di harian Kompas, adjuster foto mempunyai peran yang sangat vital dalam proses pembuatan koran. Bagus tidaknya foto di koran sangat tergantung dengan ”kecanggihan” mereka. Mereka yang berhak melakukan cropping, menyesuaikan warna, menghilangkan latar belakang, dan memburamkan bagian foto. Namun, semua itu harus sepengetahuan editor foto atau perintah dari rapat redaksi dan tentunya tidak mengubah inti pesan dari foto yang ditayangkan.

Baca juga: Dejavu

Tangkapan layar arsip berita <i>Kompas</i> yang memuat foto Gayus Tambunan menonton pertandingan tenis di Bali. Ini merupakan pemuatan foto pertama pada Selasa (9/11/2010). Foto ini sendiri diabadikan pada Jumat (5/11/2010).
ARSIP KOMPAS

Tangkapan layar arsip berita Kompas yang memuat foto Gayus Tambunan menonton pertandingan tenis di Bali. Ini merupakan pemuatan foto pertama pada Selasa (9/11/2010). Foto ini sendiri diabadikan pada Jumat (5/11/2010).

Tangkapan layar arsip berita <i>Kompas</i> yang memuat foto Gayus Tambunan menonton pertandingan tenis di Bali. Ini merupakan pemuatan foto kedua pada Rabu (10/11/2010).
ARSIP KOMPAS

Tangkapan layar arsip berita Kompas yang memuat foto Gayus Tambunan menonton pertandingan tenis di Bali. Ini merupakan pemuatan foto kedua pada Rabu (10/11/2010).

Itu dari sisi editing, di sisi lain suatu foto yang diperkirakan akan menimbulkan pro dan kontra terkadang harus ”rela” ditunda tayangnya untuk memastikan kebenaran suatu informasi. Dalam kasus ini, foto Gayus Tambunan menyaksikan kejuaraan tenis di Bali bisa menjadi contohnya. Foto karya Agus Susanto ini harus tunda tayang untuk memastikan kebenaran bahwa yang difoto tersebut adalah benar-benar Gayus Tambunan, tersangka kasus suap dan mafia pajak yang saat itu ditahan di rumah tahanan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok Jawa Barat. Begitu kepastian didapatkan, foto Gayus terbit menyertai berita terkait izin keluar rutan Gayus.

Secara garis besar, dapat dikatakan kerja wartawan foto di lapangan hanyalah sebatas memotret dan mengolah minor agar dapat mudah dikirim ke ruang redaksi. Sebelum dikirim tiap foto juga harus dilengkapi metadata dan keterangan foto untuk memudahkan pengarsipan. Proses selanjutnya itu sudah menjadi ranah produksi dibawah kewenagan editor sesuai kebijakan redaksi.

Memuat data...
Memuat data...